Parenting

Pendampingan Psikologis Anak Ketika Pindah Sekolah

β€œThe measure of intelligence is the ability to change.”
― Albert Einstein

Pindah ke Jakarta, tentu banyak perubahan yang terjadi, baik dari sisi saya pribadi sebagai Ibu dan istri ataupun duo bocil, Ical & Sasha. Mmm sepertinya udah *hampir gak pantas* dipanggil bocil lagi ya? Karena tahun ini Ical udah masuk SMP, Sasha yang naik ke kelas 2 SD pun berasa banget makin dewasa pola pikirnya. As you know, anak perempuan memang biasanya lebih cepat dewasa dibandingkan anak lelaki seusianya.

Manusia memang dibekali akal, untuk berubah dan beradaptasi menyesuaikan segala hal yang terjadi di sekelilingnya. Jangankan manusia, hewan dengan jenis yang sama, katakanlah sekelompok rusa di daerah dengan cuaca panas dengan rusa-rusa di daerah dingin dan bersalju pun sangat berbeda. Begitu pula dengan karakter manusia, beda lokasi maka beda gaya dan kesehariannya.

Ketika Anak-Anak Belajar Adaptasi Di Lingkungan Baru

Inilah yang kami alami, saat pindah ke ibukota. Dari mulai ritme dan jam kegiatan yang berbeda hingga adaptasi dengan orang-orang baru di sekeliling kami. Utamanya anak-anak. Ical yang masuk ke SMP dengan 100% temannya baru semua, tidak ada teman dari SD ataupun kota yang sama, serta Sasha pun demikian, pindah ke Kelas 2 dengan teman dan guru yang serba baru.

Meski jauh-jauh hari, saya sudah mengajak anak untuk mengenal lingkungan sekolahnya, menginfokan dan bercerita banyak tentang kehidupan di Jakarta bakal seperti apa, rupa-rupanya ini juga *sempat* menjadi shock culture juga buat anak-anak.

Sasha yang sempat kaget karena guru piano di tempat les sangat berbeda dengan ketika di Jogja, sempat gugup bukan main, terlihat panik, takut salah pencet nada, dsb. Ya, karena guru piano di Jogja dulu, sangatlah ramah, ngemong, dan halus bicaranya. Sementara yang di Jakarta ini, bisa dibilang 180 derajat perbedaanya, tegas dan tanpa ba-bi-bu menegur ketika murid salah.

Saya hanya bilang ke Sasha: “Sha, perhatikan deh, guru piano yang di Jakarta ini kan gaya ngomongnya mirip-mirip Mbak Iyak”, jelas saya. *Mbak Iyak* ini maksudnya adalah salah satu sepupu Sasha yang juga tinggal di Jakarta dengan gaya bicara ceplas-ceplos. “Dengerin deh Sha, itu guru pianonya juga kalo ngajarin sebenernya malah bagus, tegas dan langsung ngasih tau, bener atau enggak. Jadi Sasha bisa makin bagus main pianonya”.

Dengan pembicaraan ini, Grogi Sasha ini hanya di minggu pertama aja, ketika masuk di kelas-kelas piano berikutnya bisa lebih santai. Bahkan ketika perjalanan pulang dari minggu kedua masuk les, Sasha bilang: “Bun, Kak Rieke itu tegas ya Bun, jadi kalo ada yang ngawur mainnya langsung diingetin”. “Ngomongnya juga kayak Mbak Iyak gitu ya ternyata Bun”, ujarnya mengulang penjelasan saya tempo hari. Alhamdulillah, prosessss ya Nduk, menghadapi orang baru, karakter baru, ini bekalmu untuk masa sekarang dan utamanya nanti!

Adaptasi pindah sekolah secara psikologis juga berlaku pada Ical, yang saya kira bakal lebih *santai* karena secara usia lebih matang. Tapi ternyata tidak, justru kecemasan Ical ini sampai pada taraf fisik. Di minggu pertama masuk SMP, pas masa MPLS (Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah) atau dulu lebih kita kenal dengan MOS/ OSPEK, nah di hari ke 2, Ical mengeluh perutnya sakit. Melilit. Setelah saya bawa ke Dokter, dan kebetulan dokternya memang pro-psikologis anak, menerangkan ini proses yang anak lalui saja, bisa jadi belum nyaman dengan lingkungan barunya, temannya atau apapun yang baru di sekitarnya.

Meski jauh-jauh hari saya sudah menjelaskan banyak hal ke Ical tentang karakter anak-anak Jakarta yang berbeda dengan di Jogja, ternyata setelah mengalami langsung pun, Ical tetap kaget. It’s okey, ini adalah etape ya Nak, untukmu jadi lebih kuat dan tangguh.

Masuk minggu kedua, sakit perut reda, dan Ical mulai ada progress dalam interaksinya dengan teman-teman sekolahnya. Hampir tiap pulang sekolah selalu cerita, “Hari ini, aku kenalan sama temen baru lagi Bun”. Ya cerita yang bergulir sesaat setelah masuk pintu mobil, tanpa saya apapun sebelumnya.

Alhamdulillah, setelah masuk minggu ke-3 dan ke-4, rupa-rupanya Ical udah mulai bisa beradaptasi dengan gaya berteman anak-anak Jakarta, yang kadang juga harus berani nolak, kadang juga harus bersikap tegas ke teman-temannya. That’s great, Kak!

Terus, Bagaimana Cara Pendampingan Psikologis Ke Anak Saat Pindah Ke Sekolah Baru?

Hal-hal yang saya lakukan masih jauh dari sempurna, tapi saya yakin Ibu manapun pastinya akan berusaha seterbaik mungkin buat putra-putrinya, apalagi seputar mendampingi anak-anak saat pindah ke sekolah dan lingkungan baru. Kurang lebih hampir sebulan, Ical & Sasha sudah mulai bahkan makin nyaman dengan lingkungan sekolahnya. Apa saja yang saya dan anak-anak lakukan?

Kenalkan Sekolah Baru

Ya, ini juga perlu kita lakukan, karena ada beberapa curhatan dari orang tua murid yang meski anaknya juga sama-sama dari Jakarta, ternyata waktu masuk SMP dengan mayoritas temannya baru, ada yang mengalami apa yang Ical alami. Jadi penting banget, kita kenalkan dulu kondisi sekolah, kalau perlu ajak anak melihat sekolahnya, mengenal ada berapa lantai, ada kantinnya dimana aja, tempat parkir, toilet, dll. Hal ini supaya anak terbiasa dengan kondisi fisik sekolah, jadi nantinya ketika mulai masuk ke sekolah baru, PR anak adalah belajar menghadapi orang-orang sekitarnya.

Kenalkan Aneka Karakter Di Tempat Baru

Jika kita pindah ke beda kota, dijamin pasti akan ada beda karakter yang kita temui. Disinilah kita perlu mengenalkan anak aneka karakter, bisa dengan kita korelasikan dengan orang-orang yang pernah anak-anak temui. Misal, nanti di kota yang baru, kita bakal banyak ketemu dengan orang kayak si A itu, dst. Nah, anak akan melogikakan karakter tersebut.

Kuasai Emosi

Kadang, meski kita udah lakukan poin 1&2 diatas, tapi tetap saja, namanya hanya cerita dan info, pasti beda dengan langsung merasakan. Begitu pula yang terjadi dengan Ical & Sasha seperti yang saya ceritakan diatas. Butuh proses adaptasi. Yang Alhamdulillahnya terlampaui dengan baik di bulan pertama. Tentu saja ini butuh kita sebagai orang tua untuk mengendalikan emosi. Yes, jujur ini gak mudah. Gemes misalnya lihat anak kok lelet gak mau cepet ngerti dengan kondisi yang baru? Wajar-wajar aja, yang penting tetap terukur. Ngasih tau dengan lebih tegas itu boleh-boleh aja kok, tapi bukan emosional meledak-ledak. Kalo kita makin neken anak, nantinya pun anak jadi lebih tertekan. Padahal yang anak butuhkan adalah support dari kita sebagai orang tuanya. Support ini kita mulai dengan kita menguasai emosi kita, mengendalikan diri kita sendiri, maka anak pun akan lebih nyaman.

Sejujurnya siapapun pasti butuh tempat untuk curhat? Right? Begitu pula dengan anak-anak. Jadi pendengar yang baik untuk anak selama proses transisi kepindahan sekolahnya, adalah cara terbaik yang bisa kita lakukan sebagai orang tua. Ini lebih the best dari apapun. Bahkan melebihi dari iming-iming hadiah semahal apapun. Misal: “Nanti mama beliin IMO deh kalo mau pinter dan berteman di sekolah”. Duh plis jangan, anak sebenernya gak terlalu butuh-butuh amat dengan jam canggih itu. Anak-anak hanya butuh curhat ke orang-orang terdekatnya, yang mengerti kondisinya yang masih takut & cemas dengan lingkungan barunya. Siapa orang-orang terdekat anak-anak? Siapa lagi kalo bukan kita, Ayah & Ibunya? πŸ™‚

Istantina atau lebih dikenal sebagai innaistantina, A Lifestyle Blogger asal Jogjakarta. Selain menulis, motret & yoga adalah hobby yang digelutinya. Kenali lebih dekat melalui IG: @innaistantina

26 Comments

  • ika

    pindah sekolah ataupun pindah rumah ternyata memang sama-sama bikin shock culture ya. bukan hanya pada anak-anak, tapi saya sendiri juga pernah mengalami dan ternyata berkomunikasi/bercerita pada ortu itu memang penting biar ga terlalu tertekan. terimakasih informasinya ya

  • Dian Farida Ismyama

    Iya bener banget. Anak-anak butuh ortu untuk mendampingi dari sisi psikis. Ini anak keduaku tadi siang pertama kalinya naik mobil jemputan pas pulang. Mesakke jadi lebih siang karena harus nunggu yg TK, sementara dia masih PG. Alhasil di mobil ketiduran hoho. Tapi gpp lah biar latihan. Pe rumah bangun terus malah langsung makan karena lapar. Ya banyak hal yang berubah. Kayak tadinya dianter naik mobil, skrg jadi naik motor sm ayahnya. Kata yg kecil, dingin, brrr. Pulang yang tadinya dijemput orang rumah, eh ganti pakai antar jemput dll. Alhamdulillah so far mereka bisa adaptasi

  • Sapti nurul hidayati

    Jangankan anak ya mb, kita yang dewasa saja juga sering ngalami rasa tegang dan ga nyaman berada di lingkungan baru. Jadi memang yang utama pendampingan orang tua. Agar mereka tidak merasa sendirian. Justru situasi semacam ini bisa meningkatkan kualitas komunikasi anak dengan orang tua. Tfs mb…

    • innaistantina

      amin, makasih doanyaaa mbaaa, proses yang gak mudahhh tapi Insya Allah diupayakan untuk terus belajar dan berbenah mbaa

  • agata vera

    Shock culture banget ya mbak, dari yang lingkungan Jogja masih bisa santai. eh ke Jakarta yang maunya serba cepet dikejar waktu. rasanya kayak habis dijalan waktunya. Semangaaat yaaa makkk

    • Wiwin | pratiwanggini.net

      Anakku juga ganti sekolah mba, dari SMK ke SMA. Mulai lagi dari kelas 1. Ya, semuanya berbeda. Alhamdulillah lancar hingga hari ini. Curhatan terbarunya adalah capek karena jadi Ketua Kelas, juga dijadikan koordinator ini itu :D. Saya support dengan bilang “dinikmati aja dulu”.. πŸ˜€
      Hai Ical dan Sasha, selamat menikmati sekolah di Jakarta yaaaa.. Sukses selalu untuk kalian!

  • Yustrini

    Kalau bicara soal adaptasi karena pindah rumah atau kota, saya juga mengalami shock culture juga. Yang jelas butuh waktu untuk bisa hidup dalam lingkungan baru, ketemu orang-orang yang beda karakter. Dan di tiap daerah pasti ada adat/kebiasaan yang beda.

    • innaistantina

      iya betul mb, tiap daerah punya kebiasaan, cara bicara dan cara pandang yang sering kali bedaaaaa, jadi butuh banget namanya adaptasiiii, dan ini butuh waktu beda-beda tiap orang

  • Ririe

    jaman masih sekolah doeloe, kalau ada teman baru (pindahan dari kota lain), saya ikut negbayangin jikalau saya yang ngalami peristiwa pindah sekolah, ngebayangin gimana memulai pertemanan yang baru, adaptasi dengan lingkungan sekolah baru, juga lingkungan rumah baru.

    • innaistantina

      saya termasuk yang juga pindah dari kota satu ke kota lainnya mbak, sampai sensasi perkenalan di depan kelas itu kayak memory yang berulang-ulang terussss, hehehe

  • Mini GK

    Udah sering denger kalau anak-anak juga mengalami ‘stress’ atau kaget saat diajak pindah pindah. Memang banyak yang harus disiapkan agar betah. Makasih sharingnya mak

  • Retno Septyorini

    Mksh sharingnya mbak. Jd inget kl aku juga pernah ngalamin pindah sekolah. Dari Wangon ke Jogja. Meski deketan, bahasa yg beda bikin aku pusing juga. Dari ngapak ke kromo gt. Ditambah tmn sebayaku yg pake bahasa Jawa ngoko. Untung aku deket sama ibuk. Jd bisa adaptasi seiring waktu.

    • innaistantina

      tetep perlu mbaaa, ponakanku ada yang pindahan dari jakarta ke jogja, itu awalnya juga dibully sama temen-temennyaa, sampe kemudian dia bisa beradaptasi dan dapet temen-temen baru di sekolah baru

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *