Lifestyle

Ketika Sosmed Tetangga Lebih Hijau

‘Wah enak ya Mbak hidupnya, jalan-jalan terus?”

“Kamu sih enak Na, anak cuman 2, gampang akses kemana-mana”

“Ya kamu kan IRT Na, bisa enak dampingin anak-anak kapan aja”

Mmmm mmm mmm

Di mata orang lain, terutama di sosial media, sepertinya hidup kita itu tampak lebih enak ye? Ya, sama lah seperti saat kita lihat kehidupan selebriti di sosmed, mesraaaa gitu, kompakkk gitu, eee tapi gak tau juga kan jeroannya seperti apa? *lah malah nggosip*

Baiklah daripada kita nggegosip berkepanjangan, mending dengan hati jernih, mata dan pikiran terbuka, kita bedah baik-baik dulu hidup kita. Kita syukuri apa yang sudah ada dalam hidup kita saat ini.

Jika ada keluarga yang sering memperlihatkan jalan-jalan terus, bisa jadi keluarga itu seperti saya, suami dan anak-anak. Yang selama belasan tahun ini kami masih LDR-an. Satu-satunya WE TIME kami adalah dengan menyiapkan waktu khusus, terutama di saat anak-anak liburan, untuk jalan-jalan ke lokasi yang kami pilih.Β 

Lalu ketika kenapa anak saya sementara ini 2? Ya so far, planning saya dan suami seperti ini. 2 anak cukup. Alhamdulillah. Toh, nanti misal nih kami dapet anugerah tak terduga berupa anak ketiga atau keempat, ya tentunya bakal mengucap syukur luar biasa. Karena anak juga terlahir karena ridho Allah, segimana alat kontrasepsi yang kita pakai kan? Wong temen saya aja, pake IUD juga kebobolan? Wong Ibu saya aja yang waktu hamil saya juga kebobolan meski usianya hampir 40 tahun, gara-gara lupa aja gitu minum Pil KB.

Dan ketika antara IRT dan bukan IRT saling berlomba siapa yang bisa punya waktu lebih banyak dengan anak, ya tentu menang si IRT ini lah, tapi apa jaminan kalau banyaknya waktu yang ada itu bener-bener quality time bersama anak? Kakak ipar saya, dulu juga sempat ngantor sampai anaknya SD atau SMP gitu ya, tapi seingat saya, ia selalu telpon di jam-jam tertentu ke anaknya, tiap wiken nyempetin keluar rumah. Bangun lebih awal dan tidur lebih larut demi nyempetin ngurus rumah dan anak dulu sebelum kerja. Bagi saya itu amazing banget! Belum tentu, saya yang IRT begini, sanggup seperti kakak ipar saya tersebut. Bahkan nih ya, kedua anaknya bisa sekolah di tempat unggulan dengan nilai yang bisa dibilang gak jelek juga.

Kenapa Menyimpan Memori dalam Sosial Media?

Nah ketika saya memilih untuk menyimpan segala kenangan di dalam sosial media, alasannya sederhana aja, lah wong gratis! Blog berbayar seperti ini misalnya, jaminan gitu akan everlasting? Dan gak bisa sebebas saya upload di dalam sosial media. Istilah teman saya, “nitip di sosial media”.

Tiap orang punya pilihan hidup, mau anak 1-2-3 sampai 6 pun, asal punya ritme hidup yang jelas, juga bakal nyaman. Mau IRT atau perempuan bekerja, asal punya komitmen tentang apa pilihannya, juga bakal asyik kok hidupnya.

Alasan kedua, adalah karena sebagai blogger, PENCITRAAN tentang apa yang saya kerjakan itu penting banget lewat sosial media. Kalau jaman dulu, blogger hanya bisa dikenal ketika ada yang mampir ke blognya, untuk jaman sekarang ini, faktor sosmed sangat dipertimbangkan oleh klien. Seorang blogger juga wajib nunjukin, bisa apa saja sih, karyanya apa aja, karena bisa jadi dari hal-hal yang diupload itu menarik pihak tertentu untuk endorse produk/ jasa. Yap, bahasa kerennya Personal Branding sangat penting. Nah, saya yang memilih jalur sebagai LIFESTYLE BLOGGER, ya saya tunjukin itu di dalam sosial media yang saya jalankan.

Dengan Sosmed atau Tanpa Sosmed, Hidup itu tetap Indah!

Yes, hidup kita itu indah gaessss, sungguh indah. Suami saya sempet bilang pengen menghapus akun instagramnya, and he did it! Cuma facebook dan linkedin aja yang suami pertahankan, untuk relasi dengan teman-teman sekantor & seprofesinya. Lah kalau saya, saat ini saya belum sanggupppp! Suami juga bilang, “Kalau Bunda kan emang kerjaannya disitu, kalau Ayah kan cuma buat tegur sapa aja ke temen-temen lainnya”. Saya hepi dengan sosmed saya yang hampir semua aktif, suami juga hepi aja dengan minim sosmed. So, happy or not happy, not decided by how many sosmed you have!

Kapan Waktunya Menutup Sosmed?

Salah satu alasan suami menutup salah satu sosmednya, ya karena ribet aja gitu, kalau harus handle banyak sosmed, dan menurutnya sih gak ada fungsi ke kerjaan atau profesinya sekarang. Plus hape juga otomatis jadi lebih berat kan? Yang mending buat simpan data yang berkaitan dengan pekerjaan. Nah, ini menurut saya alasan logis juga buat menutup akun di sosial media.

Buat yang mungkin cepet panas juga nih, sama status teman sosmednya, mungkin boleh tuh dipertimbangkan nutup akunnya, supaya riset bahwa kecanduan sosmed itu bisa masuk kategori penyakit jiwa, duh kan ngeri? Karena gini loh, ngapain kita punya sosmed, kalau ujung-ujungnya kita malah stres, terus nyinyirin dengan komen-komen gak bertanggungjawab, sampai melakukan stalking sepanjang masa? Wes wes kalau udah menunjukkan gejala seperti itu, udah tutup aja sosmednya, artinya sosmed bikin ente gak sehat!

Sosmed-an yang sehat itu kalau kita hepiiii ngejalanin as sosmed-er, apalagi kalau bisa ngasilin duit dari sosmed kan ye? Bikin hati senang, pikiran sehat, dan kantong pun sehat πŸ˜€

Istantina atau lebih dikenal sebagai innaistantina, A Lifestyle Blogger asal Jogjakarta. Selain menulis, motret & yoga adalah hobby yang digelutinya. Kenali lebih dekat melalui IG: @innaistantina

18 Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *