Blogging & Writing

Nulis di Blog, Perlukah Sesuai KBBI?

Awal mengikuti komunitas ODOP (one day one post), adalah untuk memaksa diri saya posting tiap hari di blog. Supaya ritme terbentuk 30 hari dan nantinya menjadi ritme harian. Penelitian menunjukkan dibutuhkan waktu minimal 21 hari untuk  merubah kebiasaan seseorang, tentu dengan harapan membangun habit baru yang lebih baik lagi.

Bersumber dari buku Dr. Maxwell Maltz, seorang ahli bedah plastik. Pada tahun 1960 Mazwell mengamati pasien-pasien yang diamputasi. Ternyata mereka memerlukan waktu rata-rata 21 hari untuk beradaptasi terhadap kehilangan anggota tubuhnya. Berdasarkan pengamatan tersebut, Maxwell mengambil kesimpulan pendek bahwa manusia memerlukan waktu sekitar tiga minggu untuk mengadaptasikan diri terhadap perubahan-perubahan di dalam hidup.

Sementara itu penelitian terbaru dari Phillippa Lally dari University College London yang dipublikasikan dalam European Journal of Social Psychology, menyebutkan bahwa ternyata waktu yang diperlukan untuk menciptakan habit itu bervariasi tergantung tingkat kesulitan perilaku yang diinginkan, kurang lebih antara 21 hari-66 hari (sekitar 2 bulan) waktu yang ditetapkan menjadi batas yang universal. (kompasiana, ali muakhir)

Masuk minggu ketiga bersama teman-teman di ODOP, saya belajar satu hal penting, yaitu menulis sesuai dengan KBBI (Kamus Besar Bahasa Indonesia) atau kalau istilah dulu kita kenal dengan EYD (Ejaan Yang Disempurnakan), dan sejak 26 November 2015  diganti menjadi Pedoman Umum Ejaan Bahasa Indonesia (PUEBI).

Saya sadar betul, bahasa tulisan saya, selama ini tidak jauh dengan bahasa bicara saya. Pernah siaran radio selama beberapa tahun, yang mana ini adalah radio yang tidak formal, membuat saya tidak terlalu nyaman dengan hal-hal berbau serba formal dalam hal berbahasa. Lebih banyak menggunakan bahasa yang ringan, cair dan kekinian.

Lalu ketika saya dihadapkan peraturan di ODOP, untuk menulis dengan lebih berkaidah, kira-kira ngaruhkah dengan tulisan-tulisan saya sekarang dan berikutnya?

Bisa jadi iya, karena sejak menulis tugas harian ODOP, saya lebih berhati-hati memilih kata dan juga padanan yang pengen saya gunakan. Akan tetapi, saya ya saya, gaya tulis saya ya gaya tulis saya. Saya gak pengen terbelenggu dalam kaidah menulis, karena ini mematikan style. Jujur dengan harus mematuhi seluruh poin kaidah menulis, kok malah jadi gak ngalir ya tulisan yang saya bikin. Semacam sayur kurang micin #eh

Menulis dengan gaya bukan gaya kita, ini semacam menggeser kepribadian kita menjadi orang lain. Which is this is not feel great at all! Samalah seperti orang yang mungkin sehari-hari biasa pake “Guwe Loe”, terus mendadak harus pake “Saya dan Anda”. Kagok lah.

Di lain sisi, si *guwe loe* ini juga tetap harus bersosialisasi dengan banyak orang kan? Nah, bisa saja ada beberapa lingkungan yang menuntut harus berbahasa diluar kebiasaan hariannya. Sama seperti menulis, kadang kita juga perlu geser sejenak dari gaya kita, meski terasa aneh atau ganjel, tapi lambat laun kita juga bisa terbiasa. Ya meski gak akan bisa selanyah ketika kita gunakan ciri khas sendiri pastinya.

Toh pembaca juga beraneka ragam, ada yang suka gaya tulisan puitis mendayu-dayu, ada juga yang suka gaya tulisan serba realita dan blak-blakan. Gak usah takut dengan pilihan apa gaya kita deh, nanti juga ada segmen pembacanya sendiri-sendiri.

Nulis adalah hobby saya, mata pencaharian saya, perkara menulis sesuai dengan kaidah atau enggak, saya menyesuaikan aja sih. Kalo di blog saya, ya terserah saya lah, mau pake cara seperti apa. Kalo saya menulis artikel untuk platform tertentu, tentulah saya ikuti aturannya

Ketika kita hanya terpaku pada satu hal aja, percaya deh, kita malah gak bisa berkembang! Atau kita terlalu takut untuk mengerjakan sesuatu karena uda jiper sama aturan ini dan itu, wah wah ini malah bikin kita gak akan pernah memulai suatu hal! Be your self! Do the best!

Istantina atau lebih dikenal sebagai innaistantina, A Lifestyle Blogger asal Jogjakarta. Selain menulis, motret & yoga adalah hobby yang digelutinya. Kenali lebih dekat melalui IG: @innaistantina

2 Comments

  • Alaika Abdullah

    Yes, agreed with you, Mba. Menulislah dengan gaya/ciri khas kita sendiri. Be ourselves, kecuali dalam hal tertentu di mana ada aturan tertentu yang harus kita ikuti.

    Jika menulisnya di lapak kita sendiri, kalo saya sih, tetap akan menjadi diri saya sendiri, yang senangnya menulis dengan cara yang ringan, lugas dan mudah dipahami. 🙂 Sama deh kita nih, prinsipnya. Hehe.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *