Parenting

Ketika Si Kakak Semakin “Kritis” dan tidak lagi “Manis”

Sejak memasuki usia 4 tahun, Ical, putra pertama kami makin menunjukkan kekritisannya. Kalo bahasa awamnya mungkin lebih dikenal dengan “ngeyel”, hehe. Keliatan sekali dari cara bicaranya, penolakan-penolakannya, pertanyaannya yang serba detail, yang tidak jarang menguji kesabaran. Eksplorasi kosakata yang digunakan pun makin beragam, kadang ada kata-kata “ajaib” yang entah Ical dapatkan dari mana, mungkin saja dari tempat sekolah atau lesnya. Yang pasti kata-kata tersebut, bukan kata yang lazim kami gunakan di rumah, bahkan sama sekali gak pernah kami pakai.

“Oalahhhh tak kiro anakku thok sing koyo ngene”, begitu kata salah seorang sahabat yang punya anak seumuran dengan anak pertama saya. Barangkali itu juga yang Mom rasakan sekarang. Kenapa si kecil yang awalnya manis, kok pada usia tertentu jadi bikin tanduk pengen keluar dari ubun-ubun? Hehe.

Beberapa teman psikolog, memberi penjelasan jika usia-usia 4 tahunan ini masa anak makin kritis dengan sekitarnya. Yang biasanya bersikap manis dan menggemaskan, bisa jadi ketika usia tersebut menjadi sebaliknya, bikin orang tua kewalahan dan geregetan. “Harus lebih sabar memang”, begitu ucap salah satu teman saya yang aktif di dunia pendidikan & psikologi.

Yup, menjadi bijak dan lebih bersabar menghadapi si kecil yang makin kritis, merupakan cara terbaik yang bisa kita lakukan sebagai orang tua. Momen inilah sebenarnya kita sebagai orangtua punya kesempatan emas untuk menanamkan kepercayaan ke anak. Saya pun senantiasa belajar dari hari ke hari, apa yang terbaik untuk menghadapi ke’kritis’an si kecil. Nyesel banget rasanya, kalo respon yang keluar itu berupa bentakan. *So Sorry Nak*

Malam tadi, ada suatu momen unyu antara saya dan Ical. Sedari kecil sebelum beranjak tidur, Ical selalu saya ajak untuk merewind apa saja aktivitasnya hari ini, apa yang membuatnya senang dan tidak, apa yang menurutnya menarik, dan sebagainya. Hingga pada suatu topik, Ical bilang: “Bunda aku gak suka kalo disalahin terus”. “Astaghfirullahaladzim… Maafin BundaYa Nak…” Spontan saya langsung minta maaf ke Ical. Rupanya Ical tidak suka saat saya terlalu worry dengan Ical yang sering kali terlampau aktif dan heboh bermain dengan adeknya yang masih bayi 8 bulan, yang menurut penilaian saya terlalu membahayakan adiknya. Sebenarnya disini bukan isi dari apa yang disampaikan, tapi lebih kepada cara kita menyampaikan ke anak kita bahwa suatu hal itu baik atau tidak. I do my best Ical! Next, Bunda do better y!

Kita sebagai orang tua kadang lupa bahwa si kecil ya si kecil, bukan bawahan atau karyawan kita bukan sosok dewasa yang sepatutnya mengerti dengan apa seharusnya dan tidak. Apa yang kita harapkan dari anak usia 4-5 tahun Mom? Pengertian? Pemahaman? Bukankah seharusnya kita yang dewasa yang melakukannya terlebih dulu?

Terimakasih sudah berkunjung dan komen di blog ini, komen akan dimoderasi terlebih dahulu sebelum tampil :)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *