Reflection

Doa Belum Terjawab, Iyakah?

Saya pernah begitu stress ketika lulus SD dengan nilai minim, dan begitu takutnya tidak bisa diterima di SMP Negeri. Swasta? Mana mungkin? Melihat kondisi Bapak masih mensekolahkan kedua kakak saya lainnya. Dengan gaji PNS di jaman itu, meski sudah dibantu Ibu berjualan segala macam, tetaplah asas hemat harus ada di keluarga kami. Apakah saya masih harus membebani dengan tidak bisa masuk di SMP Negeri?

Maka di titik itulah, saya belajar mengenal yang namanya sholat malam. Dari tahajud ke tahajud seorang lulusan kelas 6 SD, demi SMP Negeri.

Hasilnya?Β Doa terjawab dengan indahnya, saya diterima di salah satu SMP Negeri di saat-saat terakhir. Indah bukan? Iya mak nyesss rasanya. Seperti terbang ke langit ke tujuh.

Tapi memang, doa tidak selalu terjawab secara eksplisit. Kadang kita mendapatkan hasil dari doa dan ikhtiar kita dengan sesuatu berbeda. Yang kadang kala kita memaknainya dengan, “Udah doa dan usaha, tapi kenapa gak terkabul juga?”. Pernah atau sedang mengalami hal seperti ini jugakah?

Berada dalam satu etape dalam kehidupan, dimana kita merasa, kenapa doa-doa yang kita panjatkan tiap hari, harapan-harapan yang kita pendam dalam diri tetap juga belum tercapai. Ada apa gerangan memangnya?

Usaha juga udah kita lakukan konsisten sepenuh hati, tapi tetap saja, tanda-tanda munculnya apa yang kita inginkan, belum kunjung tiba. Dimana salahnya?

Siapapun pasti pernah merasakan momen seperti ini. Mungkin momen-momen seperti inilah, yang membuat kita justru makin dekat dengan Sang Pencipta. Mungkin kita terlalu asyik hingga lupa bahwa segala nikmat yang kita dapatkan, bahkan setitik nafas pun, itu sudah ada yang mengatur dan melimpahkannya secara gratis.

Barangkali kita juga lupa, saat kita bisa tertidur lelap dan terbangun kembali di pagi hari, semua juga sudah ada yang mengatur. Bisa saja aturan besok pagi adalah kita tertidur selamanya, tanpa kuasa bisa terbangun lagi?

Manusia punya banyak keinginan, saya pun demikian. Rasanya tidak pernah puas. Mendapatkan satu hal, pengen hal lainnya lain. Meraih satu kesempatan, lalu mendadak maruk pengen lebih banyak kesempatan.

Lalu ketika semua terasa berat, hanya karena beberapa faktor dalam hidup yang belum tercapai, maka bisa-bisa sumpah serapah yang keluar dari mulut kita.

Manusia punya senjata berupa akal. Kenapa kita sering lupa? Lupa untuk memakainya secara appropriate. Bahkan seonggok sampah pun bisa menjadi manfaat ketika kita bersedia belajar bagaimana caranya.

Lalu saat doa belum terjawab, apakah benar demikian? Tengok lagi akal dan ingatan kita, benarkah seperti itu? Belum terjawab semua? Belum tercapai seluruhnya? Atau kita saja yang terlampau serakah?

Kesehatan yang kita miliki, cerianya anak-anak kita, tawa lepas orang tua kita, canda gurau pasangan hidup kita, apakah ini belum cukup?Β Sepiring nasi untuk makan pagi, siang, dan malam, beserta lauk sederhana yang nikmat, apakah ini masih kurang?

Bersyukur adalah cara terbaik sembari kita menanti doa kita dikabulkan. Siap ataupun tidak, kita wajib siap dengan segala bentuk manifestasi terwujudnya sebuah doa. Bisa jadi bentuknya berbeda dengan yang kita harapkan.

Terimakasih sudah berkunjung dan komen di blog ini, komen akan dimoderasi terlebih dahulu sebelum tampil :)

4 Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *