Vlog & Youtube

Ngevlog Pakai Smartphone? Bagus Gak Ya?

“Harus pakai kamera gitu ya mba kalo pas ngevlog?”, tanya seorang CS bengkel tempat saya service kendaraan beberapa hari lalu.

Pertanyaan ini meluncur, ketika saya sedang asyik ngedit materi vlog dan CS tersebut melintas depan saya saat mengambil minum. Diawali dengan pertanyaan apakah saya sedang cuti? Apakah saya libur kerja? Dsb. Lalu saya jelaskan, saya bukan pekerja kantoran, melainkan blogger dan juga content creator di youtube channel yang sedang saya rintis.

“Temen saya, ada yang dapet 33 juta sebulan loh Mba”, ujar si Mbak CS ini lagi, saat perbincangan kami makin asyik tentang dunia ngevlog.

“Wah iya mb, mau berapapun sebenernya bisa, asal konsisten upload, utamakan juga dengan konten bermutu dan kita juga harus mau belajar teknik gimana mendatangkan traffic ke youtube channel kita, karena percuma aja punya materi bagus tapi gak ada yang nonton”, ungkap saya menimpali antusiasnya.

“Saya juga pengen bikin buat anak saya, sering videoin dia gitu mb, tapi gak tau caranya gimana”, curhatnya kemudian.

Pesatnya Youtube Channel Baru

Ya, kalau kita perhatikan, saat ini, banyak sekali bemunculan vlogger dan youtuber baru, atau yang menyebut dirinya dalam profesi tersebut. Asal punya channel youtube, asal upload apapun kontennya, gimanapun bentuknya. Alhasil, kalau kita hitung, sebenarnya konten yang berkualitas untuk salah satu genre itu paling hanya beberapa aja.

Misal kalau kita sebut genre vlog anak, maka nama akun Zara Cute, Queen Salman, adalah beberapa contoh channel yang punya subscribers ratusan ribu hingga jutaan. Kenapa? Apa yang spesial? Padahal hanya berupa anak-anak bermain terus dijadikan vlog. Ya ternyata sekalipun di riset yang ada, vlog anak kecil ini kurang begitu populer, tapi ternyata punya segmentasi tersendiri.

Nah sayangnya, ketika akhirnya banyak yang ikutan, lalu dengan asas yang sama ingin mendapatkan pundi-pundi rejeki dari youtube, tapi kualitas diabaikan. Baik dari segi konten cerita, pengambilan gambar hingga suara. Perhatikan lagi, channel youtube yang terkenal, apakah output suara yang kita dengarkan jelek atau nyaman sampai ke telinga? Lalu gimana gambarnya, menarikkah dilihat?

Saya juga sepakat dengan salah satu guru youtube saya, yaitu Den JC. Saya menyebutnya guru, karena meski gak kenal secara langsung, tapi saya banyak belajar dari pakar satu ini tentang gimana membangun sebuah youtube channel secara maksimal. Dalam salah satu video yang diuploadnya, Den JC mengutamakan kualitas audio, kalau gambar kurang bagus biasanya bisa memahami dan tetap nonton asal konten menarik. Tapi kalo audio jelek, biasanya orang akan langsung meninggalkan channel tersebut. Ya, saya sangat setuju dengan pendapat ini, karena memang secara pribadi saya juga paling males kalo konten youtube itu suaranya gak jelas. Bahkan kalo ada yang punya channel youtube tapi VO-nya gak asyik atau si pembawa materinya pun tidak menguasai vokalisasi suara saat bicara, juga bikin bosen. Auto pindah ke channel lain yang punya materi sama sih kalo saya, hehe.

Kualitas Vlog Bagus, Butuh Rekam Pakai Kamera?

Seperti pertanyaan mbak CS bengkel tentang apakah butuh kamera DSLR atau Mirrorless untuk merekam segala aktivitas ngevlog? Saya jawab tidak. Cukup dari hape aja, smartphone yang kita punya. Apalagi hape jaman sekarang rata-rata punya kualitas penangkapan suara yang bagus, begitu pula dengan gambarnya.

90% pengambilan gambar di channel vlog anak & keluarga Saddha Story yang saya kelola sekarang bersama anak-anak, hanya menggunakan hape saja. So far, ada beberapa alat tambahan yang saya pakai ketika syuting untuk music video, yaitu microphone BM800. Tapi sampai hari ini, 21 februari 2019, ketika ngevlog outdoor, tidak menggunakan tambahan alat apapun kecuali hape dan tongsis aja. Pernah nyoba pake kamera, tapi saya kok ngerasanya ribet ya. Ya, mungkin karena saya juga belum begitu menguasai pengambilan gambar dari kamera juga sih ya, hehe.

Itulah kenapa, saya dan anak-anak, butuh perjuangan banget ketika syuting di rumah dengan peralatan seadanya, kadang ada suara ini itu yang ketangkap di hape, padahal itu baru rekaman buat lagu. Atau berkejaran dengan sinar matahari, supaya bisa dapet cahaya yang bagus. Tapi sekali lagi, meski ini hambatan, Alhamdulillah kami sudah bisa memproduksi puluhan video dan secara kacamata sebagai penonton youtube pun, oke-oke aja.

Yaaaa, tapi gak terus nyerah dan berpuas diri di satu titik ini dong. Saya baru berusaha untuk upgrade alat, apalagi setelah kemaren belajar analytic youtube, bahwa yang banyak masuk ke youtube channel Saddha Story itu karena keyword lagu anak indonesia.

Ngevlog Pake Hape? Hayuk Mulai Aja!

Yes, kalo udah kepikiran pengen ngevlog, dan cuman punya hape doang, gak masalah, Hayuk mulai aja! Sambil jalan, sambil kita lengkapi peralatannya. Gak usah banyak mikir! Kalau kebanyakan mikir, keburu ketinggalan. Sama lah seperti niatan pengen punya blog lah, tapi gak segera eksekusi tulisan atau bikin blognya, ya sami mawon! Huhui!

Nah, supaya hasil vlog memakai hape atau smartphone itu bisa maksimal, perhatikan 3 hal utama ini:

  1. Tentukan ide cerita yang akan kita sampaikan. Jangan sampai ngelantur kemana-mana, tapi fokus. Posisikan diri kita seperti penonton tv aja deh, kalau ceritanya gak asyik, pasti kita tinggalin kan?
  2. Hindari shaking saat ambil gambar, karena ini juga menganggu banget kalo terlalu banyak goyang. Kalo sekedar untuk gimmick aja sih gak masalah. Tapi kalo berkali-kali, tentu membuat kualitas vlog kurang bagus.
  3. Pakai Voice Over jika diperlukan, terutama ketika suara terlalu bising saat pengambilan gambar.

Saya pikir, 3 hal diatas ini, sudah pondasi banget untuk membuat konten vlog yang bagus terutama bagi pemula.Β Tapi gini-gini, memang kalo membangun channel youtube ini saya alami sendiri, membutuhkan effort 2-3x lipat dibandingkan blog. Melalui blog, ada ide langsung tulis, kasih bumbu keyword, masuk komunitas blogger, sharing link di sosmed. Hal-hal ini termasuk cukup untuk mengembangkan blog. Ya at least, supaya menaikkan PA & DA diatas 20an, dan dilirik agency untuk mempromosikan produk/ jasa melalui blog/ sosmed kita.

Sementara kalo vlog, butuh kemauan dan kemampuan untuk ngedit, membuat jalan cerita runtut, pengambilan gambar dan suara yang mumpuni.

Baik blog ataupun vlog, untuk menjadi berkembang dan bagus, tentu tidak instan, butuh waktu, butuh proses. Pertanyaannya, sanggup gak kita berproses?

Istantina atau lebih dikenal sebagai innaistantina, A Lifestyle Blogger asal Jogjakarta. Selain menulis, motret & yoga adalah hobby yang digelutinya. Kenali lebih dekat melalui IG: @innaistantina

35 Comments

Leave a Reply to Artha Amalia Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *