Reflection

Great Father, Great Leader!

Pernah melihat sosok pemimpin di sebuah organisasi ataupun kantor, yang memimpin begitu hebatnya, tapi begitu di rumah, penghargaan dari istri maupun anak-anaknya tidak ada sama sekali?

Lain halnya cerita sosok lelaki kelahiran Purworejo, 16 Februari 1938 ini, Mariman namanya. Berbekal ijazah SMP, lalu diterima di SMA 3 Jogjakarta atau yang terkenal dengan Padmanaba ini, ia memilih untuk tidak mengambil kesempatan bersekolah di SMA yang terkenal hanya berisi anak-anak dengan otak cemerlang dengan peringkat cukup tinggi tersebut.

Ia memilih untuk masuk di sekolah setingkat kejuruan, seperti SMK jaman sekarang, supaya bisa langsung kerja dan mendapatkan penghasilan. Tekadnya cuma 1, menaikkan derajat keluarganya, Ayah dan Ibunya, yang membesarkan di tengah segala kesulitan ekonomi pasca kemerdekaan Republik Indonesia.

Mariman, atau kemudian ia tambahkan sendiri 2 kata lagi, menjadi Mariman Hadi Purnomo, dengan kegigihan dan kecerdasannya, ia berhasil bekerja di Perhutani. Salah satu perusahaan cukup ternama kala itu, yang bergerak dalam hal bidang kehutanan. Seperti namanya, kehutanan, artinya ia memang akrab dengan hutan. Dari mulai area ia tinggal, hingga dimana ia bekerja.

Meski pendidikannya terakhir hanya sekelas SMA, tapi prestasi kerjanya luar biasa. Hingga masa pensiunnya, berhasil menempati posisi Kepala Seksi, sementara rekannya satu level adalah para Insiyur Kehutanan. Suatu kali, ia pernah mendapat tawaran untuk kuliah, namun ia tolak, karena baginya uang yang ada, mending ia gunakan untuk anak-anaknya bersekolah hingga jenjang yang lebih tinggi dari yang ia pernah dapatkan.

Mariman, besar di Purworejo, bersekolah di sekolah negeri biasa, dan sesekali berjualan pisang goreng untuk membantu Ibundanya. Bisa dibilang cerdik, karena ia sering membagi 1 pisang goreng menjadi 2, supaya keuntungan penjualannya lebih besar.

Lebih cerdiknya lagi, ketika musimnya ujian, ia sering belajar terlebih dahulu di siang hari, di saat teman-temen sekolahnya asyik bermain. Nah, malam harinya ketika ada tontongan wayang, ia pun mengajak teman-temannya nonton. Alhasil, ia pun mendapatkan nilai tertinggi di kelas, karena teman-temannya tidak belajar sama sekali.

Kecerdasannya ini pula, yang membawanya menjadi seorang pemimpin yang sangat disegani, gayanya berbicara sangatlah memukau, sangat berkharisma. Saat berpidato, suaranya kadang menggelegar memecahkan kebisuan, kadang juga menyentuh emosi terdalam hingga audience ikut hanyut dalam ceritanya, bahkan kadang ia suka melemparkan joke-joke yang membuat seisi ruangan terbahak-bahak.

Kepribadian inilah yang membuatnya juga mendapatkan respek dari istri dan anak-anaknya di rumah. Meski terkesan galak dan pendiam, tapi sebenarnya Mariman adalah sosok yang begitu penyayang dengan keluarganya. *Galak* atau lebih tepatnya sikap tegas ke anak-anaknya, adalah caranya untuk mengajak anak-anaknya hidup prihatin dan mandiri.

Terbukti baik istri maupun anak-anaknya, menjadi orang-orang yang mandiri. Tidak ada istilah antar jemput, semua pergi dan pulang dengan jalan kaki atau kendaraan umum ketika cukup jauh. Atau untuk anak-anaknya yang sudah cukup umur, fasilitas motor disediakan, untuk kemudahan akses kesana kemari.

Mariman, sejatinya Leader yang hebat, ketegasannya juga tampak saat ia bekerja, terutama ketika masih bekerja di lapangan, menghadapi para pencuri kayu, dengan sangat berani ia bisa membuat para pencuri kayu itu menciut.

Sosok Bapak 6 anak, dengan 1 anak yang meninggal saat lahir ini, termasuk salah satu pendekar kehidupan di masanya, berjuang dengan sepenuh hati, tanpa kenal lelah, terus belajar dan belajar. Setiap hari rajin menulis di agenda kerjanya, baik itu tulisan tentang pekerjaan, bangganya terhadap anak-anaknya, dan juga puisi-puisi indahnya.

Mariman Hadi Purnomo, sosok yang sangat tepat, kita sebut sebagai Great Father, Great Leader, dimana ketika hatinya kecewa, tetap berusaha kuat dan tegar. Ia juga orang yang tidak suka merepotkan & menyusahkan orang lain, bahkan hingga saat kepergiannya, ajal menjemputnya  dengan begitu mudah, yaitu saat ia terlelap dalam tidurnya.

————-

Demikianlah, biografi Bapak saya almarhum, orang pertama yang mengajarkan ke saya, betapa hidup ini perlu sebuah rekam jejak, yaitu melalui menulis. 

Terimakasih sudah berkunjung dan komen di blog ini, komen akan dimoderasi terlebih dahulu sebelum tampil :)

31 Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *