Parenting

Anak Mandiri Makan Sendiri, Tanpa Rewel?

Sepanjang yang saya ingat, baik Ical maupun Sasha tidak pernah mengalami yang namanya rewel saat mulai belajar makan sejak balita dulu. “Ya iyalah, wong Bapak Ibuknya aja suka makan?”. Hahahaha, bisa jadi faktor ini benar adanya. Anak-anak melihat orang tuanya selalu lahap ketika makan, maka anak pun mengikuti style yang sama. Tapi apakah analisa ini benar adanya? Ataukah ada alasan lain yang membuat anak mudah ataupun susah makan? Boro-boro mau mandiri makannya, lha wong makan aja susah. Mungkin ini yang terlintas di benak atau bahkan sedang Ayah/ Bunda alami saat ini.

Pengamatan Pola Makan

Saya juga punya keponakan yang masa kecilnya dulu termasuk makannya cukup rewel. Sampai-sampai membuat kewalahan baik itu kakak ipar saya ataupun baby sitter yang dipercaya untuk merawatnya. Makan selalu diemut, ini bisa bermenit-menit bahkan berbelas menit hanya untuk 1 suapan. Sepanjang yang saya ketahui, kakak saya maupun kakak ipar, juga makan secara normal. Apa saja mau, bukan picky eaters dan lahap makan apapun. Lantas kenapa bisa terjadi pada keponakan saya yang berbeda pola makannya dengan Papa Mamanya? Nah, kalau begini berarti rumusan bahwa ketika orang tua doyan makan maka anak juga doyan makan tidak berlaku, kan?

Saya sendiri juga kurang paham mengapa bisa terjadi hal demikian. Apa mungkin karena faktor komunikasi yang kurang? Karena memang orang tua keponakan saya ini, termasuk sibuk di pekerjaannya dan menyerahkan hampir seluruh kebutuhan anak ke ART dan baby sitter di rumah. Mungkin saja. Ini hanya pengamatan pribadi saya. Bisa jadi keponakan saya ini hanya mencari perhatian ke orang tuanya? Who knows? Ada yang bisa kasih insight mungkin?

Nah, ada kasus tentang pola makan berikutnya, masih dari keponakan saya yang saat ini berusia 2 tahun 4 bulan. Saya kurang tahu persis kapan tepatnya, pola makannya adalah si ponakan saya ini selalu sambil nonton video di gadget yang disediakan, disuap oleh Bibik (baby sitternya) atau Mamanya ketika sedang tidak bekerja. Dan ini selalu dilakukan di kamar dengan pintu tertutup. Pernah saya coba untuk pancing makan bersama di meja makan, karena anaknya pun juga cukup bongsor, sudah bisa duduk di kursi, sudah bisa pegang sendok (meski belum sempurna), di otak saya ini seharusnya sudah bisa makan sendiri dan bersama-sama dengan anggota keluarga lainnya. Mmm, apa pemikiran saya terlalu kolot? Boleh sumbang ide yuk di kolom komen seputar hal ini?

Tips Melatih Anak Mandiri Makan Sendiri

Melihat fenomena yang terjadi di sekeliling saya, maka ketika punya anak sendiri, saya sebenarnya tidak terlalu ribet atau repot dalam hal melatih anak mandiri makan sendiri. Hanya memakai cara-cara sederhana yang saya yakin juga dilakukan oleh banyak Ibu yang ingin membantu anak-anaknya menjadi mandiri dalam hal makan sendiri, tanpa disuapi lagi. Apa yang akan share disini berdasar dari pengalaman pribadi jaman Ical dan Sasha masih balita, jika ada tambahan silahkan aja yuk, kita saling diskusi.

Kapan Anak Mulai Makan Sendiri?

Ketika anak sudah mampu memegang sesuatu/ barang, sebenarnya ini artinya ia sudah bisa makan sendiri. Begitu pula dengan syarat bahwa anak sudah bisa duduk juga mendukung aktivitas supaya anak belajar mandiri makan sendiri tanpa bantuan orang lain untuk menyuapinya. Setelah anak lulus ASI 6 bulan dan makan makanan tambahan, disini anak sudah mulai belajar aneka rasa makanan. Pastikan berikan porsi serta jenis makanan bertahap sesuai usianya.Β Masuk usia 12-13 bulan, anak tentunya sudah bisa mulai mengenal dan mencecap aneka rasa makanan. Di usia ini juga genggaman tangannya makin kuat, maka anak juga mulai bisa belajar makan dengan sendok.

Porsi Kecil Berulang

Saat pertama kali memberi makan ke anak, tentu saja perhatikan porsinya. Cukup porsi kecil saja, tentu beda lambung kita dengan lambung anak-anak yang masih belajar makan. Dan usahakan berulang, misal jam 7 pagi, lalu ulang lagi jam 11 siang, lanjut jam 3 sore, lalu terakhir jam 7 malam. Jadi dalam sehari, anak berkesempatan latihan makan beberapa kali. Sadar ataupun tidak, disini anak juga sebenarnya sedang belajar mandiri untuk makan sendiri begitu waktunya tiba.

Perlukah Alat Bantu Makan?

Selain mempersiapkan menu yang bergizi dan bernutrisi, kita bisa membantu proses anak-anak ketika belajar makan sendiri. Menggunakan piring, sendok, serta garpunya sendiri. Dengan memakai alat makannya sendiri, selain lebih aman dari bahannya, anak-anak juga merasa lebih nyaman karena ini adalah kepunyaannya sendiri. Jika ada dana berlebih, bisa juga dengan memakai kursi makan untuk anak, yang memang biasanya dipakai untuk anak usia minimal 6 bulan, saat anak siap MPASI. Kursi makan ini juga membantu anak untuk duduk lebih tegak, sehingga ia bisa lebih fokus memegang makanan dan mengenal cita rasa makanan yang masuk ke dalam mulutnya.

Makan itu Makan, Tanpa Aktivitas Lain

Yes, saat makan itu makan, artinya fokus dengan makanan, bukan dengan lainnya. Misal kita biasakan makan dengan nonton youtube/ tivi, maka anak tidak akan mengenal proses mengunyah dengan baik. Baginya, nonton tivi itu makan. Makan itu nonton. Ini akan berlangsung sampai ia besar. Atau ketika makan kebiasaan digendong dan diajak keliling komplek, otomatis ketika saat makan hanya di rumah, anak jadi tidak terbiasa dan malas/ susah makan.

Kotor? It’s Okey!

Ada kalanya kita bisa geregetan karena anak-anak makan belepotan, celemotan, belum lagi mengotori sebagian tempat makan karena aktivitasnya yang kadang mengacak-acak makanan. Halooo Bun, it’s okey yes! Apalagi untuk anak balita, ini adalah momentum anak untuk belajar mengenal tekstur makanan. Apalagi saat awal sekali di usia 1-2 tahunan, saat ia baru benar-benar Β actually memegang makanan baru. Pasti pengen njemek-njemek, megang makanan dengan tangannya, dilemot-lemotin ke alas makan, kursi dan meja makannya. Sekali lagi, it’s okey. Ijinkan anak mengenal makanan dengan caranya, disinilah ia merasa nyaman. Lalu seiring waktu berjalan, kita juga latih makan secara rapih dan tidak ecer-ecer.Β Kotor, it’s okey Mom, karena disinilah proses pembelajaran anak tentang makan sendiri itu dimulai.

Makan Bersama

Ini juga merupakan cara supaya anak mengenal anggota keluarga lain yang sedang makan, tanpa sadar si kecil akan mengamati cara makan orang-orang di sekitarnya. Kalau ia makan sendiri secara terus menerus, tentunya ia tidak bisa belajar secara langsung melihat orang-orang makan. Bahkan, ketika anak mulai mengecap-ngecap, ini juga merupakan tanda, bahwa si kecil udah siap makan, terutama yang sudah masuk masa MPASI. Sasha, anak kedua saya, juga baru mau benar-benar makan itu setelah lewat 7-8 bulan, tapi tiap hari setelah masuk masa MPASI di 6 bulan tetap saya latih untuk bisa makan, sekalipun masih sering tidak maunya,, belepotan, dll. It’s okey, ini artinya anak memang sedang belajar. Jangan lupa konsultasikan ke Dokter Anak, ketika anak memang benar-benar tidak mau makan ya Bun, supaya dicari solusinya bersama.

Variasi Makanan

Kita nih, kalau tiap hari makan makanan yang sama, pasti bosan kan? Begitu pula dengan anak-anak. Bahkan ini kejadian juga sama keponakan saya yang lainnya, hampir tiap hari makan menu yang sama di masa balitanya, sampai anaknya hoek-hoek muntah juga tetap disuapin Mamanya :D. Nah, artinya kita perlu variasikan makanan supaya si kecil tidak jenuh dengan makanan yang sama tiap hari.

Untuk panduan menu, saya yakin Bunda udah paling jago masalah ini, kalau saya kuncinya mengenalkan sayur, lalu buah, lalu makanan-makanan lainnya, selalu ingat sesuai dengan tahap kemampuan dan usia anak. Yang terpenting dari seluruh proses yang ada, kita berusaha tetap sabar ya Bun, karena kadang kepancing buat marah-marah ketika anak tidak mau duduk manis untuk makan makanan yang sudah kita sediakan. Yes, sabarrrrr dijamin bikin anak-anak juga nyaman saat belajar makan bahkan belajar makan mandiri secara sendiri tanpa rewel. Karena sejujur-jujurnya anak rewel ketika kita tidak bisa mengendalikan emosi kita, right? πŸ™‚

 

Istantina atau lebih dikenal sebagai innaistantina, A Lifestyle Blogger asal Jogjakarta. Selain menulis, motret & yoga adalah hobby yang digelutinya. Kenali lebih dekat melalui IG: @innaistantina

4 Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *