marker-focus

Focus Disorder Therapy

Pernahkah Anda ketika diajak bicara seseorang, tanpa Anda ketahui secara jelas, fokus Anda terpecah oleh adanya suara-suara, gerakan-gerakan, atau apapun yang bersliweran di depan Anda?

Seberapa sering Anda mengalami hal ini? Dimana tepatnya Anda mengalami focus distraction seperti ini? Apakah Anda mengenali apa saja tanda-tanda saat Anda sekonyong-konyong sulit fokus pada apapun?

Salah seorang keponakan saya, bisa dibilang mempunyai masalah yang dikategorikan sebagai FOCUS DISORDER, yaitu suatu kendala fokus pada hal tertentu, dan ketika ada hal lain yang berlangsung bersamaan, maka fokus jadi lepas sama sekali, tidak mampu mengendalikan arah fokus, bahkan seolah-olah fokus ‘lenyap’.

Apabila Anda mengalami ganggguan fokus, apakah Anda menyadari bahwa ini bisa merugikan Anda dalam banyak situasi. Misalkan saja, ketika keponakan saya tersebut, yang saat diajak bicara, dan kemudian ada yang manggil atau menginterupt pembicaraannya, atau bahkan hanya sekedar ada ‘orang lewat’ di sampingnya, tanpa diketahui dengan pasti, fokusnya ke si pengajak bicara lepas seketika. Dan untuk kembali ke bahasan lawan bicaranya, menjadi sesuatu yang sulit & seringkali mustahil buatnya. Hal tersebut menyebabkan keponakan saya itu, sering dianggap ‘lemot’ atau ‘gak nyambung’, karena dia sering tidak menangkap apa kata-kata dari lawan bicaranya.

Bayangkan Anda mengalami ‘gangguan fokus’ sementara Anda harus mengikuti wawancara kerja, presentasi atau ujian lisan di depan dosen Anda.

Nah, inilah yang terjadi pada keponakan saya tersebut. Gara-gara dia mengalami gangguan fokus, saat ujian Compre (semacam ujian lisan –mengujikan mata kuliah utama) di depan 4 dosen, ia tidak bisa fokus sama sekali & GAGAL dalam ujian tersebut.

Bukan karena ia tidak belajar, atau tidak ada persiapan. Unconsious mind-nya yang terbentuk selama ini adalah pola tahunan yang ‘nyokot’ hingga ia pun tidak bisa mengendalikannya, meski sekuat tenaga untuk fokus ke setiap pertanyaan.

Ilustrasinya begini:

Saat ia masuk ruang ujian, ia langsung berhadapan dengan 4 dosen. Ketika salah satu dosen mulai mengajukan pertanyaan pertama, ia masih bisa konsen, akan tetapi ketika sudah bergeser ke pertanyaan-pertanyaan berikutnya, ia mulai kehilangan fokusnya. Saat ia berusaha fokus menjawab pertanyaan 1 dosen, sementara ketiga dosen lain melakukan aktivitas tertentu, seperti membolak-balik kertas, mengetuk-ngetukkan jari, dll, maka gerakan atau suara sekecil apapun, sudah mampu memecah konsentrasinya.

Hari ini, saya baru saja dapat kabar dari ponakan saya tersebut, bahwa ia baru saja lulus dalam Ujian Compre yang diulangnya (karena ketidaklulusan ujian compre pertamanya).

Pengen tahu RAHASIAnya? Bagaimana akhirnya ia bisa lulus dengan Focus DisOrder Therapy?

Setelah ponakan saya tersebut menceritakan gangguan konsentrasinya, saya pun melakukan terapi simple sebagai berikut:

1.       Saya ajak ia untuk memvisualiasikan kondisi ketika ujian. Saya ajak ia melihat gambaran dirinya, yang sedang ujian, sedetail mungkin, dengan baju yang dikenakan waktu ujian, gambaran-gambaran dosen-dosen yang mengujinya, serta hal-hal yang ada di dalam ruang ujian.

2.       Setelah ia mendapatkan gambaran sejelas mungkin, dan situasi-situasi yang terjadi. Saya ajak ia untuk melihat lebih jauh, tentang sosok dirinya yang tengah berdiri & mengikuti ujian.

Saya : “Jika kamu sudah melihat dengan jelas gambaran dirimu, bisa kamu ceritakan apa persisnya tanggapan kamu tentang orang itu?”

Ponakan : “Orangnya cengegesan”

Saya   :  “Andaikata kamu sekarang berbicara dengan orang tersebut, gimana pendapatmu?”

Ponakan  :  “Nie orang gak seriusss bangettt siihhhhh”

Saya  :  “Nah, berarti itu juga yang dilihat ke-4 dosenmu waktu kamu ujian compre beberapa hari lalu”

3.       Ternyata dengan membawa keponakan saya untuk melihat sosok dirinya sendiri yang sedang mengikuti ujian, itu membuatnya menyadari tentang sikap & kebiasaannya.

4.       Berikutnya, saya memintanya untuk membayangkan ia bisa melihat bola matanya, merasakannya, & pelan-pelan membawa bola mata tersebut hingga naik ke atas kepalanya. Seiring dengan hal tersebut, ia tetap fokus dengan apa yang dilihat melalui bola mata yang berada di atas kepalanya.

5.       Saya mengajaknya untuk membawa bola matanya jalan-jalan, ke depan ke belakang, hingga ke luar rumah.

6.       Sembari sesi jalan-jalan tersebut, ia saya minta fokus dengan hal-hal yang terjadi & bisa ia lihat dengan bola matanya, dengan posisi tetap duduk.

Terapi ini barangkali hanya berlangsung sekitar 20-30 menit saja, tapi luar biasanya, setelah proses selesai, ia bisa konsen dengan kata-kata orang, meskipun orang tersebut membelakanginya selama pembicaraan. Dan ketika kami sekeluarga membahas beragam hal, ia tetap bisa menimpali dengan kalimat-kalimat yang pas & nyambung.

Selebihnya sesudah sesi tersebut, saya memintanya untuk melatih ke’fokus’annya, misal saat di kost, dengan beragam suara & apa yang dilihatnya, saya minta ia fokus pada satu hal. Semakin jelas apa yang dilihat, semakin jernih apa yang didengar, & semakin dalam apa yang dirasa, berarti ia mampu semakin fokus dengan apapun.

Membaca cerita diatas, maka Anda yang tahu persis, gangguan fokus seperti apa yang Anda alami dan Anda juga yang tahu persis, bahwa gangguan fokus yang sepertinya terlihat sederhana ini, ternyata bisa membuat ‘rumit’ kehidupan Anda sehari-hari. Dan ternyata pula, gangguan fokus ini bisa diselesaikan dengan cara yang mudah & cepat.

 




coded by nessus

One thought on “Focus Disorder Therapy

  1. hosni

    wah, menarik utk di praktekkan..
    saya termasuk org yang tidak fokus,begitu dgr suara2 pecah konsentrasi belajar..
    jadi kuncinya kita membayangkan melihat bola mata kita naik ke atas ya ??

    Reply

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>