Blogging & Writing

Ya, Saya Bangga Jadi Blogger

Lulusan kumlot dengan IP 3,7 memilih jadi blogger? Memang apa asyiknya dunia tulis-menulis di blog ini?

Saya tahu persis, keputusan untuk berhenti bekerja dari perusahaan besar di Jakarta ataupun meninggalkan bisnis yang tampak sangat menggiurkan, membuat orang-orang terdekat saya, seperti Ibu dan suami, menjadi kecewa.

Saya juga tahu persis, bahwa kebanggaan yang berputar di lingkaran keluarga besar saya, berada di tangan para pekerja kantoran, PNS ataupun pegawai swasta dengan gaji selangit. Lalu, apakah memang sedemikian menjanjikannya hingga membuat saya meletakkan semua titel yang ada, untuk terus menempa diri di dunia ngeblog?

Perkenalkan saya Inna, anak bungsu dari 6 bersaudara, yang sudah jatuh cinta dengan dunia menulis beberapa bulan setelah menstruasi pertama saya. Yang menemukan surga di balik dunia blogging.

Awal Mengenal Dunia Menulis

“Tulis wae, Na”, begitu ucap Bapak saat saya yang mulai menginjak SMP, yang makin cerewet, makin banyak bercerita.

Entah energi apa yang hadir dari ucapan Bapak tersebut, hingga saya akhirnya mulai menulis. Dari lembaran-lembaran di buku diary yang sekarang raib keberadaannya, saya memulai mengenal makna menulis. Ya, kegiatan rutin sepulang sekolah, untuk meluapkan segala rasa dan asa.

Hwaaa dia minta tisu coba!”. “Dia suka kamu juga mungkin, Na”. Beginilah beberapa kutipan konyol yang tercatat dalam diary. Buku harian yang bukan hanya berisi tentang cerita suka, gembira dan jatuh cinta, tapi juga tumpahan marah, kekesalan, hingga tangisan pun melengkapi buku beratus-ratus halaman dengan gembok manis diluarnya.

Bapak adalah sosok paling inspiratif dalam hidup saya, beliau rutin menulis dalam agendanya, hampir tiap hari. Tiap saya bangun jam 2-3 pagi, selalu menemukan Bapak yang duduk di meja kerjanya, asyik menulis segala cerita. Kadang ada gurat senyum di wajahnya, kadang keningnya berkerut hebat seperti sedang berpikir hal yang sangat pelik.

Kalau Bapak masih ada hari ini, barangkali beliau akan belajar tentang blog. Menulis di blog. Ya, tulisan Bapak yang cenderung romantis dan puitis, pasti bisa membuai banyak pembacanya. Sayang, semasa hidup, selain belum ada blog, Bapak juga hanya menulis untuk dirinya sendiri, tercatat rapi dengan tulisan halusnya yang menawan.

Dari Bapaklah, saya mengenal dunia menulis. Dari Bapaklah, saya benar-benar merasakan bahwa menulis memang bukan segalanya dalam hidup, tapi ternyata menjadi salah satu elemen yang menguatkan hidup.

Ketertarikan Dengan Blog

Berada di jaman serba digital, membuat siapapun lebih mudah mengekspresikan dirinya. Bisa melalui tulisan, video, gambar, dan aneka karya menarik lainnya. Sejak mulai mengenal blog tahun 2005 saat masih bekerja di salah satu TV swasta di Jakarta, saya pun ikut trend tersebut. Tulisannya masih berupa curahan hati atau sekedar rangkaian puisi yang saya pun kurang yakin, apakah benar-benar berisi ataupun hanya basa-basi. Pun hari ini, saya sudah lupa nama blognya.

2 tahun berlalu, menikah dan punya anak, cerita anak dari mulai masa melahirkan hingga mendidiknya, saya tuangkan dalam blog yang waktu itu masih gratisan. Sayang, karena tergiur untuk mendapatkan uang lebih cepat dan segala macamnya, saya menjajal bisnis, yang which is setelah saya tekuni bertahun-tahun, ternyata ini bukan passion saya sesungguhnya. Maka mulailah saya menulis di blog lagi di sepertiga terakhir tahun 2018.

Setelah kembali ngeblog, saya seperti menemukan keseimbangan hidup. Yin dan Yang. Mampu memberikan kesejukan, di saat lain juga mampu memberikan kehangatan. Ngeblog membuat hidup lebih hidup, menjadi refleksi sekaligus terapi dan sering kali menemukan solusi di tengah-tengah menulis curcolan.

Menulis di Blog atau Media Sosial?

Media sosial, buat saya, lebih ke sesuatu yang instan dan cepat. Tidak bisa dipungkiri juga, kalau medsos juga membantu alur traffic ke blog. Kadang perlu update status dengan menunjukkan identitas sebagai seorang narablog atau blogger, tentu dengan share link postingan blog.

Intinya, untuk era digital sekarang ini, blog dan media sosial saling melengkapi. Tidak bisa berdiri sendiri-sendiri. Bahkan tidak menutup kemungkinan, jalur pekerjaan bisa berasal dari dua arah tersebut. Bahkan dari beberapa job review yang saya dapatkan, hampir semuanya mensyaratkan kualitas media sosial, selain blog itu sendiri. Inilah yang membuat para blogger juga tidak jarang kebanjiran job, ketika bisa merawat dan mengembangkan media sosialnya dengan baik.

Kenapa Bangga Jadi Blogger?

Sekitar tahun 2009-2011, saya sedang getol-getolnya belajar tentang SEO. Tiap mau menulis di blog, selalu melibatkan searching kata kunci terlebih dahulu. Membangun belasan hingga puluhan domain yang memang ditujukan untuk make money from blog. Tapi tidak tahu kenapa, justru cara ngeblog yang begini, membuat saya kurang nyaman, bahkan secara perlahan meninggalkan dunia blogging. Ketika saya kembali ngeblog, menulis kembali, saya merasa lebih nyaman. Kenapa? Karena saya tidak ingin inspirasi menulis saya terbebani oleh kata kunci.

Lalu, apa hal-hal yang menjadi kebanggaan tersendiri dengan menjadi blogger?

1. Sharing is Caring

Jadi seorang narablog itu wajib berbangga, karena bisa berbagi informasi menarik ke banyak kalangan. Tidak perlu muluk-muluk, cukup dengan cara sederhana dan bisa bermanfaat untuk orang-orang yang membutuhkan. Apalagi di era serba digital ini, kita bisa berbagi kebaikan secara lebih luas.

2. Making Friends

beberapa event blogger di tahun 2018 yang saya ikuti

Saya bukan termasuk orang yang mudah berteman dengan orang lain, melalui ngeblog ini, ternyata memudahkan saya untuk bisa berinteraksi dengan banyak orang dari berbagai lapisan dan background berbeda. Ternyata ini sangat menyenangkan dan menjadi kebanggaan tersendiri, terutama ketika bertemu dengan para blogger di acara-acara off air. Saya bisa belajar banyak dan menyerap energi serta semangat luar biasa dari acara tersebut.

3. Rewards & Appreciation

Teori Hierarki Kebutuhan (Abraham Maslow)
foto: en.wikipedia.org

Benar adanya, ketika dalam teorinya, Abraham Maslow mengungkapkan bahwa tingkat kebutuhan tertinggi bagi manusia adalah aktualisasi diri. Di tingkat inilah, manusia merasakan yang namanya apresiasi atas apa yang dikerjakannya. Mau kecil, mau besar. Mau sedang-sedang saja ataupun luar biasa, sebuah karya pasti punya penikmatnya masing-masing. Begitu pula dengan ngeblog, membuat saya merasa pada tingkat aktualisasi tertinggi dalam hidup.

Meski saya belum sefantastis para blogger senior yang sudah berhasil, tapi beberapa pencapaian di tahun 2018 adalah suatu hal yang sangat berarti. Seperti lolos tantangan menulis di blog selama 30 hari, bahkan ada yang sampai 90 hari. Menang lomba blog salah satu produk shampo, sebagai juara 3, terlibat dalam pembuatan buku antologi pertama, serta mendapatkan beberapa job review produk maupun jasa.

 

Resolusi Ngeblog 2019

Ya, saya bangga menjadi seorang narablog. Meski belum menjadi seorang fulltimer, but i enjoy it a lot! Menurut saya, tanggung jawab seorang narablog itu tidak mudah. Karena tidak bisa asal njeplak berbagi informasi tanpa ada data yang akurat. Bahkan punya tanggung jawab moral untuk mendidik generasi bangsa ini menjadi lebih baik, melalui tulisan demi tulisan yang terpampang di dalam blog.

1. Tetap rajin posting dan blogwalking tiap hari.

Meninggalkan blog bertahun-tahun, tanpa sadar banyak rekam jejak dalam hidup yang hilang. Momen-momen indah berasa banyak terlewatkan. Tentu saja, dengan rajin posting diiringi dengan rajin blogwalking, karena ini juga membantu saya untuk tetap keep alert, mengerti bahwa banyak tuh blogger lain yang juga aktif menulis dan berbagi!

2. Meneruskan proyek buku antologi.

Eksistensi blogger masa kini, salah satunya lewat buku antologi. Bahkan beberapa sudah berhasil menerbitkan buku solo. Karena saya sadar diri masih unyu banget di bidang ini, maka saya ingin lebih banyak melatih diri melalui buku antologi.

3. Membangun 1 blog dengan niche khusus, karena blog ini masih gado-gado isinya.

Selain blog ini, sudah mulai tumbuh 1 blog lagi dengan tema kuliner & travelling. Kenapa harus ada blog lagi? Kan bisa ditulis juga di blog yang sudah ada? Mmm, jujur ya jujur, mupeng dengan traveller blogger gitu ceritanya. Dan blog tersebut juga sebagai penguat vlog bertema sama yang sudah tayang di youtube beberapa bulan terakhir. Jadilah, biar seiring sejalan antara blog dan vlog.

4. Ikut minimal 1 lomba blog tiap bulan.

Dengan ikut lomba blog, itu membuat saya jadi banyak belajar, ngintip-ngintip cara menulis para pemenang, ngulik-ulik faktor apa yang bikin kualitas tulisan layak buat dewan juri. Minimal dengan rutin ikut lomba, saya juga sedang mempersiapkan diri untuk jadi penulis dan penutur cerita yang lebih baik.

5. Belajar ulang tentang SEO.

Tiap masa berganti, ilmu pasti selalu berkembang, termasuk SEO. Apa yang saya pelajari 10 tahun lalu, ada beberapa hal yang sama, ada pula yang berbeda. Tapi tetap ingin mempertahankan my own style, kombinasi dengan SEO tipis-tipis, dan menulis dari hati sesuai dengan tema yang saya benar-benar sreg.

Untuk saat ini, meski penghasilan juga belum seberapa dari dunia menulis maupun ngeblog, tapi inilah dunia saya, yang membuat hidup saya lebih berarti dengan banyak berbagi informasi. Iya, jadi blogger memang membuat saya happy, membuat saya bangga menjadi bagian di dalamnya.

Bangganya menjadi blogger, adalah bisa bebas berekspresi dan memberikan motivasi dalam tiap kalimat yang dirangkai, bisa memberikan influence bagi sebagian atau bahkan banyak orang untuk sama-sama berbagi kebaikan. Harapan tahun 2019 ini tentunya, tulisan saya bisa menjadi manfaat bagi para pembacanya, bisa membawa inspirasi supaya hidup kita makin peduli dan berisi.

Tetap semangat, dan mari terus berkarya, kawan!

Istantina atau lebih dikenal sebagai innaistantina, A Lifestyle Blogger asal Jogjakarta. Selain menulis, motret & yoga adalah hobby yang digelutinya. Kenali lebih dekat melalui IG: @innaistantina

55 Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *