Motivator?

Hari ini, saya terlibat percakapan dengan salah seorang temen lama, yang tiba-tiba dia bilang, “Wah sekarang jadi motivator ya mb?”

Hahaa! Pengen ngakak sebenernya saya. Mungkin karena temen saya ini sering liat status-status di Instagram kali ya, karena saya perhatikan dia juga termasuk yang sering mantau instastories yang cukup sering saya share

Mmmm motivator? Duh duhhh duhhh, motivasi diri sendiri aja, saya kadang masih kewalahan! Masih butuh cari cara ngatur segala mood-mood-an ini. Kalaupun saya sharing di sosmed, rata-rata itu seperti apa yang ada di blog aja, lebih kepada kejadian yang saya alami, dan kejadian-kejadian yang menginspirasi hidup saya, ataupun opini saya pribadi tentang sesuatu hal. Pada dasarnya, saya orangnya gemesannn, gemes pengen berpendapat. Ketika ada yang terinspirasi, yaaa Alhamdulillah banget. Ketika orang cuek, yaa uda gih, emang guwe pikirin 😀

Sewaktu ikut pelatihan NLP (neuro language programming) & beberapa hypnotherapy workshop, yang waktu itu sebenernya tujuannya hanya untuk diri sendiri, juga sempet tuh kepikir, apa jadi motivator aja ya? Tapiii enggaklahhhh. Kenapa?

Karena yaaaaa, tuntutan orang akan seorang motivator itu kan besar yaaaaa! Ibarat artis nih ya, sosok motivator ini juga bakal jadi incaran publik, terutama dicari dimana letak kesalahannya. Ok, memang tetep ada yang *manut* dan terkagum-kagum dengan rangkaian kata para motivator, tapi tetep ajaaa, seorang motivator juga manusia, pasti ada kekeliruan yang pernah atau *akan* dilakukannya tanpa sengaja

Banyak temen saya para praktisi NLP & Hypnotherapy, mereka mengambil jalur *motivator* ini. Baik itu untuk urusan personal ataupun dalam skala besar seperti konsultan perusahaan, dll. Lalu saya?

Saya lebih memakai ilmu ini, untuk saya sendiri. Karena saya sempat mengalami momen psikologis yang begitu hebat, dan saya berpikir, daripada saya hanya ke psikolog, mending saya belajar aja ilmunya. Momen apaakah? Next saya bakal ceritakan pasti di blog ini, atau dibikin novel aja? #eeeaaa

Selebihnya, saya menggunakan ilmu tersebut untuk mendidik anak-anak saya, mencari ramuan terbaik supaya mereka tumbuh jadi generasi yang kuat secara keilmuan, akhlak serta hubungan sosial. Dan yang terpenting mereka juga berkembang menjadi anak-anak yang bisa memotivasi diri secara aktif, baik ke dirinya maupun lingkungan sekitarnya

Motivasi itu kalo buat saya, sebenernya nyarinya gak jauh-jauh, ya ke diri kita sendiri. Mau ribuan orang nyuruh kita melakukan sesuatu, kalo kita gak tergerak, ya gak akan bisa

Motivasi juga sama seperti apa yang kita makan, kita baca dan kita dengarkan. Semua yang masuk ke dalam jiwa & raga kita, itulah bibit-bibit motivasi ataupun sebaliknya

Jadi yukkk, mari kita tanam bibit motivasi terbaik di diri kita. Mulai dari sekarang! Karena setiap orang adalah motivator terhebat untuk dirinya sendiri. You are the master of your MIND!




coded by nessus

6 Comments

  1. Saya melihat motivasi dari orang lain itu seperti paracetamol, pereda nyeri. Saat ada masalah pasti adem gitu rasanya baca atau dengar kalimat motivasi. Tapi begitu masalahnya sudah nggak ada, nggak terasa apa-apa 😁

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *