Ketika Restu Di Tangan

DSCN1337“Mbak, aku gak boleh Oriflameman ama suamiku”

Beberapa kali saya mendapatkan curhatan seperti ini dari para tim kerja saya di Oriflame. Beberapa diantaranya akhirnya memutuskan untuk mundur, ada juga yang sembunyi-sembunyi, bahkan ada yang tetep kekeh berjuang untuk meyakinkan suaminya.

Suatu hari saya pernah diskusi dengan suami saya, terutama apa sebenernya yang ada dalam pikiran para suami, ketika istrinya yang awalnya ibu rumah tangga biasa, memutuskan untuk ikut berbisnis & punya penghasilan sendiri.

Bukankah itu nantinya juga membantu ekonomi keluarga? Bukankah lebih baik ketika punya pemasukan keluarga dari 2 pintu rejeki, dari rejeki suami dan rejeki istri?

Iya itu menurut saya, iya itu juga menurut suami saya. Yang berpendapat bahwa sah-sah saja ketika istri punya bisnis atau usaha yang bisa dijalankan secara fleksibel, sehingga anak-anakpun tetep bisa terpantau.

Apakah ini karena ego? Secara structural psikologis, bisa jadi ego dalam diri laki-laki yang tidak memperbolehkan istrinya punya usaha sendiri.

Saya tetap berusaha untuk berprasangka baik, semoga saja bukan karena takut nanti istrinya punya penghasilan lebih besar dari suami, tapi lebih kepada citra atau prestige suami yang barangkali khawatir dianggap masyarakat sekitar tidak mampu atau tidak bisa memenuhi kebutuhan rumah tangga, kebutuhan sandang pangan papan untuk anak-anak & istrinya.

Atau mungkin saja si istri pernah beberapa kali mencoba usaha ini itu gagal, dan membuat ekonomi keluarga malah makin parah. Kalo atas alasan ini, sepertinya kita sendiri sebagai istri yang sebaiknya benar-benar memantaskan diri, setidaknya menunjukkan dengan kesungguhan bahwa kita berubah dan bisa berhasil di bisnis yang kita pilih.

Sejatinya, bukan satu atau dua orang aja kok yang mengalami hal ini, karena kalo kita telusuri perjalanan para Diamond & Up yang punya bonus bulanan puluhan juta rupiah per bulannya, pun gak semuanya mulus dalam masalah restu.

Ada yang suaminya baru NGEH, ketika ikut jalan-jalan gratis ke luar negeri dari Oriflame. Ada juga restu yang baru meluncur saat melihat dengan mata kepala sendiri istrinya mendapat recognisi dari Oriflame, atau ketika istri bisa benar-benar secara nyata membantu keuangan keluarga.

Buat yang sudah mendapatkan restu suami, karena itu sudah rejeki tersendiri, tinggal kita maksimalkannnn ikhtiar kita di Oriflame.

Buat yang belum, yuk kita berusaha dulu untuk bicarakan baik-baik dengan suami kita, apa yang membuat tidak boleh? Apakah karena stigma MLMnya? Ataukah karena produknya? Atau aneka alasan lainnya? Apapun keberatan yang muncul, sebenernya kalo kita mau juga untuk mencari tau, mempelajari, dan menganalisa apa itu MLM & bagaimana cara kerjanya, Insya Allah restu itu lebih mudah kita dapetin kok. Tapi kalo kita sendiri aja belum tau sistem persisnya seperti apa & masih belum begitu mengerti bahwa MLM ternyata berbeda dengan money game & sistem piramida, ya pastinya kita gak akan pernah bisa memperjuangkan mimpi kita di Oriflame.

Mimpi kita di Oriflame, bukan hanya melulu tentang diri kita secara pribadi, tapi juga melibatkan tercapainya impian orang tua kita, suami kita & anak-anak kita. Nah, pertanyaannya, kita sekuat apa? Kita sudah setangguh apa? Ketika restu itu belum 100% kita dapatkan? Apakah kita sudah putuskan untuk berjuang sungguh-sungguh sepenuh hati atau sebaliknya? It’s your choice 🙂

www.innaistantina.net




coded by nessus

Add Comment

Required fields are marked *. Your email address will not be published.