Lifestyle

My Body, My Temple

Pernah merasa terintimidasi melihat progess penurunan berat badan orang lain?

Yakkkk, saya pernah!

Ngerasa udah jaga makan mati-matian, olahraga empot-empotan, tapi ternyata BB turun gak seberapa, dan setelah lihat progress orang lain yang berjuang untuk tujuan sama, kok lebih cepet yaaa.

Kok bisa sih dia gak sampe sebulan turun hampir 10 kilo? Emang ngapain ajaa?

Perasaan terintimidasi begini, pernah loh saya alami bertahun-tahun! Hiks, ngenes ya?

Haduh, bukan ngenes ini mah. Namanya bodoohhhh! πŸ™

Sampai akhirnya ketika saya mulai yoga di 2017, dan ternyata dengan yoga ini, buat saya sebagai sebuah rencana sehat paket komplit. Karena bisa belajar mengenali tubuh, terutama kebutuhannya.

Meski sempat mengalami naik turun mempertahankan semangat tetap nge-yoga rutin tiap hari, tapi ternyata dengan segala manfaat yang saya dapatkan, membuat saya makin mengenal tubuh saya sendiri.

No Carbo?

Yang membuat saya stress, puyeng, dan dendam kesumat dengan orang-orang yang berat badannya turun begitu mudah, setelah rutin melakukan yoga, membuat saya lebih tenang, lebih rileks, lebih menghargai pencapaian tubuh sendiri.

Yang BB turun cepat itu, pakai diet dan pola makan apa? Apakah mengurangi karbo sama sekali? Wah, kalau ini jelas saya gak kuat. Bukannya saya belum pernah coba loh. Saya sudah coba dan ternyata gak kuat. Malah mendapatkan efek samping. Apalagi setelah saya mengikuti seminar kesehatan yang diisi oleh Seorang Sinshe Pengobatan Cina. Intinya dalam seminarnya, namanya karbo termasuk juga nasi, itu penting untuk kesehatan. Organ tubuh tertentu, dalam hal ini lambung, butuh karbo.Β Begitu pula ketika suami merekomendasikan nonton youtube Yulia Baltschun, disini juga banyak diterangkan kebutuhan tubuh terhadap karbo.

Saya yang sempat ngin mengikuti pola makan tanpa karbo ini dan bahkan pernah mencoba beberapa kali, setelah mendapatkan banyak informasi seputar kesehatan, akhirnya saya mantap untuk tetap memasukkan unsur karbo dalam pola makan.

No Yoyo?

Masa sebelum menikah dulu, BB saya pernah hampir menyentuh 80 kilo. Beberapa bulan sebelum pernikahan, ternyata saya sakit tipus, dan membuat saya turun BB hingga ke angka 75 kilo. Dari sini, saya mulai diet cukup ketat, berenang plus fitness 4-5x seminggu. Otomatis di usia masih 20 tahunan waktu itu, metabolisme dalam kondisi bagus-bagusnya, maka dalam 2 bulan saya bisa meraih BB 65 kilogram. Wawww! Hepiii? Yess banget!

Setelah menikah, lalu hamil, dan berat naik begitu drastis ke angka 90an. Bahkan ketika sudah melahirkan BB stay minimal di 85 kilo. Nyoba aneka diet tapi gak pernah betah. Otomatis berat ya disitu-situ aja. Sampai kemudian hamil dan melahirkan anak ke-2. Berat masih di angka keramat yaitu 80an, naik menuju 90an, turun lagi ke 80-an, dan seterusnya. Hadeh.

Ini yang bikin saya, capek! Udah deh gak mau lagi, diet yoyo! Gak mau lagi, dan lebih fokus untuk merubah pola hidup, pola makan, pola olahraga, dan pola tidur.

No Olahraga atau No Diet?

Ok ok, jadi kalau kita memang serius pengen turun berat badan ya, gak bisa milih salah satu. Tanpa olahraga? Bisa sih, tapi badan kendur. Tanpa pola makan atau diet yang benar tapi olahraga gila-gilaan? Mmm pengalaman saya, bisa, tapi ya gak nyata banget hasilnya.

Olahraga dan Makan, keduanya harus tetap dikontrol. Termasuk juga pola tidur, pastikan sebelum jam 11 malam, sudah tidur. Karena organ tubuh bekerja ketika kita tidur. Nah, organ-organ tubuh ini melakukan proses detoks mulai jam 11 malam. Jadi, ketika kita masih melek di jam tersebut, kita bisa kehilangan momentum organ tubuh membersihkan dirinya.

Tapi unik memang ya, ketika makan mulai terkendali, pola olahraga juga rutin, kisaran jam 9-10 malam, badan tuh udah minta diajak istirahat, alias mata pun udah ngantuk pengen tidur.

Bahkan, kalau makan dengan jam ngawur dan menu ngawur juga, otomatis pencernaan ikut berontak. Entah begah, entah diare. Wes pokoke tubuh langsung kasih alarm, “Woiiii Na, makanmu ngawurrrr tuh!”.

Jadi gak usah ngiri, kalau lihat progess penurunan BB orang lain itu kelihatan lebih cepat, karena belum tentu polanya cocok dengan tubuh kita. Yes,Β My Body, My Temple. Just concern to your, not others πŸ™‚

 

Istantina atau lebih dikenal sebagai innaistantina, A Lifestyle Blogger asal Jogjakarta. Selain menulis, motret & yoga adalah hobby yang digelutinya. Kenali lebih dekat melalui IG: @innaistantina

2 Comments

  • Fanny F Nila

    beneeer. akupun g mau sembarangan ngikutin cara diet org lain. yg buat mereka cocok, blm tentu bdn ku bisa trima. pernah kok aku coba ngurangin nasi. alhasil, puyeng kliyengan. ada yg bilang itu krn blm biasa. lama2 ga lagi.

    tapi ga deh. aku tau badanku, aku tahu limitku. dgn pekerjaan yg menuntut konsentrasi tinggi, rasa2nya aku bakal butuh lama utk adaptasi. smntara kerjaan jalan trus. akhirnya balik lg k cara konven. jaga pola makan, jogging sesekali :D.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *