#TuesdayTestimony

iPhone, I’m in Love

Sony Ericsson T10, telepon genggam dengan flip dan aneka warna pilihan, adalah hape pertama saya. Hape bekas pemakaian istri kakak sulung, yang kemudian *dilungsurkan* ke saya. SMS & telpon, kemampuan hape ini terbilang cukup canggih pada jamannya. Udah berasa keren banget dah! 😀

Berlanjut ke pemakaian Nokia sejuta umat yang juga punya kemampuan sama. Berkembangnya teknologi, sampai kemudian dari telepon genggam pun kita bisa mulai berkirim email bahkan membuka beberapa aplikasi media sosial seperti facebook dan youtube. Di momen inilah, saya sempat mulai menggunakan smartphone, balik ke Sony Ericcson berflip, saya lupa tipenya apa, tapi hape ini cukup berjasa saat tinggal di kalimantan, tempat dimana saya mulai serius belajar ngeblog. Yap, dengan hape ini, saya pakai sebagai modem, sekaligus alat komunikasi sehari-hari. Cukup tangguh juga ternyata, meski sering saya pakai online berjam-jam.

Hingga hape Sony Ericksson warna merah itu pun hilang, lalu berganti dengan Blackberry yang cukup hits waktu itu. Yak, hampir setiap orang yang aktif dan produktif, pasti pakai hape-hape besutan Blackberry, ini kisaran di tahun 2009-2010. Hape ini juga terbilang berjasa banget, saat saya membangun bisnis baju batik online, meski usaha tersebut tidak saya lanjutkan karena beberapa faktor, tapi dengan BB mulai kenal dengan pengiriman pesan yang lewat cepat dan instan.

Perjalanan Jatuh Cinta ke iPhone

Setelah Blackberry, beberapa smartphone berbagai merk sempat saya gunakan, artinya kurang lebih 10 tahun saya setia menggunakan Android, dan sejak beberapa bulan terakhir ini, saya beralih ke iPhone. Banyak pertimbangan tentunya, dan berikut beberapa tahapan hingga akhirnya saya pindah dari android ke iPhone dan benar-benar jatuh cinta memakai hape besutan Apple ini:

 

Pertama, sebenarnya dari rasa penasaran, karena beberapa saudara sudah duluan dan setia memakai iPhone. Yang saya lihat cuma dari sisi harga saja. Dih, mahal! Tapi karena rasa penasaran ini membawa saya coba-coba beli iPhone 5c refurbished warna hijau secara online. Karena ini produk iPhone refurbished, tentulah lebih murah harganya, tapi tetap mendapatkan garansi resmi dari Apple. Kesan pertama dari pemakaian si iphone 5c refurbished ini, jujur agak kagok di awal, wajar karena kadung fanatik dengan hape-hape jenis Android.

Tapi setelah pemakaian beberapa hari, saya menyadari, bahwa layar iPhone ini enak banget, empuk tapi tidak licin seperti hape merk tertentu yang pernah saya pakai. Intinya nyaman untuk jari saya dan pergelangan tangan. Disinilah saya mulai jatuh cinta, dan berpikir, kalau yang refurbished saja udah seenak ini, gimana kalo yang bukan?

Kedua, setelah pengalaman memakai tipe refurbished, dan tentunya sebelum memutuskan untuk benar-benar membeli iPhone non-refurbished, butuh berbulan-bulan buat saya mencari tau informasi sebanyak-banyaknya. Gak mau dong, dengan harga yang gak murah, terus nantinya kecewa, ya kan? Dari mulai artikel blog, sharing di forum online, penjelasan aneka media saya pelajari satu persatu, sampai ke review para youtuber yang fokus membahas gadget.

Setelah mantap, dan saya putuskan untuk beli iPhone 8 red 64GB. Kenapa hanya beli yang 64GB dan bukan yang plus? Jelas, karena budget. Lalu kenapa red? Karena saya suka warna ini, dan terlebih setelah mengetahui bahwa penjualan iPhone jenis red ini memang untuk donasi.

Ketiga, kurang lebih sekitar 6 bulan pemakaian, saya benar-benar terpuaskan dengan kualitas iPhone ini. Yang katanya inilah itulah dari beberapa review yang muncul, Alhamdulillah di saya baik-baik saja. Iya, memang secara baterai tidak setangguh hape Vivo ataupun Asus saya sebelumnya, tapi toh saya lebih banyak di rumah, jadi gak masalah, tinggal colok. Ada event blogger pun, tinggal bawa power bank. Which ini tidak terlalu mengganggu.

Kenapa cuma 64GB, emang cukup storagenya? Secara gak ada micro SD card juga kan di dalam iPhone 8 ini? Buat saya, gak masalah sih. Karena file sebagian besar udah masuk laptop ataupun sosmed/ blog. Bagi saya itu udah cukup. Artinya kalau sudah tertransfer di media lain, foto/ video di dalam iPhone pun langsung saya hapus.

Minim NgeLag!

Ini nih yang penting, pengalaman memakai android sekelas Samsung yang pernah saya beli kisaran 6 jutaan rupiah, bahkan suami pun punya S7, selain hape cepat panas, yang bikin ngeselin itu setelah pemakaian beberapa bulan, pastilah ngelag. Ketika pakai Asus dan Vivo pun saya juga mengalami hal yang serupa. Hal ini ternyata jarang saya temui saat saya memakai iPhone. Padahal saya juga pakai hape ini untuk rekam video vlog anak-anak sampai ke proses editing memakai aplikasi kinemaster.

Di iPhone 8 saya sekarang ini, ada beberapa aplikasi editing seperti picsart, snapseed, phonto, canva, serta tentunya aplikasi sosial media seperti facebook, instagram, twitter & youtube. Amazingly, semua berjalan normal. Pernah terjadi lag, tapi tidak sesering atau senyebelin ketika saya pakai Android. Males banget kan, baru asyik ngedit, di tengah-tengah terus nge-lag dan file hilang!!!!

Untuk berikutnya, pengen beli iPhone 1 lagi dengan kapasitas 256GB dan layar lebih lebar. Pertama supaya mempermudah proses editing dan kedua, lebih lebar dan semacam lebih mantap kalo layar lebih gede gitu ye?

Itu artinya, mari gigih cari duitnya dan nabung buat dapetin iPhone impian! 😀

Istantina atau lebih dikenal sebagai innaistantina, A Lifestyle Blogger asal Jogjakarta. Selain menulis, motret & yoga adalah hobby yang digelutinya. Kenali lebih dekat melalui IG: @innaistantina

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *