Blogging & Writing

Writing is My Calling

“Emang bisa hidup dengan nulis”?

“Gimana caranya bisa sukses hanya dengan nulis?”

Itulah yang menghantui pikiran saya di masa lalu.

Passion besar untuk menulis pun pernah langsung patah, gara-gara seseorang bilang “Ini ceritanya kurang teratur, bahasanya gak seragam dalam tiap kalimatnya”. Padahal waktu itu saya sedang gigih-gigihnya menulis untuk sebuah novel, yang saya yakini, BAKAL LARIS!

Lalu mengenal dunia ngeblog, saya belajar menulis lebih cair, tidak terlalu kaku, tidak terlalu formal, tidak terlalu mendayu-dayu seperti jaman saya suka nulis cerpen ataupun puisi. Ngeblog malah mengingatkan saya ketika rutin nulis diary jaman sekolah dulu. Dengan bahasa apa adanya, ceplas-ceplos dan gak perlu mikir kaidah ini itu.

Iya saya suka menulis, tapi sayang saya takut memperjuangkannya.

Saya terlalu takut tidak bisa menghasilkan uang dengan nulis. Saya terlalu cemas tidak bisa membantu keuangan keluarga dengan ngeblog. Saya terlalu takut, sungguh!

Hingga satu masa, saya makin jarang nulis, makin jarang update blog, dan makin asyik mengejar sukses di bisnis online. Mulai dari jualan batik, jualan baju bayi, dan yang paling saya harapkan sekali adalah sukses di dunia MLM. Iya MLM. Bisnis yang barangkali atau malah banyak orang alergi atau males ngejalaninnya.

Kenapa saya kerjakan? Karena saya waktu itu sudah tidak tau mesti gimana, saya butuh uang, saya butuh sukses, saya takut terlewat dari sebuah kesempatan besar. Dengan sepenuh hati, saya tekuni bidang tersebut, mati-matian, bahkan bisa dibilang bonus 4-5juta perbulan hanya numpang lewat, demi membesarkan bisnis tersebut. Ya beginilah saya, ketika saya fokus dengan sesuatu, maka saya akan kerjakan sak-pol-eeeee! Gak pake koma, gak pake mikir harus istirahat, dan sebagainya.

4 tahun saya membangun bisnis tersebut, makin hari saya makin gamang. “Kamu pengen ini po Na?. “Pengen dapet hadiah jalan-jalan ke luar negeri itu po Na?”. “Pengen dapet mobil yang katanya gratis itukah Na?”.

Mmmm ternyata bukan pada keinginan masalahnya, tapi pada cara mencapainya. Jalan-jalan ke luar negeri, siapa yang gak pengen? Mobil baru, siapa yang nolak? Atau membahagiakan orang tua dan mertua, siapa yang gak mau? Tapi buat saya, bukan itu caranya. Sekali lagi, buat saya, buat saya! Karena terbukti, cukup banyak kok yang sukses di MLM tersebut dan mendapatkan apa yang mereka inginkan serta membahagiakan orang-orang tercintanya.

Saya tidak menyalahkan siapapun, tidak menyesal pernah terjun di dunia MLM, dan tidak pernah berpikir untuk mengulang waktu. Boleh saja, saya dibilang tidak gigih, tidak all out, tidak konsisten, tidak mumpuni di bidang tersebut. Tapi ketika kita ngerjain sesuatu bukan dari hati, bukan real passion kita, memangnya bisa?

Ternyata tidak, saya coba berikan apapun yang saya bisa, berapapun dana yang saya ada, bahkan tidur selalu larut malam dan mengorbankan kesehatan sendiri, terbukti tidak bisa membuat segala ceritanya menjadi indah. Sekali lagi, ini buat saya, bukan bukan Anda, buat siapapun yang membaca tulisan ini. Bukan pula untuk Bisnis MLM itu saja, tapi juga bisnis lainnya, tampak bahwa itu bukan fitrah saya.

Orang-orang  yang sudah begitu hebat di dunia bisnis boleh aja komentar, “Ya gitu ajaaa nyerah, pantes gak bisa sukses bisnisnya”. Iya saya mengerti, saya juga sering mengungkapkan kata-kata itu di tiap training bersama jaringan saya bahkan sering muncul menghiasi update status saya di sosial media. Namun, dunia menulis ini juga mengusik saya tiap hari, saat saya sedang off menuangkan segala ide melalui tulisan. “Ayo Na, nulis lagi, nuliss lagi. Isi tuh blognya”, pikiran ini selalu berkecamuk di tengah galaunya saya mengerjakan bisnis.

Istilah salah seorang rekan praktisi NLP, mas Hendri Harjanto, mungkin inilah yang disebut “Calling”. “Kalo udah calling, pasti akan dikejar ya Mba?”, begitulah ungkapnya di sebuah pertemuan singkat kami beberapa bulan lalu.

Calling itu apa? Calling atau lebih kita kenal sebagai passion, adalah sesuatu yang mungkin tampak gelap buat orang lain, tapi terlihat begitu menarik buat kita. Padahal di balik sesuatu yang gelap itu bisa jadi ada sebuah bunga cantik yang begitu indah dipandang dan sikap anggunnya mampu mendongrak banyak inspirasi.

Nyatanya, mau saya belajar bisnis ini itu, kembalinya selalu pada menulis. Dan ketika seseorang tidak sukses dalam bisnis, apakah ia seorang yang hina dina? Oh tidak sayangku, yukkk jangan sampai kita berpikiran sedemikian rupa. Manusia terlahir dengan keunikan masing-masing. Uniknya seseorang dengan orang lain, ini melekat sepanjang masa hingga akhir hayatnya.

Begitu pula dengan pilihan hidup, ada yang sukses dalam berbisnis, ada yang sukses dalam menulis, ada pula yang sukses dalam dunia kerja. Tugas kita, temukan! Penemuan passion tiap orang bisa jadi berbeda, ada yang lebih cepat, ada juga yang lebih lama. Lama bukan berarti terlambat. Lama adalah simbol penuh liku.

Saya pun termasuk yang cukup lama menemukan bahwa menulis memang nyatanya dunia saya, bisa dibilang “Writing is Me. Me is Writing”. Lewat tulisan ini, saya juga bersyukur pada Sang Maha Hidup, lewat caranya, selalu memberikan reminder ke saya, “Ayo Na, Nulis!”. Dan terus bersyukur dengan belajar bisnis, saya juga belajar bagaimana menata emosi, mengatur ritme kerja hingga disiplin dalam mengejar target. Bekal inilah yang bawa ke dalam dunia menulis, hari ini dan nanti.

Jadi temans, yuk temukan what is your true calling, your real passion? Beranikan diri aja, perjuangkan!

 

Istantina atau lebih dikenal sebagai innaistantina, A Lifestyle Blogger asal Jogjakarta. Selain menulis, motret & yoga adalah hobby yang digelutinya. Kenali lebih dekat melalui IG: @innaistantina

20 Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *