Blogging & Writing

Rajin Baca Buku Syarat Utama Jago Nulis? Memang Masih Jamannya Gitu?

Sering banget, mendengar kalimat ini, “Kalau mau ngalir terus ide menulis, artinya wajib baca buku!”

Atau seperti, “Para penulis hebat itu pasti pada rajin baca buku loh”

Deh, tertohok lah saya. Terakhir baca 1 buku itu beberapa bulan lalu, saat tugas review buku dari komunitas ODOP. Ya, sedikit terpaksa, karena jujur udah lama juga gak menyelesaikan baca 1 buku. Haha!

Buku-buku yang saya lahap sebelumnya, rata-rata novel dan beberapa buku genre motivasi. Tapi itu duluuuu! SMP mulai suka baca. Baca apa? Baca aneka majalah remaja maupun islami. Jaman SMA mulai baca novel ala-ala teen lit hingga penikmat karya pujangga besar seperti Kahlil Gibran.

Kuliah mulai ke novel-novel agak mikir, seperti besutan Dee Lestari, Pramoedya Ananta Toer, Nh. Dini, dan beberapa karya kocak manis dari Asma Nadia. Bahkan saat kuliah ini mengenal Rumi dan karya-karyanya yang apik dengan sentuhan keilahian yang begitu magis.

Sejak era digital makin merambah, sejak itu pulalah saya juga mulai tidak lagi mengkoleksi buku apapun, mmm lebih tepatnya tidak membacanya. Kadang masih beli sih, tapi gak dibaca-baca 😛

Uniknya, dengan saya jarang membaca buku pun, ternyata ide menulis terus saja hinggap di kepala, tiada habisnya. Bahkan ketika sempat off menulis di blog, ide-ide itu pun selalu berdatangan, tapi sayang hangus tidak sempat terekam dalam tulisan. 

Nah, kalau tidak dari apa yang dibaca dari buku, lalu dari mana ide itu berdatangan ?

Kehidupan Sendiri

Ah, aku kan bukan siapa-siapa Mba? Kenapa harus sharing tentang kehidupan sendiri? Mungkin itu yang terbersit di pikiran teman-teman. Padahal dengan sharing apa yang kita jalani dan alami, selain bisa bermanfaat buat yang membaca, utamanya yang membutuhkan informasi tersebut, ternyata juga bisa menjadi pelepas penat dari apa yang kita rasakan. Daripada keluh kesah secara frontal di sosial media, kenapa tidak melalui blog saja, belajar menuangkan ide, pikiran dan perasaan secara tertutur. Orang jaman sekarang, lebih senang untuk mencari informasi yang berupa review atau testimoni langsung dari seseorang kan? Tidak bisa begitu saja, percaya dengan iklan yang tayang di radio ataupun televisi.

Ya kehidupan kita sendiri, meski terlihat biasa saja mungkin, tapi ketika bisa menginpirasi orang lain atau memberikan informasi yang orang lain butuhkan, kenapa tidak kita bagikan melalui sebuah tulisan?

Berita & Informasi Secara Online

Di era serba digital ini, banyak sekali berita yang bisa kita dapatkan secara lebih mudah melalui online. You name it! Mau ilmu tentang psikologi anak dari era tahun berapapun, ada informasinya. Info seputar kesehatan, kecantikan hingga teknologi, di online ada semua. Apalagi jika kita suka menulis dan mengkritisi permasalahan sosial, maka aneka berita pun tersebar dimana-mana. Nah, permasalahannya, ketika kita mengambil sumber tulisan secara online, kita juga wajib mengenal, media mana yang benar-benar menulis sesuai kenyataan dan mana yang hoax. Supaya ketika kita menyebarkan informasi tersebut, kita juga menyampaikan sebuah kebenaran bukan tipu-tipu belaka. Be wise 🙂

Lingkungan Sekitar

Dari lingkungan sekitar, saya juga bisa menemukan ide. Istilahnya membaca situasi sekitar kita. Saat perjalanan naik kereta, ada kejadian unik, bisa jadi ide. Saat menjelang tidur, teringat pengalaman tertentu, esok paginya menjadi tulisan di blog, bertemu sahabat lama ataupun teman baru, saling bercerita, maka bisa jadi sebuah artikel.

Ya, jaman sudah makin berubah, tidak jamannya lagi kita mengkotak-kotakkan, bahwa namanya jago nulis itu wajib jago baca buku. Buku pun kita wajib hati-hati loh di jaman sekarang, cari benar-benar buku berkualitas, buku yang ditulis based on research, buku yang ditulis dari hati.

Saya pikir, terlalu picik, kalau kita hanya punya 1 ide untuk menulis, yaitu dari baca buku. Dunia ini luas, Bung! Banyak jalan menuju Roma, banyak pula cara untuk menjadi seseorang yang jago menulis! 🙂

Istantina atau lebih dikenal sebagai innaistantina, A Lifestyle Blogger asal Jogjakarta. Selain menulis, motret & yoga adalah hobby yang digelutinya. Kenali lebih dekat melalui IG: @innaistantina

12 Comments

  • Hiday Nur

    Buku memang bukan satu2nya sumber. Harus dipilih-pilah juga, buku macam apa yang dibaca. Tapi sebaik-baiknya informasi tertulis, buku adalah rujukan yang paling dapat dipertanggungjawabkan, setelah jurnal. Adapun info lisan, semakin panjang jalurnya kalo mau dirunut validitasnya. Kita bisa memakai sumber apa saja, tapi bagaimana jika info yang kita bagikan kepada dunia adalah hal palsu? Untuk sekadar menulis, kita bisa menulis apa saja. Untuk menulis yang bagus (dengan standar umum yang disepakati redaktur media ini itu dan praktisi atau pakar kepenulisan) kita tentu harus banyak berguru, di antaranya kepada buku yang baik (lagi2 baik dan tidak berdasar kesepakatan para ahli).

    Semangat menulis Mbak ^_^

    • innaistantina

      yes mb, intinya memang kita perlu aware juga memilih informasi dari sumber apapun untuk masuk ke dalam literatur apa yang akan kita tuliskan. Penulis cerdas tentu bisa menyaring mana yang valid dan tidak valid. Karena tentu banyak rentetan hal yang perlu dikerjakan untuk menghasilkan data valid, dan ini bisa kita telusuri sebenarnya. Apalagi track record secara online mudah kita dapatkan kapan saja.

  • Dwi Septiyana

    iya, sepakat.. dan saya berprinsip seorg penulis itu syarat utamanya tetap “harus banyak membaca”, membaca buku, peristiwa, kejadian-kejadian, lingkungan, bahkan membaca perasaan dan hati nurani.

    #ehmehm 🙂

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *