Parenting

Pesta Ulang Tahun Anak Tiap Tahun, Pentingkah?

Panjang bener judulnya yak? 😀

Pesta ulang tahun anak tiap tahun, pentingkah?

Kalo pengen dikasih judul “Pesta Ulang Tahun Anak, Pentingkah?”, kok sepertinya kurang pas sesuai dengan maksud dan tujuan tulisan ini. Lah, memang apa yang dimaksud?

Okey kita mulai postingan kali ini dengan melihat fenomena yang terjadi di sekeliling kita, mmmm atau barangkali ke diri kita sendiri?

Ketika anak ulang tahun, apakah kita PERNAH mengadakan pesta ulang tahun untuknya? Baik skala kecil-kecilan di rumah, sekolah ataupun seperti para beberapa orang tua yang melangsungkan ulangtahun anaknya di rumah makan, hotel, cafe, dan tempat-tempat nongkrong lainnya.

Nah, saya berikan huruf besar untuk kata PERNAH diatas, artinya sekali dua kali kan ya? Saya dan suami, termasuk pelit perkara merayakan ulang tahun anak. Untuk si kakak, dulu kami pernah merayakan 2x di sekolah, saat sekolah di playgroup. Dan kenapa kami rayakan? Karena di playgroup tersebut terdiri dari 50% siswa dari kalangan dhuafa yang mendapatkan subsidi sekolah. Tujuan merayakan sebenarnya lebih ke mengajak teman-teman Ical ikut makan kue ulang tahu yang mungkin sangat jarang mereka nikmati. Ya, niatnya hanya untuk berbagi. Insya Allah semoga tidak terkotori niatan lainnya.

Sasha, anak kedua kami, beberapa kali merayakan ulang tahun di rumah. Tanpa pesta apapun. Mungkin lebih tepatnya, disebut dengan syukuran kecil-kecilan. Berupa potong tumpeng, atau tiup lilin. Yang hadir siapa aja? Saya dan suami, eyang, dan mbahnya. Uda itu saja. Lalu kue atau nasi tumpeng kami bagikan ke tetangga dekat rumah.

Gimana kalo pertanyaannya adalah, “Berapa sering kita mengadakan pesta ulang tahun untuk anak?”. Saya yakin, jawabannya bisa beragam.

Gini gini, perhatikan sekeliling kita, ada yang hampir tiap tahun atau malah tiap tahun merayakan ulang tahun untuk anaknya. Iya atau iya? Dan bukan hanya sekedar tiup lilin sederhana di rumah, tapi juga dirayakan yaaaa cukup lumayan secara dekorasi dan dana.

“Ih Mbak Inna nyinyir aja, kan itu duit-duit mereka sendiri?”, misal nih ada yang protes 😀

Ok ok, kalo menurut saya dan suami, uang acara pesta tiap tahun itu kan bisa untuk hal lain, bahkan bisa kita lebihkan ke zakat dan sedekah.

“Idihhh Mbak, itu orang-orang yang merayakan ulang tahun anaknya tiap tahun, juga para ahli sedekah kok”, misallll ada yang nyolot lagi 😀

Baik baik, reasonable juga. Kenapa saya mesti pusingin ya? Duit, ya duit emak bapak tuh anak, gak ngerepotin saya juga, terus kenapa saya mesti rempong?

Kalo saya sih, uang yang ada, memang lebih banyak diinvestasikan pada pengembangan minat & bakat anak. Misal, les musik, les broadcasting kids, dan lain-lain.

Merayakan ulang tahun di sekolah, dengan dekorasi, penyiapan gift dan snack untuk yang datang, ini paling gak abis 2-5 juta, kalo buat saya ya itu buat bayar les piano berbulan-bulan cinnnn

Dan saya juga bakal sangat sedih, ketika anak saya hanya berpikir: “Bun, besok aku ulangtahunnya temanya apa? Bun, aku dressnya mau yang itu aja ya pas ulang tahun?”. Dan saya bakal sangat merana, ketika anak saya hanya bisa happy ketika ada hal serba pesta pora.

Betapa gagalnya saya sebagai seorang Ibu, saat anak-anak hanya berpikir ke dalam dirinya terus menerus.

Yahhhh, ini unek-unek aja loh ya, gak usah diambil hati. Yang tetep pengen melangsungkan ulang tahun anaknya tiap tahun, monggo aja kok. Duit, duit situ sendiri kan?

Ketika anak kita biasakan ngaji tiap hari, ya itulah yang akan dilakukannya tiap hari. Ketika anak kita sering ajak membaca, maka itulah yang akan dikerjakannya tanpa disuruh. Jadi ketika kita membiasakan anak ulang tahun tiap tahun, kira-kira apa yang akan terjadi 5-10 tahun kemudian? 🙂

 

 

Istantina atau lebih dikenal sebagai innaistantina, A Lifestyle Blogger asal Jogjakarta. Selain menulis, motret & yoga adalah hobby yang digelutinya. Kenali lebih dekat melalui IG: @innaistantina

14 Comments

  • Hanila

    Setiap tahun saya pulang kampung, Mbak saat bulan lahir anak saya, Desember tahun ini masuk tahun ke-4 karena permintaan neneknya.

    Neneknya bilang, ga pernah beliin cucunya apa-apa, setidaknya setahun sekali ingin bikinin kue cucunya. Dan mengundang anak-anak tetangga plus saudara untuk kumpul sekedar makan kue, nasi kuning, rawon dkk. Nyenengin cucu plus anak-anak tetangga. Sampai sekarang anak-anak tetangga di kampung sering tanya “Bu Siti, kapan ulang tahun lagi?” lha yang ultah di Bali, hehehe.

    Kakak saya bantu siapin semua, mereka bilang lagi, setahun sekali kalian pulang. (padahal tahun lalu hampir setiap bulan gara-gara bundaku sakit).

    Memang sayang kalau anak hanya bisa happy saat ada pesta pora. Kita ajarkan saja anak untuk selalu happy di setiap kesempatan ya hehehe

  • Fanny F Nila

    Aku tipe yg ga suka ngerayain ultah. Mau anak kek, ato suami. Alasan pertama, krn aku ga suka keramaian mba. Alsan kedua, itu boros sih memang. Tp sayangnya suami yg srg maksa ngerayain. Aku ngalah 2x pas ultah si kakak. Ultah pertama dirayain di rumah. Ultah ketiga thn di sekolah paudnya. Itu serius sih aku ga bisa nikmatin samasekali, apalagi dgr suara anak2 paud yg ampuuuun berisik banget. Kepala lgs pusing. Udh pgn pulang, tp ga mungkin. Sejak itu aku bilang k suami, jgn hrap aku mau ngerayain model rame2 gitu. Ga akan pernah lagi. Kalo ttp mau rayain, cukup di rumah ga undang siapa2. Hanya masak istimewa utk org rumah. 🙂

  • oRiN

    Saya termasuk jarang ngadain acara ulang tahun anak. Masing-masing sepertinya cuma sekali, pas di TK doank. Sisanya hanya syukuran di rumah, numpeng dan beli kue donk, gak ada siapa-siapa yang dateng. Bukan gak sayang apalagi gak cinta sama anak-anak, cuma gak mau aja jadi kebiasaan. Semoga mereka bisa bahagia dengan apa yang saya berikan meski itu bukan berupa pesta pora.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *