Parenting

Pengalaman Pertama Kakak Masuk Sekolah (dan Bunda juga kan?) ^_^

Saya gak pernah ngebayangin sebelumnya, ternyata hari-hari pertama anak masuk sekolah, bikin saya lebih deg-degan dibandingkan mau sidang skripsi ataupun interview kerja, hehe. Kembali ke tahun 2010 silam, ketika saya pulang dari banjarbaru, kalimantan selatan, selepas menemani suami yang tugas kerja disana,pas saya sampai jogja, tetangga-tetangga di kompleks yang punya anak seumuran saya, sudah mulai memasukkan anak-anak mereka ke sekolah.

Saya dan suami yang sebelumnya belum ada planning sama sekali untuk memasukkan Ical ke sekolah, sempat membuat khawatir dan membuat bertanya-tanya “Inikah saat yang tepat untuk masuk sekolah?”

Setelah melakukan survey dan trial class, akhir bulan Februari 2010 adalah awal putra pertama kami masuk sekolah di Playgroup Ar-Rahmah sawitsari. Total biayanya sekitar Rp 600.000,00 untuk uang pendaftaran, 2 baju seragam (baju batik dan kaos olahraga), hingga uang gedung. Sementara untuk SPPnya sebesar Rp 50.000,00.

Lokasi yang cukup dekat dengan rumah juga jadi pertimbangan suami dan saya untuk mendaftarkan Ical ke sekolah tersebut. Bahkan dengan jalan kakipun bisa sampai ke sekolah tersebut.

Nah, cerita tentu tidak berakhir disini. Karena yang bikin seruuuuu adalah masa-masa penyesuaian Ical di sekolah. Dan ternyata bukan cuman Ical, tapi juga saya ^_^.  Perasaan bercampuraduk pastinya, mulai dihinggapi rasa penasaran, excited,  hingga harubiru *_*. Saya sampai sempat berpikir, jangan-jangan terlalu cepat memasukkan Ical sekolah, jangan-jangan sekolahnya gak cocok buat Ical ataupun sebaliknya…… Wesssss serba jangan-jangan ini dan itu sliwar-sliwer di pikiran saya waktu itu.

Ical yang saya kira bakal mandiri dan berani di sekolah, ternyata kenyataannya sebaliknya. Hingga hampir sebulan, saya masih berada di dalam kelas, dan Ical juga menangis tiap saya keluar ruangan meski sebentar. Saya, eyangnya dan mbahnya bergantian menunggui Ical di sekolah. Sementara temen-temennya sudah tidak ditunggui, karena mereka masuk pada awal tahun pelajaran, beda dengan Ical  yang baru masuk di pertengahan tahun ajaran. Sempat loh, saya ingin memindahkan Ical ke sekolah lain, tapi setelah diskusi dengan suami, sepertinya itu bukan jalan yang terbaik.

Di tengah kegalauan saya, ternyata saya mendapati, banyak bunda-bunda yang mengalami hal seperti saya. Malah beberapa ibu-ibu orang tua murid di sekolah tersebut ada yang bercerita: “Wahhh, aku ampe 3 bulan loh mbak nungguin anakku”, “Aku lagiiii ampe ngantuk-ngantuk mba nungguinnya, ampe berbulan-bulan”. Wewwww, then I realized, it’s not just me and my son :). Mengetahui bahwa ada orang lain yang juga punya pengalaman seperti kita, pasti membuat kita lebih relieve kan Mom? Begitu pula dengan saya waktu itu…

Yang terbaik tentunya menciptakan suasana yang menyenangkan buat Ical ketika akan, saat, dan selepas pulang sekolah. Dari situlah saya makin rajin browsing dan baca-baca artikel tentang sekolah untuk anak, dan sayapun belajar banyak dari ibu-ibu yang mengalami hal yang sama seperti saya.

Dari situlah, saya bertekad untuk makin belajar membenahi mental saya sendiri. Saya buang jauh-jauh tuh worry dan sebangsanya dari kamus saya, terutama saat mempersiapkan Ical sekolah. Malam harinya sebelum tidur, saya selalu ajak Ical untuk ngobrol tentang sekolah seperti apa yang dia mau, suasana seperti apa yang dia harapkan, dan seringkali saya bermain rolemodel dengan menggunakan boneka ke Ical tentang situasi di sekolah, atau sambil tiduran saya mendongeng tentang asiknya punya teman dan bersekolah.

Alhamdulillah, kesabaran memang selalu berbuah manis. Lama kelamaan Ical makin mandiri berada di sekolah dan enjoy bermain bersama teman-temannya. Bahkan kalo sekolah baru libur lama, Ical sering tanya, “Kapan Bunda masuk sekolahnya?”.

Duuhh kalo denger Ical ngomong seperti ini atau saat liat foto-foto di hari pertama Ical sekolah, rasanya  Mak Nyussss banget… Teringat gimana saya sempat tidak sabaran saat mendampingi minggu-minggu pertama sekolahnya. Maafin Bunda Ya Nak… *kisskisshughug*

Sejatinya menjadi ibu terus belajar kan? Bukan hanya anak kita saja yang belajar, tapi kita sebagai orangtua juga kan?

Keep learning!

Istantina atau lebih dikenal sebagai innaistantina, A Lifestyle Blogger asal Jogjakarta. Selain menulis, motret & yoga adalah hobby yang digelutinya. Kenali lebih dekat melalui IG: @innaistantina

2 Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *