Entertainment

Masih Suka Dengar Radio?

Masih ada yang suka dengerin radio?

Kalau saya sih masih, terutama pas anter jemput anak-anak sekolah/ les, di momentum ini radio jadi teman terbaik saat nyetir. Apalagi perjalanan di Jakarta yang minimal 30-40 menit sekali jalan, daripada manyun dan cengok lihat kemacetan, mending sambil denger radio.

Untuk saat ini, ada 2 stasiun radio yang saya suka dengerin. Pertama, Jak FM, ini yang paling rutin dari mulai berangkat sekolah sampai pulang sekolah. Lagu-lagunya asik, penyiar-penyiarnya juga kelas kakap semua, dari mulai Ronald, Tike, Melissa, yang bener-bener klop ngisi pagi hari. Kedua, Radio Elshinta, yes ini radio berita, biasanya sih dengernya pas ada kejadian-kejadian tertentu aja, seperti waktu listrik padam sejabodetabek, nah ini bisa mantau radio ini kisaran beberapa hari.

Radio Sebagai Pusat Hiburan & Informasi

Buat saya, yang juga pernah siaran dan menekuni dunia radio secara langsung sejak kuliah, radio itu sumber segala informasi dan hiburan buat siapa saja. Mudah dijangkau, dan kita bisa beraktivitas apa saja sambil dengerin radio. Informasi dari mulai formal sampai ke informal tersaji di radio. Biasanya yang suka berita, bakal mantengin radio-radio berita seperti Trijaya, Elshinta, Sonora, ataupun radio sejenis. Sementara yang lebih suka hiburan, radio-radio seperti Prambors adalah radio incaran. Secara segmentasi pun beraneka ragam. Ada radio KAMU, yang memang secara bahasa lebih gaul, renyah, dan cair ke pendengar serta radio ANDA, yang memang kesan formal langsung terpancar di radio tipe ini.

Radio selalu punya tempat yang spesial di hati saya. Sejak kenal asiknya dengerin radio mulai kelas 6 SD, maka sejak itu, hampir puluhan tahun perjalanan hidup saya gak pernah jauh dari yang namanya radio. Sampai kemudian ketika SMP punya cita-cita pengen jadi penyiar radio, dan tercapai ketika kuliah. Inilah kenapa, radio is always special for me.

Terakhir aktif di dunia radio itu kisaran tahun 2017-2018, saya kok agak lupa persisnya kapan ya :D. Tapi yang jelas, di masa-masa sekarang, banyak stasiun radio yang juga berjuang untuk transisi ke dunia yang makin digital dan online. Kalau jaman dulu, orang denger radio pake radio tape memang masih banyak, kalau sekarang semua serba bergeser. Coba cek rumah-rumah sekarang, pasti udah jarang banget yang punya radio tape portable gitu kan? Di rumah saya juga gak ada. Kalau pas di rumah pengen denger radio, alternatifnya bisa pake tv cable yang juga memuat siaran beberapa stasiun radio atau pake aplikasi di smartphone.

Ini yang membuat, radio masa kini harus bergegas menyesuaikan dengan keadaan, kalau tidak mau tertinggal atau *ditinggalkan* penggemarnya. Untuk Jogja sendiri, yang masih banyak daerah pedesaan, sepanjang saya siaran & terima telpon dari pendengar, masih ada beberapa yang menggunakan radio portable.

Siaran Radio Tergusur Oleh Youtube?

Saya tanya lagi nih, masih ada yang denger radio? Bisa jadi hanya beberapa yang jawab iya. Tapi kalau saya tanya, masih denger lagu? Ini pasti banyak yang jawab iya. Hanya saja memang, kalau dulu radio itu satu-satunya akses untuk denger lagu kecuali ketika kita beli kaset/cd, sementara sekarang fungsi mendengarkan lagu lewat radio udah banyak tergantikan oleh youtube. Siapin kuota yang cukup atau melipir cari wifi gratisan, tinggal download aja tuh lagu-lagu di youtube, mau versi per lagu ada, mau satu jam full koleksi lagu-lagu yang kita suka, juga ada.

Nah, ini jadi PR untuk stasiun radio untuk menggerakkan kemampuan kreatif yang mereka punya, karena on air saja tidak cukup. Perlu dukungan sumber daya online, seperti website dan sosial media. Sebenarnya kalau stasiun radio melihat peluang online ini, selain bisa mendapatkan klien yang pasang iklan on air, dengan kekuatan online maka membuat posisi tawarnya makin tinggi.

Kenapa Masih Suka Denger Radio?

Dengan maraknya konten youtube dan pilihan-pilihan acara serba menarik di tv cable maupun Netflix, rupa-rupanya acara-acara di radio tetep bikin saya jatuh cinta dan gak bisa berpaling ke lain hati. Berikut alasan saya kenapa sampai detik ini masih suka denger radio:

“Intimacy”

Iya, kalau denger lagu itu bisa dari mana saja. Tapi menurut saya pribadi, semacam kurang greget, karena tetep lebih asyik ketika ada host dalam hal ini ada penyiar yang menyajikan lagunya. Semacam ada intimacy atau kedekatan tersendiri, ketika denger lagu terus ada penyiarnya. Jadi gak cuman lagu doang. Tetep ada pengantar ataupun komen-komen manis dari si penyiarnya. Ini nih, yang bikin selalu ngangenin denger radio. Pak Bambang (alm), salah satu senior dan pimpinan saya waktu masih aktif di radio pernah bilang, “Radio boleh aja banyak, radio A, B, C dst, dan dari radio yang banyak itu muter lagu yang sama. Gak masalah. Yang penting penyiarnya, karena penyiar yang bagus itu punya Air Personality yang khas, yang selalu diingat pendengar. Air Personality ini yang membedakan satu penyiar dengan yang lainnya”.

“Imajinatif”

Pernah gak, denger radio terus senyum-senyum sendiri? Entah itu karena denger iklan yang konyol misalnya? Atau denger komen-komen kocak penyiarnya? Nah, ini nih sensasi yang gak bisa kita dapetin ketika kita nonton gadget yang audio-visual. Hanya fokus di audio inilah yang bikin radio punya kelebihan dibanding hiburan-hiburan lainnya, kita bisa lebih imajinatif. Apalagi jaman dulu, denger suara penyiar yang merdu dan nggandem bisa bikin jatuh cintaaa, eee pas ketemu langsung ternyata jauh banget dari ekspetasi, xixixixiii.

Nah, kamu-kamu gimana? Masih suka denger radiokah? Radio apa? Terus-terus denger radionya pas aktivitas apa saja?

Istantina atau lebih dikenal sebagai innaistantina, A Lifestyle Blogger asal Jogjakarta. Selain menulis, motret & yoga adalah hobby yang digelutinya. Kenali lebih dekat melalui IG: @innaistantina

39 Comments

Leave a Reply to Nia K. Haryanto Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *