Reflection

Menjadi Toleran, Apakah Salah?

Selama ini saya jarang upload tentang hal-hal yang berkaitan dengan ibadah serta apapun yang melingkupinya. Kenapa? Saya takut. Ibadah apapun bentuknya, baik ragawi maupun ruhawi, kalau saya sebarkan melalui media sosial misalnya, takut diri saya tidak mampu menahan diri dari rasa bangga. Bangga dengan ibadah kita sendiri? Bukankah itu yang membuat nilai ibadah itu berkurang nantinya? Wallahu a’lam.

Saya bukan yang ter-ahli ibadah, pengetahuan saya juga jauh dari sempurna. Yang saya tau dan jelas rasakan, ketika upload atau posting sesuatu yang berkaitan dengan keberhasilan ibadah, baik itu saya ataupun anak-anak saya, artinya kecemasan justru muncul. Cemas jika semua ikhtiar yang berkaitan dengan ibadah menjadi hangus? Apakah demikian? Wallahu a’lam.

Saya lahir dari keluarga yang beragam. Suami saya pun serupa. Om Tante, Pakdhe Budhe kami, ada yang muslim, ada pula yang tidak. Saya hanya berpikir sederhana. Jika saya ngotot dengan apa yang saya percayai, lalu saya paksakan pola pikir Ketuhanan saya ke anggota keluarga yang beda agama, apakah itu berarti saya bisa merusak hubungan silahturahmi persaudaraan? Padahal di Islam sendiri, namanya silahturahmi itu sangat dianjurkan.

Lalu ketika saya ikut menghujat agama ataupun suku dan ras lain, sementara keluarga saya dan suami juga terdiri atas aneka background, apakah itu tidak seperti sedang mengiris-ngiris daging sendiri? Walllahu a’lam.

Apa salahnya menjadi toleran? Apa salahnya belajar menghargai perbedaan? Apa salahnya mendidik anak-anak juga bisa menghargai perbedaan? Apakah ketakutan anak kita akan berpaling arah? Padahal hanya Allah yang bisa membolak-balikkan hati.

Ketakutan banyak orang tua dengan segala pola pergaulan masa kini, menurut saya sangatlah wajar. Sehingga berusaha sebaik mungkin memberikan bekal agama ke anak sedini dan sebanyak mungkin. Tapi satu hal yang jangan sampai kita lupakan, anak juga punya pola pikir, punya akal. Dengan akal ini, ia akan menemukan Allah dengan caranya. Pernah kita lihat, para mualaf kenapa seringkali pengetahuan agamanya bisa melaju dengan cepat? Karena mereka berhasil menemukan Allah dengan akal berikut hatinya. Sesuatu yang berasal dengan proses penemuan, ini yang lebih nyokot, daripada sekedar hanya disuapi saja.

Salah satu keponakan saya, yang pernah study di Jepang, sejak SMA, saya melihatnya sebagai sosok sholehah. Baik dengan hijab syar’i hingga pandangan-pandangannya. Hingga ketika diskusi bersama saya beberapa hari sebelum ia terbang lagi ke Jepang untuk menemani study suaminya.

“Tante, aku dulu sempat berpikir. Nanti anakku harus mengenal agama begini begitu. Bahkan aku sempet loh, Tan, kalo dengan orang beda agama itu agak gimana gitu. Tapi itu semua berubah ketika aku kuliah di Jepang. Pas aku sakit, yang nolong aku pertama itu temen-temenku yang bukan Muslim, bahkan ada temenku yang atheis gak percaya sama Tuhan sama sekali. Disini aku mulai terbuka, bahwa memang Agamaku ya Agamaku, Agamamu ya Agamamu”

Apakah keponakan saya ini terus lepas hijab dan berubah brutal sejak menemui kondisi di Jepang seperti itu? Alhamdulillah, justru keimanan dan keislamannya terlihat makin kuat. Dan disisi lain, ia menjadi makin toleran.

Sejatinya, hidup tiap manusia adalah sebuah perjalanan dengan jatah umurnya masing-masing. Kita mau isi seperti apa, ini memang hak kita sebagai pemilik raga. Iya, kita hanya pemilik raga ini saja, yang inipun hanya titipan semata. Karena hanya Allah lah sang pemilik segala hidup.

Dalam hidup ini, segala persoalan agama, sholat, puasa dan rangkaian ibadah lainnya, adalah hubungan kita dengan Allah, yang tidak bisa diganggu gugat. Sementara hubungan dengan sesama manusia, selayaknya juga tetap upayakan untuk saling menghargai dan menghormati dalam koridor masing-masing.

Kalau manusia haruslah sama, kenapa Allah menciptakan aneka warna kulit di dunia ini?

 

Istantina atau lebih dikenal sebagai innaistantina, A Lifestyle Blogger asal Jogjakarta. Selain menulis, motret & yoga adalah hobby yang digelutinya. Kenali lebih dekat melalui IG: @innaistantina

8 Comments

  • Kartikanofi

    Bener bener menyentuh banget Mbak tulisannya 😭. Persoalan agama adalah hubungan kita dengan Allah. Sedangkan hubungan dengan sesama manusia selayaknya saling menghargai.
    Sekarang kalau menilai orang nggak akan dari agamanya deh, bahkan nggak perlu tau agamanya apa. Yang penting saling menghargai, saling nolongin.

    • innaistantina

      iya mb, saling tolong-menolong ke siapapun apapun latar belakangnya. toh kita pun suatu saat juga pasti ada di posisi mendapatkan pertolongan dari siapa pun yang tidak kita duga dan belum tentu sama keyakinannya dengan kita

  • Mutia Faridah

    Saya terbiasa hidup bertahun-tahun dengan tetangga non muslim. Toleransi itu memang penting sebatas bukan persoalan akidah. Dan mengajarkan akidah pada anak sejak dini akan menjadi pondasinya kelak agar tidak mudah terpengaruh pergaulan yg buruk.

  • ewafebri

    Saya justru tumbuh di keluarga Non Muslim. Menjalankan Puasa sendiri, belajar mengaji justru ke TPA sendiri. Apapun bentuk ibadahnya sendiri. Tapi toh saya gak merasa sendiri. Karena setiap Idul Fitri di rumah juga menyediakan makanan yang umum di makan saat hari raya. Setiap haripun, orang rumah menyediakan makanan yang halal. Yang membedakan kami, saat kami beribadah. Dan biarkan itu menjadi urusan kami masing-masing 😁😁😁

    • innaistantina

      setuju makkk, hidup gak mungkin dalam 1 lingkaran aja, pasti banyak elemen yang terkait, saling menghargai ini nih yang perlu tumbuh, biar aman tentrem

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *