#FridayFamily,  Parenting

Stop Bullying (Part 2): Starts From Home

Setelah belasan tahun lamanya, sejak saya kena bully teman sekolah, sampai kulit terkelupas akibat cubitan yang cukup keras, bahkan bekasnya pun masih terlihat hingga saya berusia 38 tahun saat ini, nyatanya kasus-kasus serupa juga masih berlanjut. Bahkan ketika saya menulis Stop Bullying (Part 1) >> I Was One Of Them, komentar dari rekan blogger juga ternyata beberapa juga mengalami hal yang kurang lebih sama, dan momen healing yang juga butuh waktu gak sebentar.

Terlebih ketika anak saya sendiri yang mengalami hal tersebut, Ical yang sempat didorong dan dicekik kakak kelasnya, hanya karena salah paham sederhana. Atau Sasha yang dipukul teman sekelasnya beberapa kali, karena memang temannya ini melakukan hal yang sama pada seluruh teman di kelasnya.

Beberapa kali tiap pulang sekolah, Sasha suka cerita tentang salah satu temannya yang punya tanda lahir di wajahnya. Tanda lahir itu memang cukup kentara, karena besarannya cukup lebar. Hal ini, tentu saja memancing beberapa temannya di sekolah untuk mengejeknya. Bukan hanya 1 anak, tapi beberapa anak.

“Aku suka bilang ke A****, Sabar Ya”, cerita Sasha suatu hari.

Atau di hari yang lain Sasha bilang: “Kasihan Bun, A****, diejek-ejek lagi sama *****”

Ucapan Termasuk Bullying Jugakah?

Di satu sisi saya bangga dengan Sasha, karena sudah terlatih rasa empati ke temannya sejak dini. Tapi di sisi lain, saya juga gemes dengan anak-anak kelas 1 SD yang udah dengan kompaknya bisa membully teman sekelasnya. Loh kan cuman mengejek lewat ucapan aja kan? Memangnya itu namanya bullying juga?

Hallooww, yang namanya bullying itu bukan hanya berupa tindakan fisik seperti mencubit, menendang ataupun memukul, tapi ucapan pun juga termasuk. Dalam wikipedia dijelaskan, Penindasan, perundungan, perisakan, atau pengintimidasian (bahasa Inggris: bullying) adalah penggunaan kekerasan, ancaman, atau paksaan untuk menyalahgunakan atau mengintimidasi orang lain. Perilaku ini dapat menjadi suatu kebiasaan dan melibatkan ketidakseimbangan kekuasaan sosial atau fisik. Hal ini dapat mencakup pelecehan secara lisan atau ancaman, kekerasan fisik atau paksaan dan dapat diarahkan berulang kali terhadap korban tertentu, mungkin atas dasar ras, agama, gender, seksualitas, atau kemampuan. Tindakan penindasan terdiri atas empat jenis, yaitu secara emosional, fisik, verbal, dan cyber. Budaya penindasan dapat berkembang di mana saja selagi terjadi interaksi antar manusia, dari mulai di sekolah, tempat kerja, rumah tangga, dan lingkungan.”

 

Bullying Bisa Berakhir?

Good question! Gimanapun juga jika kita menginginkan bullying berakhir total, ini sepertinya hal yang mustahil. Tapi satu yang saya juga yakin, bahwa bullying ini bisa kita minimalisir, bisa kita kurangi, mulai dari diri kita sendiri.

Mengharapkan bullying lenyap dari muka bumi ini, seperti drama teater “Waiting For Godop”, mengharapkan sesuatu yang tidak pasti. Tapi dengan bergerak setahap demi setahap, at least kita bisa membuat lingkungan terdekat kita bebas bullying.

 

Starts From You, Starts From Home!

Menciptakan lingkungan bebas bullying? Yap, dari lingkungan terdekat kita, yaitu keluarga. Dari anak-anak kita, bahkan diri kita sendiri sebagai orang tua. Tidak perlu cara yang bombastis, cukup kita lakukan beberapa cara sederhana berikut ini:

1. Stop Judging

Dalam sehari berapa kali kita baik sadar ataupun tanpa sadar, judging ke anak? Yes, sikap kita yang serba *nyuruh*, *dikte* dan menghakimi anak, dari mulai anak harus apa dan bagaimana, pilihan-pilihannya, pengambilan keputusan, apakah masih kita semua yang tentukan? Utamanya anak-anak yang sudah mulai bisa mandiri, di usia jelang 6 tahun, selayaknya anak sudah mulai belajar bagaimana memutuskan sesuatu hal, at least bekerjasama melalui diskusi bersama orang tua ketika memutuskan sesuatu.

Pernah gak kita sadarin, kalo kita sering judging ke anak, maka anak akan tumbuh jadi seseorang yang *bossy*. Karena ia merasa bahwa apapun yang ia kerjakan adalah based on *suruhan*, maka ia pun akan berlaku ke teman-teman di lingkungannya. Dari mulai sikap *bossy* yang berupa ucapan hingga bertindak kasar (fisik) ke temannya demi mendapatkan apa yang ia inginkan.

2. Stop Labelling

Begitu pula dengan labelling, yaitu ketika kita memberi label ke anak, “Ah kamu kalo ini gak bisa, itu gak bisa”. Hal ini jika berlangsung terus menerus, maka anak akan merasa tertekan, dan pressure yang ia dapatkan di rumah, akan ia lampiaskan ke teman-teman di sekolah atau lingkungan sekitarnya misalnya. Dari mulai mengejek secara verbal, hingga tindakan-tindakan fisik ke temannya.

Yes, secara sederhana, terletak pada belajar saling menghargai. Dengan anak belajar tentang bagaimana mengapresiasi dari hal-hal kecil, maka ia juga akan bisa menghargai yang ada di sekitarnya, termasuk teman-temannya. Entah itu pendapat berbeda, kondisi fisik yang berbeda, dan lain sebagainya.

Jadi, sudah siap jadi agen pembasmi bullying? Artinya segala sesuatunya kita mulai dari rumah kita, keluarga kita, diri kita sendiri.

 

 

Istantina atau lebih dikenal sebagai innaistantina, A Lifestyle Blogger asal Jogjakarta. Selain menulis, motret & yoga adalah hobby yang digelutinya. Kenali lebih dekat melalui IG: @innaistantina

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *