Reflection

Kuliah Lagi?

Bisa dibilang, beberapa tahun terakhir, saya mengalami kebimbangan luar biasa. Tentang apa yang sebaiknya saya lakukan, utamanya dalam berkarya. Mencoba peruntungan di berbagai bisnis, but deep down in my heart, that’s not me. Itu bukan saya, atau sesuatu yang saya benar-benar interest. Memilih berbisnis waktu itu, karena ingin menambah pundi-pundi keuangan keluarga.

Beberapa tahun belakangan, saya juga menekuni dunia menulis dan blogging. Apakah ini masih kurang? Meski saya rasa ini sudah tepat, tapi merasa masih ada sentuhan yang kurang. Saya suka nulis, saya suka ngeblog, tapi masih ada space kosong didalam yang perlu diisi.

Beberapa waktu ini, saya juga fokus ke kesehatan saya dengan menempa fisik melalui yoga. But still, meski saya suka dengan segala gerakan yoga yang sederhana serta menantang, I still need something more!

Beberapa tahun belakangan ini, dengan segala carut marut lahir batin yang terjadi, saya jadi makin mengenal diri dan pribadi saya. And yes, I’m almost 40 years old, dan saya baru mengenal diri saya sesungguhnya.

Gagal Ikut UMPTN

Pagi ini, di tengah doa selepas sholat Dhuha, entah kenapa pikiran saya melayang ke satu masa, yaitu kuliah. Saat saya lulus SMA, saya pergi ke Jakarta, ceritanya ingin hijrah dan kuliah di UI. Berniat ikut UMPTN, mengambil pilihan 1) Psikologi, 2) Komunikasi dan 3) Sastra  Inggris. Apa daya, ketika jelang hari H tes berlangsung, saya sakit cacar air yang sudah komplikasi kemana-mana, karena saking parahnya. Ya, ternyata cacar air yang sederhana bisa jadi membahayakan ketika si penderita sedang banyak pikiran dan terlalu lelah.

Mungkin karena waktu itu saya hampir tiap malam begadang untuk belajar, dan pressure ke diri sendiri untuk bisa tembus kuliah di UI, yang membawa fisik dan mental saya justru tertekan dan rapuh. Selain cacar air, dokter juga menemukan bahwa saya sakit tipus ditambah bronchitis karena cacar pun sudah menyebar bukan hanya di permukaan kulit luar saja tapi juga ke organ dalam tubuh.

Kakak sulung saya, sempat ngotot ke dokter, supaya saya tetap ikut UMPTN. Tapi dokter bilang, “Bapak yang terima resiko tapi nanti ya kalo cacarnya menyebar lebih luas lagi, ini sudah dekat dengan saluran pernafasan Pak”. Akhirnya kakak saya luluh, dan saya pun yang waktu itu masih terbilang bocah pun, hanya manut apa yang para orang dewasa pikir baik buat saya.

Gagal ikut UMPTN di Jakarta ini, membawa saya pulang ke Jogja, dan berharap ikut UMPTN tahun berikutnya. Sambil menunggu tahun berikutnya, kakak saya minta minta supaya saya kuliah dulu, “Terserah kamu aja Na mau kuliah dimana, yang penting kuliah”, begitu ucapnya saat itu.

Tanpa pikir panjang, saya pikir oke lah, saya ke salah satu kampus terdekat dari rumah, yaitu UPN yang waktu itu masih berstatus kampus swasta. Setelah melihat aneka jurusan yang ada,ada jurusan komunikasi yang juga saya rencanakan sebelumnya. Tapi karena jurusan ini masih akreditasi B, maka saya pikir ulang. At the end, tanpa konsultasi ke siapapun, hanya mengikuti nalar, saya memilih jurusan HI (hubungan internasional). Kenapa saya pilih jurusan ini? Karena saya lihat di brosur ini sama-sama satu fakultas dengan komunikasi. Dan seperti pesan kakak saya, “Sing penting kuliah”.

Gagal Lolos UMPTN

Selama 1 tahun kuliah di HI, saya hanya mengikuti alur saja, selesai kuliah terus pulang ke rumah. Istirahat sebentar, lalu sore atau malamnya ikut les persiapan UMPTN tahun berikutnya. Ya, saya masih ingin mengejar cita-cita saya masuk universitas negeri. Bukan hanya satu tempat les, tapi sampai 2 yang saya ambil, yaitu Neutron dan SSC. Mostly, sepanjang semester 1 dan 2 di jurusan HI UPN, waktu saya cukup tersita untuk belajar mempersiapkan UMPTN.

Beberapa kali uji coba UMPTN seluruh cabang Neutron maupun SSC, saya selalu mendapatkan nilai bagus dan mendapat peringkat. See, saya merasa di awang-awang. Sering pun berkata ke diri saya, “Ah ini mah pasti dapet!”. Hingga tiba harinya tes UMPTN, kali ini saya tempuh di Jogja dengan pilihan utama Komunikasi UGM, tapi saya agak lupa dengan pilihan lainnya apa. Beberapa hari setelah tes, koran daerah setempat yaitu Kedaulatan Rakyat membahas tentang soal-soal UMPTN. And you know what, setelah saya hitung, ternyata nilai saya cukup signifikan, mencapai 72% benar, artinya kesempatan besar untuk lolos ke jurusan dan universitas negeri yang saya inginkan.

Hingga tiba waktunya pengumuman, dan ternyata takdir berkata lain. Saya tidak lolos UMPTN. Saya merasa gagal segagal-gagalnya. Merasa udah berusaha dan berdoa semaksimal mungkin, tapi impian tidak tercapai. Sahabat saya, Iwan Prasetyo, yang pernah saya tuliskan di tulisan ini >> http://www.saddhastory.com/2018/12/sepeda-onthel-penebus-impian.html, Iwan yang juga memberi kabar ke saya kalau saya tidak masuk. Iwan juga tau benar gimana perjuangan saya kuliah sambil les untuk tetap bisa masuk ke UGM. Saat saya cek sendiri, hasilnya pun juga sama. Saya gagal lolos UMPTN.

Fokus Siaran di Radio

Alhamdulillah, tidak berapa lama, saat masuk semester 3, seorang kakak kelas, Mas Erwin yang masih sering kontak dengan saya, memberi kabar kalo ada lowongan menjadi penyiar radio di tempatnya bekerja sebagai reporter, yaitu Unisi Radio. Lalu saya ingat lagi dengan cita-cita saya masa SD dan SMP dulu, yaitu pengen banget jadi penyiar radio. Dan ternyata, dengan beberapa rangkaian tes, saya lolos dan berhasil jadi penyiar di radio tersebut.

Setelah saya cerna kembali, saya menjadi penyiar ini benar-benar sebagai obat kekecewaan saya setelah gagal ikut UMPTN di Jakarta dan juga gagal lolos UMPTN di Jogja. Saya seperti punya dunia saya sendiri, yang menyenangkan. Bahkan demi jam siaran, saya gak peduli dengan mata kuliah apa yang saya ambil, yang penting saya bisa siaran. Intinya, jam kuliah menyesuaikan jam siaran. Toh, saya kuliah juga bukan sesuatu yang saya minati, pikir saya waktu itu.

Meskipun saya jarang masuk kuliah, dan hanya masuk di kelas-kelas khusus Dosen Killer ataupun Dosen yang sangat hapal dengan mahasiswanya, nyatanya nilai saya hampir selalu baik. Seorang teman pernah bilang, “Asemm ik Inna, jarang mlebu bijine A karo B terus’. Jujur, waktu itu saya bukan mahassiwa yang juga sering belajar, wong saya belajarnya hanya di malam sebelum ujian paginya. Satu-satunya nilai C, hanya 1, dan ini pun bisa saya ulang saat semester pendek dan mendapat nilai B.

Jam padat pekerjaan di radio, dan asal-asalan memilih mata kuliah, ternyata membuat saya lolos dalam seleksi Magang ke Departemen Luar Negeri. Saya lebih memilih ikut seleksi ini, dibanding saya harus KKN ke desa-desa, yes itu pikiran saya waktu itu. Padahal kalo sekarang, bisa saja saya bisa memilih berbeda. Magang 3 bulan di Deplu, lalu balik kuliah dan menempuh skripsi dengan hasil A, dan lulus dengan predikat Kumlot dengan IPK 3.7.

Alasan Pengen Kuliah Lagi?

Seiring dengan menulis postingan ini, dengan latar belakang asal-asalan memilih jurusan kuliah, saya membulatkan niat untuk bisa kuliah lagi. Bahkan berani ambil resiko untuk kuliah mulai dari jenjang S1 lagi. Bagi saya tidak masalah, pendidikan bisa dikejar di umur berapapun. Yang menjadi masalah mungkin di faktor biaya. Ini yang benar-benar harus saya pikirkan masak-masak. Keinginan ini sudah pernah muncul beberapa tahun lalu, tapi semacam belum kuat niatnya. Pagi ini, hari ini, menjadi momentum awal niat terkuat saya, ingin kuliah lagi.

Jurusan yang ingin saya ambil yaitu Psikologi. Karena disinilah minat saya selama ini. Sebenarnya dulu pernah ambil S2 Psikologi saat di Jogja, tapi saya berhenti setelah proses matrikulasi karena merasa kurang tantangan. Yah, namanya sebuah keputusan, pasti ada masa kita pernah terlalu buru-buru mengambil sebuah keputusan. Buat saya, tidak ada yang namanya keputusan itu salah, yang ada adalah kita terlalu terburu-buru.

Jika Allah mengijinkan, memberi keluasan rejeki, baik itu uang, kesehatan, dan juga waktu, Bismillah saya pengen banget kuliah lagi, bahkan jenjang S3 Psikologi pun bakal saya lahap sepenuhnya. Yang saya butuhkan saat ini adalah, kesempatan. Ya, sebuah kesempatan. Semoga suami saya meridhoi, semoga Allah meridhoi. Amin

Istantina atau lebih dikenal sebagai innaistantina, A Lifestyle Blogger asal Jogjakarta. Selain menulis, motret & yoga adalah hobby yang digelutinya. Kenali lebih dekat melalui IG: @innaistantina

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *