Reflection

Tetap Cerdas, Tetap Waras, Jelang Pilpres

“Pemilihan umum telah memanggil kita…”

Masih ingat dengan penggalan lirik lagu tersebut? Yap, salah satu lagu yang sering muncul ketika jelang pemilu. Saya kurang tahu persis sih, apakah lagu ini masih jadi soundtrack resmi dari ajang Pemilihan Umum di Indonesia. Hiyaaaa soundtrack? Terus apa dong ya istilah tepatnya? Mmm intinya lagu gitu lah ya, yang memang sengaja dibuat untuk menyemarakkan sebuah event nasional besar yang berlangsung 5 tahun sekali, yaitu Pemilu.

Barang siapa yang usianya sudah masuk di 17 tahun saat Pemilu berlangsung, tentu saja punya hak sebagai pemilih. Saya ingat benar, ketika jaman muda dulu, yaa kisaran awal-awal 20 tahunan, saya cukup menggebu-gebu bicara politik. Lah, sampai kuliah pun saya ambil jurusan Hubungan Internasional, yang gelarnya sendiri adalah SIP, yaitu Sarjana Ilmu Politik.

Sejak mulai tertarik di dunia broadcasting radio dan televisi, kok rasa-rasanya jadi males ya bicara politik di negeri ini. Bapak saya Almarhum, termasuk yang dulu tersingkir dari politik. Eh bukan-bukan, terlalu sadis bahasanya. Lebih tepatnya, Bapak juga sempat mengalami masa dimana aktif sebagai salah satu kader partai saat masih bekerja dulu. Tapi sejak ada aturan bahwa semua PNS hanya boleh memilih si warna kuning, maka Bapak jadi apatis dengan segala kegiatan politik. Beliau merasa, sudah tidak ada lagi yang bisa diperjuangkan.

Sayang, Bapak tidak sempat merasakan bagaimana gegap gempita politik Indonesia yang makin meriah, makin bebas memilih apa saja sesuai hati nurani. Inilah era saya, era dimana banyak partai, saya sendiri gak ngerti sekarang ada berapa partai. Era dimana kebebasan berbicara jadi sebebas-bebasnya. Sampai-sampai, ya gitu deh. Lupa daratan. Asal jeplak, asal percaya berita hoax, asal nimbrung di forum yang bahas pilpres.

Sikap ASAL ini nih, yang bikin saya kadang jengah lihat sosial media, terutama facebook. Yah, tapi gimana lagi, kerjaan saya di blogger juga banyak di sosmed besutan Mark Zuckerberg ini, otomatis harus tetap stay tune. Solusinya adalah UNFOLLOW! Hahaha. Kalau mau diunfriend, kok ya gak enak, wong temen sendiri, ya kan?

Pilpres 2019 yang tinggal menghitung bulan lagi ini, memang sudah dari jauh hari, sudah menimbulkan pro kontra diantara para fans berat masing-masing calon presidennya. Saya bukannya skeptis ya dengan pemerintahan ataupun apapun di negeri ini. Saya salut kok dengan kinerja Jokowi, saya juga salut dengan gigihnya Prabowo yang tetap maju kembali di Pilpres 2019 nanti.

Masing-masing punya kelebihan, masing-masing punya kekurangan. Ini yang perlu kita pelajari dan analisis benar-benar. Jangan sampai seperti membeli kucing dalam karung, begitu istilah yang sering digunakan para ahli politik.

Saya sarjana ilmu politik, tapi bukan ranah saya lah kalau bicara tentang strategi politik. Saya hanya bicara sebagai seorang blogger, ibu dan sekaligus warga negara. Yang prihatin, melihat sesama teman saling tercerai berai, gara-gara beda pilihan. Padahal jaman kuliah mereka dekat dan akrab, terus gara-gara beda pendapat siapa calon presiden yang terbaik, terus saling lah gontok-gontokkan. Ya meski itu hanya saling lempar status ataupun komentar, tapi tetap hal semacam ini “bikin panas”.

Menjaga pikiran tetap cerdas dan waras, sepertinya jadi PR besar kita semua, terutama jelang Pilpres 2019 ini. Sayang banget, event yang hanya berlangsung 5 tahunan ini, kok malah bikin skema musuh baru dalam hidup. Duh, betapa ruginya hidup masbro mbaksis!

Hidup hanya sekali, mbok mari kita berpikir cerdas dan waras, supaya situasi tidak makin memanas. Yah, mungkin ini salah satu efek euphoria setelah pernah terkekang puluhan tahun dalam masa Orde Baru, lalu ketika pintu kebebasan berbicara terbuka, semacam menjadi liar dan tak terkendali.

Kadang saya bertanya-tanya, kemana perginya naluri Bhinneka Tunggal Ika di dalam jiwa bangsa ini? Apakah sudah hilang?

Kadang saya juga berpikir, sila-sila dalam Pancasila yang dibuat begitu indahnya, apakah sudah tidak ada lagi maknanya untuk kelangsungan negeri ini?

Ini renungan saya, ini renungan kita semua, sudahkah kita memelihara otak kita tetap cerdas dan waras dalam menghadapi Pilpres 2019 nanti?

Istantina atau lebih dikenal sebagai innaistantina, A Lifestyle Blogger asal Jogjakarta. Selain menulis, motret & yoga adalah hobby yang digelutinya. Kenali lebih dekat melalui IG: @innaistantina

30 Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *