Reflection

Surat Untukmu Pa

Pa, ini anakmu, si bungsu yang kau didik tak kalah mandirinya seperti anak-anakmu yang lain.

Pa, apa kabar? Awkward gak sih nanya kabarmu Pa? Kita berada di beda dunia. Kau dalam pelukan malaikat, aku masih berada di dunia yang kadang aku sendiri senantiasa bertanya, kapan waktuku kan tiba?

Pa, udah ketemu dengan Mas Is, Mb Isnaini. dan Mb Rien di alam sana Pa? Kalian pasti sedang bersenda gurau ya. Dengan gaya khas Papa yang suka bercanda tapi di sisi lain juga bisa tegas ke kami anak-anakmu semua.

Pa, udah berapa tahun ya kau pergi? Tapi aku masih selalu ingat, caramu bicara di depan umum, caramu pidato yang begitu mempesona, caramu berpuisi yang begitu dalam. Aku juga masih ingat, kau buatkan aku selarik puisi untuk kubacakan di acara tirakatan 17 Agustusan di kompleks rumah kita di Semarang dulu.

Semarang, sepertinya saat-saat aku merasa paling dekat denganmu. Itulah kenapa aku selalu merindukan kota ini. Mungkin karena aromamu, senyummu, dan segala kenangan tentangmu tumpah di kota ini.

Suatu saat di hari minggu, kau pernah mengajakku ke Toko ADA, untuk membeli boneka Doraemon, tontonan yang selalu kau hadirkan untukku di rumah tiap minggu jam 8 pagi. Iya, di atas kursi goyangmu Pa, kau bersenandung, menonton tivi, dan menceritakan padaku beberapa hal, yang sayangnya aku tak kuasa mengingatnya semua.

Salah satu yang paling kuingat adalah ketika kau bilang, “Tulislah Na”. Pesan sederhana yang kau sampaikan padaku ketika aku sedang berada dalam titik terlalu banyak ide ataupun yang kubicarakan.

Darimu, aku belajar bagaimana pentingnya merekam jejak hidup melalui tulisan. Darimu, aku belajar, bagaimana menghadapi massa yang begitu banyak, dengan gaya bicara dan bahasa tubuh yang memukau audience. Darimu, aku juga belajar, bagaimana menjaga rumah tangga tetap manis dan harmonis.

Mungkin kau bukan tipe romantis yang bisa menunjukkan kasih sayangmu pada Mama. Mungkin kau juga bukan tipe Bapak yang siap menggendong anaknya kemana saja atau pun mengganti popoknya. Tapi aku yakin Pa, kau sayang kami semua. Kau tipe Bapak yang mungkin tidak akan pernah lagi kutemukan sosok persis sepertimu.

Sosok yang hebat dalam hal kepemimpinan di rumah maupun di kantor. Datang di kantor paling awal, bahkan sering datang bersamaan dengan para tukang sapu di kantor. Orang menghormatimu karena caramu memperlakukan mereka juga dengan rasa respek dan menghargai.

Sosok yang cakap dalam hal menulis maupun berbicara. Bahkan tulisan tanganmu yang serba tulisan halus sambung, terpatri di kertas melalui indahnya goresan tinta, sudah jarang ditemukan di masa sekarang.

Pa, andai kau masih ada sekarang, pasti kau tidak mau ketinggalan untuk ikut menuangkan tulisanmu melalui blog. Bahkan kita bisa berbincang tentang ide blog masing-masing, dan bertukar cerita tentang asyiknya petualangan hidup kita masing-masing.

Oh Pa, 13 tahun waktumu bersamaku. Terasa tak cukup. Aku rindu Pa. Tapi aku harus kuat. Kuat untuk Mawarmu, yaitu Mama. Kuat untuk Mama, Kuat untuk keluarga kita. Kuat untuk mereka, artinya juga kuat untuk diriku sendiri.

Pa, aku rindu, tapi aku tahu, aku harus terus maju, melangkah ke depan, menggapai segala asa dan citaku. Bersama suami dan anak-anakku. Andai kau mengenal mereka, kau pasti akan bangga seperti aku bangga dengan hadirnya mereka dalam hidupku.

I Miss You Pa, I Love You…

Istantina atau lebih dikenal sebagai innaistantina, A Lifestyle Blogger asal Jogjakarta. Selain menulis, motret & yoga adalah hobby yang digelutinya. Kenali lebih dekat melalui IG: @innaistantina

4 Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *