Reflection

Sepatu Untuk Ibu

Minggu-minggu terakhir ini, Ibu mengeluhkan sandal dan sepatu yang dipakainya sudah mulai rusak. Tinggal 1 pasang, dan itupun sudah mulai tidak nyaman dikenakan. Ohiya, Ibu ini termasuk orangΒ  yang gak neko-neko. Sederhana dan apa adanya. Di usianya yang sudah 73 tahun ini, Ibu masih cukup aktif ikut arisan RT/ W dan beberapa pengajian dekat rumah. Jadi tentu saja, alas kaki menjadi sangat Ibu butuhkan untuk beraktivitas hampir setiap hari.Β Syarat sandal atau sepatu yang sesuai untuk Ibu, tentu saja harus ringan, empuk dan flat.

Sejak tinggal di rumah sendiri, saya memang hanya menginap di rumah Ibu beberapa kali dalam sebulan. Tiap hari juga hampir selalu mampir ke rumah Ibu, karena tempat sekolah dan les anak-anak dekat dengan rumah Ibu saya. Di saat saya di rumah Ibu inilah, saya bisa melakukan banyak hal yang bisa sedikit meringankan beban Ibu, atau mengantarkan kemanapun ketika Ibu ada acara.

Iya, saya begitu sayang dengan Ibu saya. Alhamdulillah, suami begitu pengertian, bahwa sejak kedua kakakΒ  saya meninggal dunia dan kakak saya lainnya semua tinggal di luar Jogja.Β maka otomatis kehadiran saya amat dinantikan Ibu.Β Senyum sumringah Ibu selalu terpancar, mulai dari pintu depan rumah, ketika saya datang bersama anak-anak.Β 

Seperti siang tadi, sebelum jam jemput anak-anak sekolah, saya ajak Ibu untuk pergi mencari sandal ataupun sepatu yang diinginkan. Pilihannya di mall terdekat yang tidak terlalu besar, serta akses tempat parkir dan tokonya pun tidak terlalu jauh, supaya Ibu tidak terlalu capek.

Alhamdulillah, kondisi mall tidak terlalu ramai, mungkin karena bukan weekend, sehingga Ibu bisa leluasa memilih. Lalu terpilihlah 1 pasang sandal dan 1 pasang sepatu, yang sesuai Ibu inginkan, ringan, empuk dan juga flat.

Saat tiba waktunya membayar, saya berinisiatif untuk membayar, dan Ibu berkomentar, “Jangan Na, Mama aja, kan banyak”. Duh, rasanya saya pengen nangis saat itu juga. Kalau gak ada Mbak-Mbak Kasir di depan saya, mungkin saya uda peluk Ibu saya, sambil saya bilang, betapa pengorbanan yang sudah Ibu lakukan selama ini, gak ada artinya dibanding sepasang sandal dan sepasang sepatu ini.

Untunglah, saya bisa mengendalikan diri, tanpa harus nangis bombay. Saya hanya jawab dengan tersenyum, “Gak papa Ma, aku aja”.

Taukah rasanya setelah itu, betapa bahagianya saya. Benar adanya, makin kita berbagi, makin hepilah hidup kita. Apalagi ke Ibu kandung sendiri, yang sudah bertaruh nyawa saat melahirkan.

Saya anak bungsu, dan Ibu pernah mengharapkan saya bekerja kantoran. Intinya Ibu pengen saya mandiri, tidak hanya berpangku tangan menunggu gaji suami. Ketika saya memutuskan untuk menjadi IRT, saya tau Ibu mungkin kecewa. Saat saya mencoba aneka bisnis tapi belum berhasil juga, saya juga mengerti Ibu pasti khawatir.

Saya juga yakin, Doa Ibu tidak akan pernah putus, baik untuk saya, kedua kakak saya, dan kedua kakak saya lainnya yang sudah tiada. Saya juga berdoa, Ibu senantiasa menikmati masa tua dengan nyaman. Janji saya ke diri sendiri, setelah sandal dan sepatu ini, Insya Allah saya bisa memberikan Ibu lebih dari ini, dengan usaha saya sendiri, jerih payah saya sendiri. Bismillah semoga Allah masih memberikan waktu dan kesempatan.

 

Terimakasih sudah berkunjung dan komen di blog ini, komen akan dimoderasi terlebih dahulu sebelum tampil :)

10 Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *