Entertainment

Sinetron, Masihkah Layak Jadi Tontonan?

Tiap ke rumah Ibu di pagi hari, suguhan yang selalu ada adalah sinetron. Iya, sinetron dengan beragam konflik dan emosi yang justru bikin gemes yang nonton. Lah, saya ikut nonton? Yaa gimana lagi? Mau gak mau lah, xixiixii.

Dulu saya juga sempat keranjingan sinetron, Masih ingat jamannya Tersanjung yang entah ampe berapa itu sessionnya? Saya hanya fokus di session pertama aja, setelah lanjut session ke-2, udah malesss nontonnya! Atau mungkin jaman Keluarga Cemara, ini termasuk sinetron bukan sih? Nah, tontonan keluarga sederhana dengan aneka cerita hidup yang dikemas manis ini, juga selalu saya tunggu-tunggu kehadirannya.

foto: tribbunews

Atau jaman-jaman sinetron saat masih ada Primus, Desy Ratnasari, dan beberapa pemain kawakan lainnya, di saat pilihan tontonan masih itu-itu aja, cukuplah untuk jadi hiburan di tengah penatnya PR dari sekolah. Meskipun radio, tetap jadi pilihan utama buat saya dibanding nonton TV. 

Sekarang, waaahh banyak bener pilihan sinetron atau saat ini berupa sajian FTV atau Film Sinetron. Saat bekerja di Trans TV dan menjadi salah satu tim kreatif di acara Wisata Kuliner Bango Nusantara dengan mendiang Pak Bondan sebagai hostnya, saya dan rekan satu tim sering cek pesaing acara di jam tayang yang sama. Seperti sudah bisa ditebak, rating acara berkualitas seringkali kalah dengan FTV pagi hari yang isinya antara mistis ataupun konflik keluarga super lebay.

Bentar-bentar, apa bedanya sinetron dengan FTV? Kalo saya gak salah tangkap, sinetron itu serial, jadi ber-seri-seri. Sementara FTV lebih berkonsep satu kali tayang lansung tamat, semacam kita nonton film gitu lah. Ya, meski ceritanya kalo diperhatikan ya 11-12, alias mirip-mirip.

Lalu kenapa sinetron & FTV tetap ada hingga saat ini, dan malah makin banyak variasinya? Dari mulai romantis hingga komedi. Tentunya sama seperti hukum jual beli, makin banyak yang nonton, maka makin banyak pula yang memproduksi acaranya.

Bagi para penggemarnya, pasti tau benar gimana sensasinya ketika nonton sinetron ataupun FTV, deg-deg-an, cemas, geregetan, bahkan ikutan bingung seperti yang dirasakan tokoh di dalam cerita. Buat saya, yang pernah bekerja di balik layar dan beberapa kali pernah bikin cerita fiksi, malah seringnya ketawa sendiri kalo liat alur cerita yang terkesan asal-asalan. Pokoke asal cerita tamat, asal emosi penonton ikut terpancing.

Sasha, anak saya yang masih kelas 1 SD, tiap Eyangnya nonton sinetron, selalu bilang, “Yang, itu kan diedittttt aja”. Hahaha ini anak rupanya menyerap apa yang sering saya sampaikan. Saya pernah bilang, banyak acara di televisi itu masuk proses editing, beberapa kisah nyata dan juga ada rekaan. Ternyata ini disampaikan juga ke Eyangnya 😀

Saya sendiri termasuk pemilih dalam hal menonton, baik acara di tv cable ataupun di tv nasional. Bisa dihitung dengan jari kok, acara-acara yang benar-benar saya suka. Mmm, sayang sekarang hanya malam hari, baru bisa punya waktu nongkrong depan tv. Inipun  kalo belum teparrr duluan karena uda ngantuk. Bisa dibilang, mencari acara yang bener-bener layak tonton ituuuu sekarang seperti mencari jarum di dalam jerami. Ehhh enggak juga sih, tapi intinyaaa makin dikit aja yang punya kualitas.

Lalu tayangan yang layak tonton itu seperti apa? Ok ini versi saya, boleh setuju, boleh enggak, boleh juga nambahin syarat-syaratnya:

Pertama, Ramah anak, alias serumah bisa ikut nonton semua. Sejak jadi emak-emak, kalo mau nonton tentu pilih-pilih, gak bisa asal. Bahkan dengan nonton bareng anak-anak itu seru banget loh. Mereka bisa nanya langsung ke saya, istilah yang belum pernah didengarnya, dan sekaligus kita bisa bahas sisi moral dan hikmah dari tontonan yang ada.

Kedua, No sadis, seperti apa? Buat saya, adegan anak geng motor yang saling cegat dan pukul-pukulan dengan emosi berlebihan, ini udah dalam kategori sadis sebuah tayangan. Kebayang kalo yang nonton adalah balita yang menyerap segala sesuatu yang diserapnya. Ngeri kan kalo dipraktekkan ke teman sekolahnya?

Ketiga, No sarkasme. Nah ini nih, yang tampak menghiasi banyak stasiun televisi negeri ini. Sepertinya bumbu paling sedap sebuah acara adalah dengan menghina lawan bicaranya. Begitu pula di banyak sinetron yang ada, seorang ibu dengan label jahat lah, paman dengan label congkak, dan sebagainy

Iya, saya tau, namanya juga hiburan ya, kalo gak dibikin lebay itu gak asik. Betul? Secara teori entertaiment bisa jadi betul-betul saja. Tapi dari teori saya sebagai seorang Ibu, yang melahirkan para penerus Bangsa ini, rasanya sedih aja gitu, kalo lagi-lagi tontonan yang punya rating tinggi adalah tontonan dengan adegan marah-marah, mata penuh melotot, ataupun saling salah-menyalahkan.

Pernah gak sih kita sadar sesadar-sadarnya, bahwa apapun yang kita tonton, kita lihat, ya itulah yang akan kita pakai untuk berinteraksi dengan orang lain baik itu di rumah maupun dalam bermasyarakat? Kalo mau ngomel ampe berbusa juga gak bakal lah bisa mengeliminasi tontonan seperti itu dari muka bumi.

Yang bisa kita lakukan adalah kontrol. Iya, kendali. Bahkan kendali itu gak jauh-jauh dari yang namanya remote. Atau kalo kita nonton melalui streaming, kendali itu ada di jari. Mau pencet apa, resikonya apa, kita yang tanggung sendiri yes 🙂

Istantina atau lebih dikenal sebagai innaistantina, A Lifestyle Blogger asal Jogjakarta. Selain menulis, motret & yoga adalah hobby yang digelutinya. Kenali lebih dekat melalui IG: @innaistantina

2 Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *