Lifestyle

Masih Suka Galau? Mungkin Kita Kurang Bersyukur

Hari gini, masih jadi IRT galau?

Haduh janganlah, sayang energinya dibuang untuk sesuatu yang gak produktif.  Maksudnya gimana?

Gini-gini, ketika sedih, biasanya kita mengalami efek fisik sebagai berikut:

  1. Badan cepet capek
  2. Sakit kepala
  3. Tegang pada leher dan pundak

Nah, ini masih sebagian dari efek fisik yang kita rasakan ketika kita galau ataupun sedih. Terbayang kalo ini berkepanjangan, maka secara fisik pun kita makin merasa tidak nyaman. Setelah ini apa yang terjadi? Makinlah males-malesan mau ngapa-ngapain, sampai fatalnya males keluar rumah, males interaksi dan sosialiasi. Betul atau betul?

 

Terpuruk

“Ih kenapa sih Mbak Inna bisa ngomong kek gini?”

Lah saya juga sempat loh mengalami hal seperti ini, gak cuma sehari dua hari, sebulan dua bulan. Tapi bertahun-tahun loh! Sampai pada titik, hidup saya rasanya gak berharga lagi, semacam gak hal berarti yang bisa saya lakukan. Gak ada satu hal yang bisa membuat anak-anak, suami dan ibu saya bangga. Duh pokoknya, waktu itu segala macam hal negatif rasanya menyergap! 

Bayangkan, ketika saya kuliah dan lulus dengan nilai terbaik, Ibu tentu berharap lebih ke saya untuk sukses jadi orang kantoran. Oke saya ngantor, tapi ternyata saya gak betah dalam sistem office hour. Lalu nyoba aneka bisnis, modal gak sedikit, dan apa yang terjadi? Ternyata saya gagal lagi dan lagi. Ok, saya mengerti kalo namanya usaha apapun pasti butuh perjuangan. Saya mengerti sekali dengan hal tersebut. Dari mulai bisnis offline maupun online saya jabanin. Demi suatu pemikiran, kalo bisnis itu bisa bikin seseorang cepat sukses.

Hingga saya pun terpuruk, hopeless! Sering nangis sendiri, sensitif dengan apapun yang orang bilang, dan yang terparah saya jadi gak percaya dengan kemampuan saya sendiri. Bertemu dengan teman masa sekolah, kuliah atau jaman kerja dulu, itu rasanya seperti siksaan, karena saya merasa belum melakukan apa-apa.

Bangkit!

Seiring saya berusaha meningkatkan kualitas kedekatan dengan Sang Maha Hidup, seiring saya makin temukan bahwa selama ini  saya sangat kurang dalam hal bersyukur. Saya malu sama Allah. Dengan segala hal yang sudah saya dapatkan, suami yang pengertian, anak-anak yang pintar dan selalu berhasil menyejukkan hati saya, kenapa saya masih mengeluh?

 

Menjadi seorang yang perfectionis memang gak mudah, menginginkan segala sesuatu menjadi sempurna. Itulah saya di masa lalu, bahkan dulu ketika saya ngeprint dan hasilnya ada yang salah 1 huruf aja, saya langsung print ulang. Padahal ini untuk tugas kuliah biasa yang tidak terlalu diperhatikan secara tulisannya.

Bangkit dengan memupuk rasa bersyukur, inilah yang berhasil menguatkan saya. Dan ajaibnya, ketika saya mulai bersyukur, hati makin tenang, dan pola pikir pun makin jernih.

Di tengah kejernihan ini, saya mulai bisa mengulik lagi ilmu demi ilmu yang saya dapatkan di masa lalu. Apa yang bisa saya lakukan dengan segala kemampuan yang pernah saya tempa di masa lalu. Masya Allah, ternyata memang jalan keluar itu berada dekat dengan kita, tapi kadang tertutup dengan ruwetnya pikiran kita sendiri.

 

Hapus Galau Dengan Cara Ini!

Mind is The King. Iya, pikiran adalah raja! Siapa yang bisa mengendalikan? Diri kita sendiri pastinya. Nah, lalu gimana cara menghapus galau dan membuat kita lebih bisa mengontrol pikiran kita sendiri?

1. Tekuni Hobby

Cari dan tekuni hal yang kita suka, bisa berupa menulis, memasak, melukis, merajut, atau apapun yang memang benar-benar pernah kita sukai di masa lalu. Atau bisa juga hal baru yang belum pernah kita tekuni, tapi menarik, ambillah kesempatan untuk belajar hal tersebut, perdalam, dan berikan yang terbaik. Tidak harus mencari sesuatu dengan budget besar, lakukan sesuai kemampuan aja ya. Namanya hobby itu sesuatu yang menyenangkan dan tidak membebani.

2. Perpanjang Silahturahmi

Berkumpullah dengan saudara atau teman-teman yang bisa membangun kepercayaan diri kita, artinya perluas jaringan silahturahmi, dari sini kita bisa bertemu dengan orang-orang yang bisa saling mendukung apa yang tengah kita upayakan. Makin kita menutup diri, maka kita sebenarnya kita sedang menutup pintu rejeki kita sendiri. Memang benar adanya, jika silahturami itu memperpanjang rejeki. Dengan kita makin sering berkumpul dengan banyak komunitas, maka Insya Allah rejeki pun akan lebih mudah mengalir.  Otomatis, dengan kita makin percaya diri, rejeki makin mengalir, maka galau kita pun menjadi sangat berkurang.

2 cara diatas, sepertinya sederhana, tapi kadang menjadi sulit kita lakukan, kalo kita gak bener-bener mau membuka diri. Artinya ikhlas terlebih dulu dengan kondisi yang ada, lalu bertahap sembuhkan segala kegalauan dengan sesuatu yang lebih produktif dan bermanfaat.

Istantina atau lebih dikenal sebagai innaistantina, A Lifestyle Blogger asal Jogjakarta. Selain menulis, motret & yoga adalah hobby yang digelutinya. Kenali lebih dekat melalui IG: @innaistantina

3 Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *