Relationship

Stop Bullying Part 1 (I was one of them)

Ah udah basi kali ya kalo nulis tentang Bullying atau kata bakunya “perundungan“. Ya ya ya, kalo bicara kasus Audrey yang sempet heboh beberapa waktu lalu, terus macam hilang dari headline aneka media karena kalah dengan berita Pilpres 2019, secara wacana berita, bisa jadi kabar tersebut dibilang *agak out of date*. Tapi kalo kita bicara bullying dari fenomena sosial yang terjadi, hal ini akan selalu jadi topik segar.

Dalam postingan kali ini pun, saya tidak akan membahas tentang kasus Audrey yang menimbulkan pro kontra siapa benar dan siapa yang salah, tapi lebih kepada kasus-kasus bullying yang terjadi di sekitar kita. Karena ternyata, tidak sedikit, atau lebih tepatnya lebih sedikit yang berani berbicara. Bahkan orang-orang yang melihat kasus bullying di depan mata, belum tentu punya keberanian untuk melaporkan atau minimal mengungkapkan kejadian ke pihak keluarga korban bullying.

Kasus bullying yang terjadi di negeri ini, membuat saya mengingat-ingat kembali, kalau jaman SD dulu, sekitar kelas 2-3 SD, saya pernah mengalami hal serupa. Mungkin tidak segempar seperti adegan pukul, tendang, dan tindakan fisik lainnya, tapi nyatanya hal ini cukup mempengaruhi pola pikir dan psikologis saya.

Padahal, saya hanya DICUBIT. Ya, dicubit cukup keras, hingga kulit mengelupas, bahkan bekasnya pun masih ada hingga hari ini. 2 Bekas cubitan di tangan kiri yang membuat kulit saya sampai mengelupas ini, bukan hanya meninggalkan bekas luka pada tangan saya saja. Tapi saya mempengaruhi kondisi mental, dimana saya tumbuh menjadi seseorang yang tidak mudah percaya dengan orang lain. Bahkan parahnya, saya merasa ketakutan tanpa sebab ketika berada di tempat umum yang ramai, atau takut ketika harus punya teman/ sahabat. Karena dalam pikiran saya, teman itu bisa jadi menyakiti seperti saya waktu SD dulu.

Bekas Cubitan Saat Saya Masih SD

Sosok teman, ya teman yang mencubit saya, bisa dibilang kami punya hubungan cukup dekat, closely enough untuk disebut sebagai seorang sahabat. Kami sering main bersama di sekolah maupun setelah pulang sekolah. Sepanjang yang saya ingat, setiap saya bawa alat tulis baru, teman saya ini selalu memintanya, dan saya hanya pasrah tidak berani melawan.

Entah kenapa, dalam pikiran seorang Inna yang masih 7-8 tahun waktu itu tidak berani berkata tidak. Hingga hal ini berlangsung terus menerus tanpa saya memberikan perlawanan.

Puncaknya adalah ketika suatu hari saya membawa uang saku dan ia meminta semuanya. Sementara saya saat itu juga sedang ingin *jajan krupuk pasir*, maka yang tersebut tidak diberikannya. Di titik itulah, ia mencubit saya sekuat tenaga di beberapa bagian di tangan kiri saya, hingga berdarah, kulit mengelupas.

Sepanjang yang saya ingat, saya hanya bisa menangis menahan sakit. Kejadian setelahnya saya agak lupa, tapi yang saya ingat saya sudah berada di rumah. Dan ada yang marah besar. Apakah ibu saya? Saya ingat Ibu saya geram melihat anak bungsunya ini diperlakukan sedemikian rupa oleh teman sekelasnya. Tapi sekonyong-konyong adalah Mbak Nik, ia adalah pengasuh saya sejak kecil, yang begitu marahnya, lalu mengajak saya mendatangi rumah teman yang mencubit saya, karena kebetulan rumah kami tidak terlalu jauh.

Sepanjang yang saya inget pula, Mbak Nik meluapkan kemarahannya langsung ke Ibu teman saya ini, tapi saya agak samar-samar dengan apa percakapan yang terjadi waktu itu.

Yang jelas, kejadian bullying hingga ke fisik, meski hanya sekedar cubitan itu, membuat saya menjadi pribadi yang tertutup. Meski mungkin orang melihat bahwa saya bisa menguasai audience ketika sedang berbicara ataupun terlihat tampil sangat percaya diri dengan apa yang saya utarakan, tapi jauh di dalam diri saya, saya sebenarnya rapuh. In fact, hingga hari ini pun, up & down saya alami untuk membangun keping demi keping semangat, supaya tiap ada masalah dalam hal apapun, saya bisa lebih mudah terbuka dan sharing dengan orang-orang yang saya cintai, dan juga bangkit lebih cepat dari sebelumnya.

Pernah menjadi seseorang yang sangat tertutup, membuat saya tidak mudah untuk mencurahkan isi hati & pikiran dengan leluasa. Seperti ada simpul yang mengikat. Seperti ada ikatan yang begitu kuat. Seperti ada ketakutan yang kadang datang dan pergi.

Bisa terbayang, saya yang hanya mengalami bullying dengan dicubit saja, butuh waktu belasan tahun bahkan puluhan tahun, untuk menata diri dan emosi sebaik mungkin. Bagaimana dengan rekan-rekan kita yang mengalami hal lebih besar?

Meskipun tidak mudah, tapi saya terus bergerak, berusaha melakukan hal-hal yang saya sukai sebagai terapi diri. Seperti menulis, membuat karya-karya yang sesuai dengan minat bakat saya, karena inilah yang benar-benar mengalihkan segala potensi *breakdown* yang bisa muncul kapan saja.

Dengan mengucap syukur Alhamdulillah, dengan pengalaman bullying di masa kecil dulu, saya belajar banyak hal dan bisa melatih anak-anak saya, untuk belajar hal-hal luar biasa tentang kehidupan. Yes, it’s not easy, tapi saya bisa melewatinya. Saya yakin, kalau saya bisa, siapapun Insya Allah juga bisa.

Istantina atau lebih dikenal sebagai innaistantina, A Lifestyle Blogger asal Jogjakarta. Selain menulis, motret & yoga adalah hobby yang digelutinya. Kenali lebih dekat melalui IG: @innaistantina

39 Comments

      • Dhita Erdittya

        Pernah berada bertahun-tahun di fase perundungan. Dari SD bahkan sampai SMP. Alhamdulillah, kejadian menyakitkan itu seperti terblok dari ingatan. Sayang, ingatan bahagia saat kecil juga ikut hilang. Semoga hikmahnya menjadi diri kita semakin kuat ya, Mbak.

  • Hanifa

    SD tuh masa paling banyak kejadian bullying yang saya alami Mbak. Sampe pernah dulu ketemu sama temen SD yang suka bully saya, langsung recall memori2 jelek pas di-bully dia. Sampe segitunya. Huhuhu sediiih πŸ™

    • innaistantina

      nah yaa bener mba, efeknya itu memang kita jadi lebih tertutup yaaa, tapi ayoo kita terus semangattt mbaa, jangan kalah sama bullying! Bullying makes us stronger!!!

  • vika

    hum, efeknya berkelanjutan yak. Seingatku aku dibully karena pendiam, alias cuek ma orang lain.. haha pai sekarang tetep pendiaam sih. Btw ayo semangat say STOP Bullying

  • Mei

    efeknya separah itu ternyata ya Mba, semoga generasi berikutnya mendapatkan pendidikan mental yang lebih baik lagi agar generasi bangsa lebih banyak menciptakan karya yang membanggakan bangsa dan juga berprilaku lebih baik lagi

  • Elisabeth Murni

    Saat masih sekolah khususnya SMP dan awal SMA saya juga korban bullying verbal mbak. Efeknya emang terasa sampai sekarang. Kadang ada satu sisi gelap yang muncul, mendadak merasa minder. Sampai sekarang saya juga masih berjuang biar benar-benar lepas dari ingatan buruk di masa sekolah.

  • agata vera

    Mbakk itu bekass sampe sekarangg yaaampunnn, aku kemarin liat bocah sd ngebuli anak sd lain tapi terlambat si anak yang dibully udah terlanjur didorong jatuh, udah di berdarah, udah digendong emaknyaa haduhh sedih akutuuu

  • Wiwin Pratiwanggini

    Jaman SD aku juga jadi korban bullying, mba. Kekerasan fisik lho yang aku terima. Itu dilakukan oleh 2 orang temanku, laki-laki semua. Sukanya menghadang aku di jalan ketika aku pulang sekolah. Tapi aku tidak berani cerita ke orang tuaku dan juga ke guru-guruku. Hebatnya, aku tidak punya dendam sama mereka. Mungkin karena aku pemaaf ya.. ah entahlah.. Sekarang aku hanya bisa pesan ke anak-anakku untuk jangan suka jahilin teman, trus kalo ada yang jahil tegurlah mereka, gitu aja…. Sambil berdoa semoga anak-anakku tidak mengalami bullying.

    • innaistantina

      nahh, mb wiwin juga kerennn! dengan aktivitas mb sekarang juga nunjukin bahwa yang pernah dibully itu bisa bangkit, dan justru makin kuat!

  • Ardiba

    Mbak. Membayangkan dicubit sampai berdarah, itu pasti sakit banget mb. Aku aja jd kebayang2 nih, gak heran kl dirimu sampai trauma. Alhamdulillah bisa melewati trauma tsb ya mb..salut!

    • innaistantina

      yessss mb, berprosess bertahun-tahunnnn, meski ampe sekarang pun kadang masih berasa up & down, tapi kualihkan aja ke kegiatan yang memang passionku, termasuk ngeblog gini, bisa jadi one of the best healing

  • Disma

    Kalo aku inget-inget lagi, kayaknya di setiap masa aku sekolah pasti ada 1 anak yang jadi target bully-ing di kelas. walaupun bukan aku yang di-bully ataupun mem-bully, dan walaupun niatnya cuma bercanda antarteman tapi emang kerasa banget bullying itu ada si mb.

  • Nisya Rifiani

    Ak nggak nyangka lho kalau mba inna pernah jadi korban bullying dan menurutku itu parah banget yang melakukan bullying… mudah-mudahan di generasi mendatang makin berkurang lah tindakan ini, kalau bisa ya hilang…

  • Miss Riana

    Mengerikan memang… Kasus bullying memang harus diberantas. Kalau saya juga pernah, tapi kyknya ke arah fisik. Mau gak mau harus diterima, tapi emg ganggu banget secara psikis. Semoga aja anak2 zaman sekarang semakin cerdas utk menanggapi bullying.

  • Ety Abdoel

    Trauma akibat bullying emang susah mba. Aku juga ngalamin itu. Sempat rendah diri. Bahkan sampai sampai sekarang, sih.
    Untunglah mba sudah bisa lepas dari trauma itu.

    • innaistantina

      iya mb, saya juga masih naik turun, tapi dengan mengalihkan ke kegiatan yang kita suka, bisa jadi salah satu obat yang cukup menenangkan

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *