Reflection

Kota Ini, Bukan Sekedar Membekas Dalam Kenangan!

Sebagai anak bungsu di keluarga, dengan jarak 11 tahun dengan kakak saya kelima, membuat saya menjadi anak yang selalu ikut kemanapun Bapak dan Ibu pindah kota. Hampir tiap beberapa tahun sekali, saya mengalami episode sebagai siswa baru di sekolah.

Hingga ketika menikah dan suami pindah tugas ke Kalimantan Selatan, saya dan Ical, anak pertama ikut serta. Tinggal di rumah kontrakan, yang tidak terlalu besar, tapi dengan halaman sangat besar, yang kadang bikin spooky saat malam menjelang. Apalagi dengan suami yang sering tugas di wilayah kalimantan lainnya beberapa hari, Β membuat rumah dan halaman makin lah lapang dan kosong. Hanya saya dan Ical.

Iya, keputusan untuk tidak menggunakan jasa ART, adalah keputusan saya sendiri. Suami menawarkan untuk mencari bantuan orang yang bisa cuci ataupun setrika, tapi dasar saya, yang tidak mudah percaya dengan orang lain, apalagi ini di tempat yang benar-benar baru buat saya, maka saya memilih mengerjakan semua pekerjaan domestik sendiri. Padahal sebelumnya, dari mulai kecil, saya tidak terbiasa mengerjakan semua hal yang berkaitan dengan pekerjaan rumah.

Masak, nyapu, ngepel, cuci, setrika, beberes rumah, hal-hal yang saya kerjakan serentak ketika tinggal di Banjarbaru, salah satu kota di Kalimantan Selatan. Pernah suatu hari, saat suami sedang dinas keluar kota, badan sudah cukup lelah, saya ajak Ical untuk cari makan keluar rumah. Dan gak gampang, karena perlu jalan kaki cukup lama. Tidak ada kendaraan pribadi, karena hanya 1, itupun dibawa suami bekerja. Angkutan umum andalannya, tapi lewat hanya sesekali saja.

Pernah kita liburan ke Danau di Banjarbaru, dengan jarak tempuh cukup jauh menggunakan motor, sementara di Jogjakarta pergi sejauh itu pasti menggunakan roda empat. Sungguh, pengalaman yang luar biasa dan begitu manis ketika dikenang kembali.

Di kota inilah, Banjarbaru, saya benar-benar belajar tentang hidup. Belajar tentang bagaimana mengelola rumah dan isinya. Belajar bikin soto pertama kali, belajar eksplorasi aneka masakan, yang kadang berhasil, dan sering juga gagalnya.

Bahkan di sini juga, saya mulai belajar untuk serius ngeblog, bahkan sampai punya belasan blog dengan domain pribadi, karena memang waktu itu targetnya adalah mendapat penghasilan dollar dari google adsense. Meski gaya ngeblog saya sekarang berbeda, tapi saya sangat hargai waktu begadang saat itu, untuk mencari ilmu secara online tentang bagaimana blogging itu. Padahal, internet sangat lemot, untuk membuka satu halaman posting blog pun kadang membutuhkan waktu hampir 10-15 menit.

Dengan segala kesulitan, ketidakmudahan akses, justru di kota inilah saya merasa benar-benar HIDUP. Gak nyangka, anak bungsu yang terbiasa dengan segala-segala ada, mendadak harus bertransformasi menjadi sosok kuat yang bisa segalanya. Sayangnya, dengan semangat saya yang tinggi, badan saya justru yang tidak kuat, hingga harus opname karena tipus. Di titik inilah, yang membuat suami dan terutama Ibu saya tidak tega, dan sempat membuat saya patah hati, karena harus balik ke Jogjakarta.

Ya, saya tahu bahwa keputusan tersebut, karena orang-orang tersayang di sekitar saya, ingin saya merasa nyaman. Tapi ternyata, setelah saya pulang ke Jogja, hingga hari ini pun, saya selalu kangen untuk hidup kembali ke masa dimana perjuangan adalah sesuatu yang membentuk mental dan kepribadian.

Dengan kebiasaan di Banjarbaru, saya memang jadi terlatih untuk membantu pekerjaan rumah, hingga ketika punya rumah sendiri di Jogjapun, saya memilih tanpa ART. Insyaa Allah, ketika nanti pun saya dan anak-anak menyusul suami ke kota dimana ia bekerja, saya lebih kuat dari sebelumnya.

Yes, sayang seribu sayang, banyak foto di Banjarbaru yang hilang bersamaan dengan hape saya dan suami yang rusak. Beberapa yang saya upload di blog, juga ikut lenyap, saat blog gratisan saya waktu itu juga gak bisa diakses sama sekali. Hanya beberapa foto yang kami upload di facebook, dan ternyata ada beberapa yang kita resize terlalu kecil. Harap maklum, karena internet yang super lemot, kadang untuk upload foto pun harus dengan trik dikecilkan ukurannya, dan ternyata terlalu kecil πŸ™

Salah satu foto yang masih layak untuk tayang, dan punya segudang cerita, adalah foto ini. Saat Ical masih sekitar 2-3 tahunan. Corat-coret dinding yang sebelumnya sudah saya dan suami cat untuk keperluan menempati kontrakan tersebut. Tak apalah, harga sebuah minat bakat anak lebih tinggi daripada sekedar ngecat tembok.

Syaratnya memang Ical hanya boleh corat-coret di tembok di sisi tersebut saja. Jadi sekalian mengajarkan bahwa boleh berekspresi, tapi ada batasan juga yang perlu dipelajari.

Sepenggal cerita di Banjarbaru, memang senantiasa menjadi rekaman indah. Bukan hanya sekedar kenangan indah, tapi juga pelajaran hidup. yang sangat penting.

Kota ini sangat berarti buat saya. Teman-teman punya kota tertentu yang begitu membekas di hatikah?

Istantina atau lebih dikenal sebagai innaistantina, A Lifestyle Blogger asal Jogjakarta. Selain menulis, motret & yoga adalah hobby yang digelutinya. Kenali lebih dekat melalui IG: @innaistantina

One Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *