Parenting

Pendidikan Ramah Anak, Hanya Sekedar Impian?

Ical, anak saya yang saat ini kelas 6 SD, dalam beberapa bulan ke depan akan menghadapi Ujian Nasional, eh atau USBN sih istilahnya? Yang kalo jaman saya dulu, namanya EBTANAS. Hiyaaaa, ini nih rempongnya kalau istilah pendidikan ganti-ganti mulu. Belum hapal satunya, udah lah ganti lagi. Begitu pula dengan istilah UAS yang berganti dengan PAS sejak berganti menteri beberapa waktu lalu. Hmmm, gitu aja terus, istilah berubah terus, tapi konten justru makin berat dan tidak ramah anak.

Pendidikan ramah anak itu yang seperti apa? Gini gini, simpelnya, ini pendidikan sesuai dengan usia dan kebutuhan anak. Seperti penting mana antara anak terlalu dini belajar cos-sinus-tangen dengan anak belajar bagaimana menanak nasi sendiri? Toh, gak semua anak kan akhirnya nanti jadi Profesor di bidang Matematika?

Pendidikan, Kuantitas atau Kualitas?

Inget gak, jaman anak 90-an sekolah dulu, SD itu masa bermain, masa have fun, masa-masa menyenangkan. Lalu semacam pendidikan kita ini, makin hari makin punya konten yang berat. Pelajaran-pelajaran yang dulu diterima saat kita SMP, udah ditelan anak-anak SD jaman sekarang. Apakah ini menunjukkan kemajuan pendidikan di negeri ini? Atau karena hanya mengejar kuantitas tanpa memikirkan kualitas?

Diskusi dengan salah seorang sahabat asal Negeri Jiran yang kebetulan mengambil S2 di Jogjakarta beberapa tahun lalu, ia berkomentar, ilmu yang ia dapatkan begitu luas, tidak spesifik. Meski jurusan yang diambil sudah khusus, tapi ternyata ilmu dan materi yang didapatkan terlalu banyak dan kemana-mana. Mmmm bener juga sih. Kalau dipikir-pikir, anak-anak Indonesia jaman sekarang, ketika belajar harus menyerap semua hal, yang belum tentu itu adalah minat dan bakatnya, too much overload.

Suatu hari, Ical menyampaikan analisanya:

“Bun, kalau memang dari kelas 1 SD itu belajar semua mata pelajaran, kenapa waktu kelulusan SD hanya ditentukan 3 mata pelajaran?”

“Bun, kasihan dong, kan sebagian anak itu gak pinter di pelajaran yang dijadikan patokan nilai kelulusan. Ada loh temenku yang jago gambar, nge-dance, nulis gitu. Masa kelulusan cuma diukur dari nilai akhir aja sih”

Ya ya ya, kalau sudah begini, saya manggut-manggut, lihat anak sulung saya ini sedemikian kritisnya. Jawaban andalan saya, “Itulah kenapa Kak, Ayah Bunda gak pernah menuntut nilai terbaik di pelajaran apapun. Yang penting, Kakak sama Adek, kerjakan yang kalian suka. Fokuskan. Nanti akan jadi bekal kalian di kemudian hari”.

Ketika digaungkan, pendidikan berkarakter, muncullah pertanyaan, karakter seperti apa? Karakter sesuai keingian pengambil kebijakan pendidikan di negeri ini? Atau karakter sesuai psikologis tumbuh kembang anak?

“Ya udah sih mbak, kalo emang gak suka dengan pendidikan sekolah di Indonesia, kenapa gak Homeschooling aja?”. Kalau ini, sudah pernah saya tawarkan ke anak-anak dari awal, tapi ternyata mereka lebih suka berada di sekolah yang jamak. Lha wong diajakin les piano private, mereka malah gak senang, tetep milihnya yang kelasnya ramai murid.

Nah ini nih, pentingnya kita mengetahui gaya belajar anak, suka sendiri atau berkelompok? Supaya kita juga mudah mengarahkan. Begitu pula dengan menghadapi carut marut kurikulum pendidikan di negara kita yang senantiasa berubah, mau gak mau, akhirnya kita lah sebagai orang tua yang mempersiapkan mental anak.

Ujian Akhir Sekolah Makin Sulit, Ego Siapa?

Tahun 2018 lalu, adalah adanya sistem ujian akhir untuk anak SD dengan sistem uraian, yang ternyata ini cukup mengecutkan bagi banyak pihak karena simpang siurnya berita, jadi atau tidaknya diberlakukan. Belum lagi dengan adanya revisi nilai matematika, karena soal tahun 2018 itu luar biasa susah. Fiuh! Kalau sampai terjadi revisi nilai berjamaah begini, bukannya pihak-pihak yang terkait dengan koreksi nilai serta ujian secara keseluruhan, jadi kerja 2x? Ya kenapa, gak diperhitungkan gitu loh, kemampuan anak SD itu seperti apa, soalnya seperti apa. Namanya ujian, artinya menguji apa yang sudah dipelajari, right? Tapi sepertinya bukan ini yang saya temukan selama ini. Ujian penentuan kelulusan sekolah semacam uji nyali anak. Siapa yang paling cerdas, paling hebat dalam pelajaran tertentu saja.

Sekarang gini loh, ketika ya, ujian sekolah itu dibikin sesulit mungkin, sampai gak ada yang bisa jawab, terus si pembuat soal bisa dibilang keren gitu? Atau hanya ego segelintir orang yang ingin membuat patokan standard pendidikan negeri ini jadi makin berbobot? Yeah, berBOBOT dalam artian sesungguhnya. Makin berat, makin bikin puyeng.

Sampai kapan sih, siswa dan siswi sekolah di Indonesia, akan menjadi kelinci percobaan dari sebuah sistem pendidikan? Yah, kalau masih gini terus, kapan kita bisa bersaing dengan negara-negara tetangga yang pendidikannya makin maju dan makin memperhatikan minat bakat yang ada.

Pentingnya Peran Orang Tua

Kembali lagi akhirnya, tugas orang tua di Indonesia, sebagai pengawal dan pendamping terbaik untuk anak-anaknya yang masih bersekolah. Kalau cara saya, dengan diskusi, dengan memberinya input tapi juga sekaligus mendengarkan apa dan bagaimana mau si anak, serta melatih mereka untuk berkomitmen dengan keputusan apa yang diambilnya. Memberi mereka pendidikan di luar sekolah yang sesuai minat bakat mereka, karena bekal itulah yang 70-80% saya yakin, akan lebih dipakai saat mereka bertumbuh dewasa.

“Yahhh, gimana sih? Kita sekolahin anak mahal-mahal, masa orang tua masih terlibat juga dalam pendidikannya?”. Mungkin ada yang berpikir demikian, mungkin juga ada yang tidak. Kalau kita belum bisa mendapatkan pendidikan ramah anak di sekolah, artinya kita ciptakan rasa nyamannya itu di rumah, di dalam keluarga. Yang saya yakini, peran dan fungsi orang tua jauh lebih penting daripada siapa saja yang anak-anak hadapi di bangku sekolah. Orang tua,  adalah figur pertama dan utama. Gimana siap? Ya gimana ya, siap gak siap, harus siap je 🙂

Istantina atau lebih dikenal sebagai innaistantina, A Lifestyle Blogger asal Jogjakarta. Selain menulis, motret & yoga adalah hobby yang digelutinya. Kenali lebih dekat melalui IG: @innaistantina

26 Comments

  • fanny f nila

    aku jujurnya juga keder ama sistem pendidikan skr. makin susah pelajarannya, apalagi aku dari dulu lemah di eksakta. makanya mau ngajarin anak soal itung2an udh puyeng duluan. suami dulu sekolahnya di Finland dan Jerman. dia ngasih tau gmn sistem pengajaran zaman dia dulu. di sana itu sangat diperhatikan apa hobi anak2. suamiku hobinya tenis meja. disediain khusus klub dr sekolah yg mengajarkan gratis utk yg mau belajar tenis meja. dan itu dilakukan siang selesai belajar sekolah.

    lah di indonesia, baru selesai belajar aja sore. belum lg les2 pendukung. pulang kdg sore banget bahkan malam. kapan wktnya utk memperdalam hobi. sedih sih memang.. skr ini sih, aku cm bilang k anak, kuasain 1 hobi yg kamu suka, supaya itu bisa jd bekal kamu ke depannya.

  • Sulis

    Mb..sama, anakku juga kelas 6. 4 bulan lagi UN..
    Mana mapel sekarang susah banget menurutku. Aku klo ada PR mtk gitu udah bnyk yang ga bisa ngerjain mba…

    Kebijakan yang berubah2. Aku juga ngerti, knp mtk, ipa, sama b indo yang jadi patokan. Dulu jaman aku sih masih 5…jadi misal aku lemah di mtk..aku bisa “nutup” melalui PMP atau IPS…

  • Turis Cantik

    Anakku sekrang baru empat tahun belum masuk sekolah sd. Kadang denger cerita temen yang anaknya udah sd, amazed sendiri sama kurikulum sekarang yang bikin anak kyknya capek sekolah.

  • lisa lestari

    Bingung mau komen apa, saya sebagai guru sD juga memgeluhkam dengan kebijakan pemerintah tentang pendidikan. Di pihak guru berbagai tuntutan administrasi juga menyita waktu. Bahkan kami para guru sd sering mengolok diri sendiri sebagai guru administrasi. Entahlah pemerintah mau membawa ke mana arah pendidikan ini.

    • innaistantina

      nah iya, kurikulum baru selalu muncul tanpa ortu dijelasin gimana-gimananya dulu. yahh kadang guru juga serba bingung mba, karena sistemnya berubah muluk, hiks

  • Cempaka Noviwijayanti

    Anak saya belum sekolah sih… Tapi saya pernah kasih privat mata pelajaran untuk anak SD di dekat rumah saya. Sering bingung sama materi sekolah anak sekarang yang buanyaak dan susah banget. Dulu kita belajar baca di bangku SD, sekarang bisa baca jadi salah satu prasyarat masuk SD. Sedih… Tp merasa enggak bisa berbuat banyak karena itu sistem yang berlaku di sini. 🙁

    • innaistantina

      iya mb, daripada kita berkutat dengan sistem yang belum tau kapan berubah, mending kita kasih aktivitas di luar sekolah yang bisa ngembangin minat bakat anak

  • Esthy Wika

    Setuju semua mbak, plek dengan kondisi yg kita temui sehari2. Mau homeschool belum kuat mental. Ikut sekolah yg ada pun, menang di rasa aman dan jaminan legalitas, meski beban mental masih tetap ada. Mari saling memberi semangat aja mbak 😊✊

  • Reyne Raea (Rey)

    Di sekolah anak saya namanya UAT mbak, ujian akhir tema.
    Daaannn iyessssss, mamak puciiingggg huhuhu.

    Udah gitu, di sekolah anak saya, batas nilai terendah itu naik mulu, waktu kelas 1 batasnya 80, sekarang dong 83.
    Saya shock gitu liat nilainya kemaren lah kok kurang, ternyata targetnya dinaikan.

    Mau nangis mamak, mana anak itu lemah di Matematika just like maminya yang cengeng ini.

    Saya juga kadang mau nangis eh udah nangis ding ngurusnya.
    Bukan cuman anak yang capek, mamaknya juga mbak huhuhu.
    Pulang jam 2.30, jam 4 les lagi, jam 6 ngaji, pulang kudu belajar lagi buat besok, jam 4.30 bangun, jam 6 berangkat.
    Ujiannya hampir sebulan sekali, evaluasinya 2 kali sebulan, mamak mau keriting rambutnya ngawasin ngajarin, dampingi, mana si bayi juga butuh perhatian, dapur cucian juga butuh saya.

    Pengen gantung diri, tapi kok sakit juga ya gantung diri itu hahaha

    Dan saya baper mba, sekola zaman now udahlah bayarnya mahal eh gak ding , MAHAAAAAAAAAAAAAAAAAAAALLLLLLLLLLLLLLL wkkwkwkw, tapi kok ya rasanya sekolah lupa kalau ortu juga kudu kerja buat bayarin sekolah itu, buat majuin sekolah itu, biar gedungnya nambah, biar sekolahnya maju.

    Lah kok dikit2 undang ortu ibu ayah ke sekolah. hadoohhh emang ortu ga ada kerjaan lain apa???

    ya sudahlaaahh, emang harus kayak gitu, siap ga siap ya disiap2in huhuhu

    • innaistantina

      hayuk mamakkk setrong
      you can do it!
      memang kita yang imbangi yaaa
      dengan pelajaran di sekolah

      ajak anak temukan minatnya
      olah di bagian yang ia sukaa
      terus kita dampingi
      dengan maksimal

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *