Lifestyle

Tips Merawat Anak Kucing Tanpa Induk Di Bawah Usia 1 Bulan

Jumat seminggu lalu, suami yang kebetulan pulang kerja lebih cepat, mendadak mengagetkan saya dan Sasha yang baru asyik nonton Netflix. “Sha, ada kucing kecil tuh di depan”, ujar suami saya ke anak kedua kami yang sekarang duduk di kelas 2 SD dan sangat suka kucing.

Langsunglah Sasha lari ke depan rumah, dan karena posisi rumah yang kami tinggali ini berada di pinggir jalan yang sangat ramai, bisa dibilang jalan raya tapi lebih kecil, dibilang gang juga termasuk jalan besar buat lalu lintas mobil dan motor. Otomatis ini kucing ada di pinggir jalan yang super crowded sore itu.

Tragedi Anak Kucing Masuk Got

“Bunda kucingnya yang satu deket got”, teriak Sasha. Reflek saya ambil jilbab dan ketika keluar, salah satu kucing diantara 2 kucing yang dibuang di pinggir jalan itu, masuk ke got. Seperti yang bisa ditebak, got ala-ala Jakarta, yang kotor, item, iyuhhh banget pokoknya. Selama beberapa bulan tinggal disini, saya juga lagi mikir, ini got gimana cara bersihinnya ya? πŸ™

Baiklah, kembali ke kucing, yang satu kecemplung got dan seluruh badannya udah berlumur hitam isi got, sementara yang satunya berusaha menghindar dari suara-suara bising kendaraan, dengan melipir ke bawah gerbang, dannn hampir terjepit! Bergegas suami ikut membantu mengambil kucing yang masuk got, dan saya berusaha mengambil kucing yang terjebak di antara roda-roda gerbang pagar.

Setelah dua kucing yang kami beri nama Moci & Moca ini berada di rumah selama 7 hari, ternyata sudah mulai bisa buang air di litter box, ya meski sesekali juga di kandangnya sih, xixixixi. But, it’s okey, sama lah seperti anak kecil yang belajar toilet training, butuh tahapan. Sebelumnya, saya juga pernah merawat kucing yang datang ke rumah Jogja. Ya, entah kucing siapa, ada yang tiba-tiba melahirkan di kebun, terus saya pungut dan besarkan. Β Ada yang gak bisa turun dari atas tembok, terus kami sekeluarga adopsi juga. Sebagian kucing-kucing itu ada yang akhirnya pergi lagi, karena maklum namanya kucing kampung pasti suka melanglang buana, ada juga yang diambil kakak saya karena meski kucing kampung tapi bersih dan terawat, ada pula sebagian yang sekarang menemani Ibu saya di rumah Jogja.

Pengalaman Pertama Merawat Anak Kucing Tanpa Induk

Artinya, ini adalah kali pertama saya menemukan anak kucing tanpa induk. Mana keduanya jalan pun masih ngesot, ibarat bayi masih merangkak. Masih butuh ASI ibu kucing, masih butuh bebersih pip&pup yang biasanya dijilatin langsung sama embok kucing. Duh duh duhhh piyee iki?

Apalagi kucing-kucing ini umurnya belum sebulan, karena biasanya kalo udah diatas 4 minggu seharusnya udah bisa mulai jalan tanpa ngesot, atau paling tidak udah bisa mengangkat keempat kakinya. Ini tuh, mereka berdua 2 kaki belakangnya aja masih belum kuat.

Saat saya temukan, keduanya memang benar-benar dalam kondisi kelaparan. Belum lagi siang menuju sore itu di luar rumah panas luar biasa. Terbayang mereka ketakutan di tengah deru kendaraan yang gak ada berhentinya, ditambah kehausan dan kelaparan luar biasa.

Sebenarnya, sebelum menemukan rumah sendiri (yes sekarang masih numpang dulu di Mertua :D), saya belum ada kepikiran buat merawat kucing lagi. Gimanapun ini bukan rumah sendiri kan, gak enak aja gitu, takutnya gak sesuai dengan aturan yang ada. Tapi dengan kejadian begini, di depan mata, yaaaa mana saya tega?

Uniknya, sejak kehadiran duo kucing mungil ini, malah jadi berkah tersendiri. Meski saya juga tambah pekerjaan, tapi keduanya bisa jadi teman saya ketika anak-anak sekolah dan suami kerja. Malah kadang ikutan ke sekolah jemput Ical & Sasha. Dan berita-berita baik entah kenapa berdatangan seiring dengan kehadiran Duo Mo ini, sebutan Moci & Moca πŸ˜€

Hi ini aku Moci, belakangku ada Moca ^^

Ketika saya share pengalaman menemukan dan merawat anak kucing tanpa induk ini, ternyata ada beberapa yang nanya karena mengalami hal serupa. Nah daripada saya jawab satu-persatu terus menerus, mending saya posting disini aja, minimal tambah traffic kan *uhuk*

Baiklah, jadi apa saja nih tips merawat dan memelihara bayi atau anak kucing tanpa induk yang usianya masih di bawah 1 bulan?

Hangat

Kata kunci pertama, adalah hangat. Ya segera hangatkan badannya, misal dengan masukkan ke kardus yang sudah dialasi handuk/ baju bekas yang cukup tebal. Cek kalau kupingnya dingin, artinya suhu badannya memang rendah, jadi harus kita hangatkan dulu. Biasanya angka kematian anak/ bayi kucing karena suhunya terlalu rendah ini. Ada beberapa yang ngasih saran untuk memasang lampu bolam dekat kardus, semacam kalo bayi prematur yang dimasukkan dulu ke inkubator untuk mengendalikan suhu tubuhnya. Tapi kemaren ini, saya tidak sampai pake lampu, hanya dengan memasukkan ke dalam kardus. Kardus pun saya taro di dalam rumah, soalnya kalo di luar rumah ada resiko terkena angin yang membuat makin dingin.

Bersih

Ohya, jangan lupa, saat menemukan kucing atau anak kucing, biasanya kondisinya masih kotor, ini ada baiknya kita mandikan dulu, minimal kita bersihkan. Supaya kuman dan kotoran bisa terlepas dulu dan tidak terbawa ke dalam rumah. Lebih bagus pakai air hangat. Jika tidak terlalu kotor, sebenarnya bisa cukup dibasuh sedikit/ usap seperti pakai washlap aja, tapi karena kemaren saya temukan udah dalam kondisi lumayan kotor, terutama yang masuk got, akhirnya sama mandikan. Nah, karena sempat panik dan buru-buru, dan di depan rumah itu ada keran, saya pun langsung bersihkan kotoran got yang nempel. Jadilah si kucing kedinginan kan? Hiks. Langsung saya jemur, karena masih ada panas sore hari, dan saya balut kain yang cukup tebal. Alhamdulillah survive!

Nyaman

Nyaman disini adalah tentang apa yang membuat para bayi/ anak kucing gak rewel. Ya, rewelnya anak kucing juga kurang lebih sama kok seperti bayi pada anak-anak. Ngeong-ngeong dengan begitu ributnya, itu karena 2 hal, pertama lapar, dan kedua karena pip/ pup. Lah emang kucing juga ribut ya kalo pip/ pup? Nyatanya iya, terutama kalo kardus dan handuknya basah, pasti mereka ribut, gak nyaman, usrek terus. Eitsss, jangan salah loh, kucing itu aslinya hewan yang sangat suka bersih. Jijikan gitu mereka πŸ˜€

Nyaman Dari Sisi Asupan Makanan

  1. Siapkan susu kucing anak kucing, bisa cari di petshop. Kenapa kalo susu biasa? Dari beberapa referensi yang saya baca, susu yang biasa dikonsumsi manusia ini bisa menimbulkan masalah baru buat pencernaan si kucing. Tapi kalo misal darurat, belum sempat ke petshop, bisa aja dikasihkan untuk sementara
  2. Siapkan dot untuk anak kucing. Karena masih bayi, tentu mereka juga belum bisa minum seperti kucing dewasa pada umumnya. Jadilah kita harus menyusui anak kucing. Kalau saya dengan dot khusus bayi kucing. Meski ada beberapa orang yang gak tega, karena memang awal belajar pakai dot ini ternyata gak gampang. Saya juga butuh 2-3 harian untuk benar-benar akhirnya bisa memakai dot kucing dengan benar. Belum lagi, ketika kucing berontak karena merasa ada yang aneh masuk ke mulutnya. Yes, butuh perjuangan! Tapi bisa kok asal kita terus latih! Kuncinya, harus tega demi mereka gak kelaperan!
  3. Dari beberapa literatur dan konsultasi dengan teman-teman yang sudah sering merawat kucing yang dibuang seperti Duo Mo ini, makanan padat baru bisa dikasihkan setelah usia kisaran 4 mingguan. Jadi untuk part ini, saya belum bisa bahas di postingan kali ini ya. Insya Allah, setelah mulai proses makan, saya akan ceritakan di blog ini.

Nyaman Dari Sisi BAK & BAB

  1. Pernah lihat induk kucing jilatin pant*t anaknya? Nah ini ternyata proses untuk membersihkan pip ataupun pup anaknya. Terus gimana dong kalo gak ada induknya? Berarti kita bisa bantu, dengan membasahi tisu sedikit, lalu kita usapkan ke pant*t si bayi kucing. Cara ini juga bisa memancing proses pip & pupnya, ketika kita perhatikan kok ini kucing belum buang air selama beberapa jam. Karena ketika kucing dengan kondisi dibuang seperti ini, pastilah mereka masih dalam keadaan shock, dari mulai pindah tempat & situasi berbeda hingga penyesuaian dengan asupan makanan yang baru.
  2. Setelah minum susu, biasanya 5-10 menit kemudian, kucing akan pip/ pup. Jadi, ini bisa kita langsung latih, letakkan di dalam litter box yang sudah diberi pasir.
  3. Kalo bisa, pilih pasir wangi yang bisa menggumpal. Sepanjang pengalaman saya dari 2 tahun terakhir merawat kucing di Jogja, pakai pasir wangi yang menggumpal ini malah lebih hemat, meski harga memang lebih mahal. Karena setelah kucing rampung pip/ pupnya, kita tinggal bersihkan aja area pasir yang menggumpal, lalu buang. Usahakan buang secara rutin minimal 1x sehari. Siapkan aja plastik kresek, untuk menampung kotoran kucing, lalu ganti sehari sekali.
  4. Selama menggunakan pasir wangi yang bisa menggumpal ini, tidak perlu mengganti tiap hari. Cukup buang saja bagian yang terkena pup/ pip. Dijamin deh gak bau!

Suatu hari, ada kerabat yang main ke rumah waktu saya masih tinggal di Jogja, bilang: “Kucingmu banyak Β tapi kok gak bau ya rumahnya? Aku ada teman yang punya kucing, tapi kok bau pesing dan menyengat gitu ya?”. Nah, kasus seperti ini banyak ya, mentang-mentang dipikirnya hanya hewan aja, terus kita gak perhatikan semestinya, ya pantas kalo seisi rumah ikut bau. Gimana kucing mau bersih kalo gak dilatih?

Percaya deh, melatih kucing ini selain memang perlu kesabaran, tapi kita bakal nikmatin kok hasilnya, ketika kucing dengan sadar langsung ke litter box buat pip/ pup ketika mereka merasa butuhkan. Gimana, kamu punya pengalaman nemuin dan ngerawat anak kucing tanpa induk gini jugakah? Atau pernah punya kucing yang dirawat di rumah? Share yuk di kolom komentar

Istantina atau lebih dikenal sebagai innaistantina, A Lifestyle Blogger asal Jogjakarta. Selain menulis, motret & yoga adalah hobby yang digelutinya. Kenali lebih dekat melalui IG: @innaistantina

One Comment

  • dita

    saya tuh suka nggak tega kalau ada anak kucing ditinggal/terpisah dari emboknya, apalagi yang masih bayi gitu.
    beruntungnya duo Mo ketemu ‘ibu’ yang baik.
    semoga sehat-sehat ya, duo Mo…

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *