Perempuan itu bernama, Iswandari

Sabtu, 10 Maret 2018, saat sholat dhuhur di rakaat ke-2, saya mendengar ibu menerima telpon, dan gak butuh waktu lama, beliau terdengar menangis. Bukan hanya tersedu, tapi juga menangis cukup keras. Saya pun mempercepat sholat, karena hati ini makin tak tenang. Ya, selama semingguan terakhir, entah kenapa perasaan saya gak nyaman sama sekali. Dan sabtu siang ini, terjawab lewat tangisan ibu saya

“Na, Mbak Ririn Na…”, begitu ucap Ibu dengan masih terisak cukup histeris. Belum sempat saya bertanya, Ibu bilang, “Mbak Ririn kecelakaan, terus meninggal”. Seketika dunia terasa berhenti beberapa saat, sama seperti ketika saya berada di ruang ICU Rumah Sakit MMC beberapa tahun lalu, saat kakak pertama laki-laki saya juga mendadak meninggal dunia di usia hampir 41 tahun

Saya peluk Ibu, berusaha menenangkan, atau lebih tepatnya berusaha menenangkan diri saya sendiri. Ini mimpi atau apa? Ini beneran atau enggak? Pikiran saya melayang entah kemana selama beberapa detik, sampai kemudian kami putuskan untuk segera ke purworejo, dengan segala emosi yang berkecamuk, “Mbak Ririn kecelakaan apa? Kenapa? Gimana kejadiannya? dan seterusnya”. Hingga masih bertanya-tanya ke diri sendiri, ini nyatakah? Atau karena malam sebelumnya saya siaran sampai jam 12 malam, dan sekarang sebenernya saya masih tidur?

Ah tidak, ya memang inilah kenyataannya. Kakak perempuan pertama saya, meninggalkan dunia selama-lamanya di usia 53 tahun. Yang akhirnya saya ketahui dalam perjalanan ke Purworejo, Mbak Ririn meninggal karena kecelakaan tank di Sungai Bogowonto, Purworejo, saat mendampingi anak-anak didiknya outbound bersama dengan pihak TNI AD

Sesampai di Purworejo, rumah sudah dipenuhi pelayat, anak pertama Mbak Ririn yang baru menikah sebulan sebelumnya pun hanya terlihat diam dan berusaha menahan tangisnya. Mungkin ponakan saya ini juga masih enggak percaya kalo Mamanya uda tiada. Begitupun saya, masih berusaha mencerna apa yang sedang terjadi. Suami Mbak Ririn, langsung sungkem ke Ibu saya, dengan tangis yang cukup terdengar

Sampai detik menulis ini pun, meski saya sudah ikhlaskan, entah kenapa derai air mata kadang masih saja berebutan untuk jatuh. Sosok kakak saya ini, bukan orang yang meledak-ledak. Karakternya tenang. Dan memang benar adanya, air tenang itu menghanyutkan. Selama 3 tahun terakhir, almarhumah membangun PAUD untuk anak-anak tidak mampu di lingkungannya. It’s her passion. Punya jiwa sosial yang sangat tinggi

Dan kiprahnya yang begitu luar biasa, baik di dunia pendidikan maupun di lingkungan masyarakat, juga lebih banyak saya & keluarga besar ketahui setelah Mbak Ririn tiada. Kenapa bisa demikian? Karena Mbak Ririn ini sosok yang begitu tenang, jarang mengumbar apa saja yang dilakukannya. She’s so humble, so down to earth. Mungkin istilah tepatnya, banyak bekerja – sedikit bicara

Beberapa tahun lalu, saat mulai mendirikan PAUD, Mbak Ririn sempat meminta ke saya, mainan Ical & Sasha yang sudah tidak terpakai. Dengan telaten, ia memilih satu demi satu mainan yang masih layak. Iya, hanya sebatas itu saja yang saya tau tentang perjuangannya. Selebihnya saya ketahui setelah waktu sudah tidak berpihak lagi padanya

Mbak Ririn, perempuan Aquarius yang ulang tahunnya beda 1 hari dengan saya, bernama lengkap ISWANDARI. Kata Bapak saya almarhum, artinya perempuan yang *cantik*nya lebih dari yang lain. Yang waktu kecil dulu, saya hanya menerjemahkan bahwa Mbak Ririn ini memang cantik, bulu matanya lentik, rambutnya ngandan-andan, dst. Ternyata *cantik*nya memang bukan fisiknya saja, tapi juga hatinya yang begitu cantiknyaaa

Al Fatehah untukmu Mbak Ririn, perjuanganmu semasa hidup akan terus dikenang sepanjang masa. You’re always in my heart. In our heart




coded by nessus

11 Comments

  1. innalilahi wa innailaihi rojiun turut berduka mba ternyata kakak mba Inna 🙁 sedih bacanya sekaligus menginspirasi saya atas apa yang dilakukan almarhumah membangun PAUD untuk yg tidak mampu bangga sekali rasanya ya mba 🙂

    semoga keluarga yang ditinggalkan diberikan ketabahan aamiin

  2. astaga, turut berduka cita ya Mbak Inna.
    saya baca sempat baca berita ini dan baru tau kalo korban adalah keluarga dari Mbak.
    semoga semua amal dan ibadah Mbak Ririn diterima dan beliau ditempatkan di tempat terbaik di sisi-Nya. amin.

  3. Yang tabah ya, kak Inna.
    Ikut sedih membaca artikel ini dan ikut merasakan bagaimana sedihnya ditinggal berpulang orang-orang yang dekat dengan kita.
    Aku ikut mendoakan agar kak Ririn bahagia disisiNya, Amin.

    Sisi kemanusiaan kak Ririn sangat mulia dan patut jadi contoh kita semua.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *