Reflection

Sesal Membawa Berkah

Sesal Membawa Berkah?

Ini kenapa judulnya macam judul FTV gitu ya? πŸ˜€

Ok ok, mari setting mode ke serius dulu, karena postingannya bisa bikin termehek-mehek

Apalagi menulis postingan kali ini, saat saya berada di atas kereta menuju Jakarta, memandangi pemandangan yang kurang lebih sama ketika saya jalani belasan tahun yang lalu, saat bolak-balik Jogja-Jakarta untuk mengejar asa, kerja di broadcasting televisi. Punya pengalaman beberapa tahun di dunia radio, tampaknya tidak membuat puas sosok Inna muda saat itu. Gak sabar pengen lulus kuliah, supaya bisa segera ke Jakarta untuk mengejar impian.

Kenapa Jakarta? Karena di kota inilah, saya melihat ketiga kakak saya sukses berkarir. Di kota inilah, saya merasa, minat dan bakat saya bisa terakomodasi dengan lebih baik. Di ibukota inilah, saya melihat potensi untuk bisa mengembangkan ide-ide di kepala.

Kenapa kerja di televisi? Ya karena ini impian seorang penyiar macam saya, Β yang penasaran gimana sih kerja di Jakarta? Udah terbayang bakalan seru dengan segala tantangan yang ada.

Hingga ketika beberapa bulan setelah lulus kuliah, saya mendapat panggilan kerja di TVRI Jakarta. Sampai di tahap wawancara terakhir dengan direksi, dan ternyata belum rejeki saya. Tapi saya gak nyerah gitu saja, ibarat kata masih ngotot lah untuk kejar impian kerja di stasiun TV Jakarta.

Gak berapa lama, ada lowongan kerja di Trans TV Jakarta, kebetulan tesnya di Atmajaya Jogja. Jaman itu, TRANS TV sering roadshow ke banyak kota untuk mencari bibit-bibit broadcaster baru, termasuk di Jogja ini. Melalui serangkaian proses dan ribuan pelamar, Alhamdulillah saya salah satu yang berhasil diterima bekerja di Trans TV.

Semangat dong pastinya! Cita-cita yang terpupuk sekian tahun, akhirnya kesampaian juga. Sebagai single waktu itu, tentunya nyaman-nyaman aja ya, kerja hingga larut malam ataupun dini hari. Hingga lamaran itu tiba, yang membuat saya dan calon suami cukup galau, gimana kalau kami menikah dengan gaji seperti waktu itu, bisa gak ya? Untuk hidup di Jakarta, cukupkah? Lalu datanglah sebuah penawaran dari seorang kerabat, untuk bekerja di perusahaannya dengan gaji 2x lipat dari kerja saya dan calon suami. Iya kebetulan kami sama-sama diterima di Trans TV di batch yang sama, yaitu di Batch V.

Pilihannya waktu itu, saya atau suami yang pindah kerja di perusahaan yang ditawarkan. Akhirnya saya yang ambil. Nah inilah salah satu keputusan yang saya sesali. Hanya berdasar pada gaji lebih besar saja saya resign dari Trans TV, padahal disitulah passion saya sesungguhnya.

Alhasil, saya gak betah kerja di tempat baru tersebut, karena memang seperti layaknya kantor formal yang tentu sangat berbeda dengan ritme kerja broadcaster televisi. Setelah berderai air mata dan aneka konflik yang muncul, saya pun resign dari perusahaan yang bergerak di perminyakan tersebut.

Yap, itulah penyesalan terbesar saya, bahkan selama sekian tahun cukup menghantui, dan menyesal bukan kepalang. Ketika merasa terpuruk, saya kadang menyalahkan diri sendiri, kenapa harus resign kerja dari Trans TV waktu itu? Padahal Allah sudah membukakan jalan begitu mudahnya ke saya, sebagai fresh graduate yang tidak butuh waktu lama untuk langsung bisa bekerja di perusahaan besar dan ternama.

Bahkan setelah punya anak pertama pun, saya masih sesekali merasa menyesal telah meninggalkan pekerjaan impian saya. Hingga kemudian, menemukan dunia blogger, kembali siaran di radio seperti kuliah dulu, hal-hal inilah yang cukup mengobati kerinduan saya saat bekerja di Trans TV.

Setelah saya cermati, semua keputusan yang kita ambil, memang menentukan nasib kita berikutnya. Dan setelah penyesalan bertahun-tahun, barulah sekitar 2-3 tahun terakhir ini, saya sangat bersyukur dengan keputusan tersebut. Jujur, kalau saat ini, saya tidak terbayang, kalau harus kerja pagi dan pulang larut malam ketika anak-anak menunggu di rumah, atau harus keluar kota berhari-hari meninggalkan si kecil yang masih di usia emas yaitu 5 tahun pertamanya.

Yes, inilah jalan hidup pilihan saya, bahagia menjadi IRT yang mengurus kedua anak saya, dari sejak lahir. Insyaa Allah, tidak ada satu hari terlewatpun saya tidak mendampingi & menjumpai perkembangan di masa 5 tahun pertama Ical maupun Sasha.

www.youtube.com/SaddhaStory

Allah memang Maha Adil, sekian tahun berlalu resign dari Trans TV, nyatanya ilmu yang saya dapatkan waktu itu, terbawa hingga hari ini. Membuat proyek vlog bareng anak-anak, dari mulai cari ide, riset lokasi, tahap syuting vlog, editing, hingga upload di youtube, adalah tahapan yang bisa dibilang 80-90% mirip dengan pekerjaan saya saat masih bekerja di stasiun televisi yang ada di jalan tendean jakarta.

Alhamdulillah, sesuatu yang awalnya saya sesali luar biasa, sekarang menjadi berkah untuk saya sekeluarga. Makin yakin, bahwa tiap keputusan itu pasti ada Allah di dalamnya, jika Allah ridho pasti terjadi. Hal ini juga yang membuat saya terus belajar, melibatkan Allah dalam tiap keputusan.

Saya juga makin bersyukur, karena Allah telah mengganti kehidupan yang lebih luar biasa, bisa tetap berkarya sesuai passion saya, cukup dari rumah, bersama dengan anak-anak. Buat anak-anak, ngevlog ini ya senang-senang, main-main seru-seruan di depan kamera sambil jalan-jalan ataupun makan-makan. Ical yang 11 tahun, sudah bisa membantu saya dalam hal editing, ini juga faktor yang sangat saya syukuri.

Iya, rasa sesak karena sesal itu biasanya akan memudar dengan sendirinya, ketika kita berada pada level syukur. Sudahkah kita?Β Apakah masih menyesal hingga sekarang? Ataukah sudah release dan menemukan hikmah di balik hal yang kita alami?

 

 

 

Istantina atau lebih dikenal sebagai innaistantina, A Lifestyle Blogger asal Jogjakarta. Selain menulis, motret & yoga adalah hobby yang digelutinya. Kenali lebih dekat melalui IG: @innaistantina

20 Comments

Leave a Reply to Hastin Pratiwi Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *