#MondayMovie,  Entertainment

Resensi Film Godzilla II: King Of Monsters, Se-Monster Judulnya?

Godzilla, film yang terbilang cukup ikonik ini, akhirnya membuat saya penasaran dan memutuskan untuk nonton langsung di bioskop. Godzilla versi sebelumnya, saya cukup puas nonton melalui layar HBO, dan karena nontonnya agak telat, akhirnya nonton lagi di bioskop online. Ekspetasi ketika nonton Godzilla part 2 ini, tentu pengen sesuatu yang lebih dibanding Godzilla pertama, yang mendapatkan score 6.8 di IMDB. Which is, not bad. Lumayanlah untuk jadi tontonan seru, meski tentu saja belum bisa menyaingi kerennya film Avengers: Endgame yang juga mendapat nilai hampir 9 di IMDB.

Lalu apakah Godzilla II: King of Monsters ini, se-monster judulnya? Alias bisa nahlukin hati penontonnya? Lebih bagus atau jelek dibanding Godzilla pertama yang tayang di tahun 2014?

Agak Ngebosenin di Scene-Scene Awal?

Yes, jujur ini saya rasakan ketika nonton Godzilla II: King Of Monsters. Bahkan Ical yang ikut nonton pun, di sepanjang scene awal, lebih banyak ribut dan becanda. Saat saya lihat jam karena ngerasa ini film udah jalan lama, ternyata belum sampai 30 menit.

Sepertinya Ical juga merasa agak bosan di awal film dengan durasi 132 menit ini, bayangkan belum 30 menit di awal saja, kami udah merasa bosan, tapi masih menaruh harapan ada kejutan adegan dan script yang manis di scene-scene berikutnya.

Meski dari scene awal, film ini sudah mengusung aktris berbakat Vera Farmiga yang ngetop sebagai cenayang di film Conjuring, tapi tetap saja, kok berasa hambar ya? Bisa jadi, karena penokohan Vera yang berperan menjadi Emma Russel, seorang ilmuwan yang meneliti banyak hal tentang Godzilla dan keberadaan para titan lainnya di bumi.

Entah dari script yang kurang detail, ataukah Vera yang kurang ngeblend dengan karakter Emma, yang membuat beberapa alur di awal film ini terasa awkward.

Thanos Banget?

Ketika jalan cerita mulai terasa apik, tetiba Ical berbisik ke saya: “Bun, kok kayak Thanos ya?”. Yap, di beberapa scene film Godzilla II: King of Monsters, yang menampilkan keinginan Emma untuk membuat dunia ini lebih nyaman dan seimbang, maka membangkitkan para titan yang dibekukan adalah jalan terbaik. Kebayang dong, 1 titan macam Gojira aja udah gede dan destruktif ketika menghadapi titan lainnya yang jahat, gimana kalo belasan titan dibangunkan? Tentulah bumi porak poranda, terjadi kehancuran dimana-mana, banyak nyawa yang harus dikorbankan.

Inilah yang membuat film ini, berasa nonton Avengers: End Game. Apa mungkin alurnya disesuaikan setelah End Game tayang? Karena bisa dibilang mirip-mirip tipis.

Alurnya Mudah Terbaca, Animasinya Bagus?

Dengan adanya beberapa kali film Godzilla, seharusnya penulis naskah bisa memutar plot twist atau sesuatu yang membuat penonton tercengang. Tapi nyatanya, film ini amat terlalu mudah untuk dibaca alurnya. Ketebak aja gitu, oh abis ini pasti ini adegannya.

Lalu gimana dengan animasinya? Kalo ini, saya bilang bisa diacungi jempol, dengan efek yang ditampilkan, membuat film ini memang sedap dipandang, hanya saja jump scare dari music effectnya kalau saja tidak terlalu berlebihan, pastinya bisa membangun suasana lebih baik lagi.

Happy Ending?

Lalu apakah akan terjadi hal yang membahagiakan dalam film Godzilla II: King Of Monsters ini, terutama di ending? Mungkin ada kejutan-kejutan spesial di antara para tokohnya?Β Dalam 20-30 menit terakhir, memang ada beberapa kejutan, tapi seperti saya ungkapkan sebelumnya, kejutan ini masih tetap bisa ditebak.

Bahkan, ada 1 titan yang menurut saya, dianggap luar biasa oleh para tokoh di film ini, tapi ternyata kurang dieksplore lebih jauh, Β karena *dibikin* mati lebih cepat. Padahal sayang banget, titan yang berbentuk kupu-kupu ini punya mitos tersendiri seperti yang diungkapkan di salah satu scene. However, penampilan gagahnya Gojira dalam melawan titan-titan jahat, cukup lah mengobati kebosenan di awal hingga pertengahan film.

Karakter-karakter lain yang muncul, seperti suami Emma, Mark (Kyle Chandler) & putrinya Madison (Millie Bobby Brown), cukup membantu dan membangun ending film ini (finally) menjadi *cukup kuat*.

Yang suka dengan film action berlatar efek-efek keren, bolehlah film ini sebagai referensi. Hanya saja, yang menginginkan unsur drama yang kuat dalam sebuah film action, sepertinya film ini kurang berhasil mengangkatnya.

Istantina atau lebih dikenal sebagai innaistantina, A Lifestyle Blogger asal Jogjakarta. Selain menulis, motret & yoga adalah hobby yang digelutinya. Kenali lebih dekat melalui IG: @innaistantina

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *