Children See, Children Do

Pernah mendengar istilah Children See, Children Do? Bahwa anak meniru dan mengcopypaste apa yang orang lain lakukan, terutama orang tua dan orang-orang terdekat yang paling sering berada di sekitarnya.

Beberapa waktu lalu, sepulang jemput Sasha latihan drumband, kami berdua mampir makan siang di warung sop yang cukup familiar di Jogja. Saat menunggu pesanan, datanglah seorang ibu berserta 2 orang anaknya, perempuan dan laki-laki, lalu mereka duduk di depan barisan kursi kami.

Selang beberapa menit, si ibu mengeluarkan handphone, dan salah satu anaknya, yaitu anaknya yang laki-laki langsung merebut handphone yang ibunya pegang. Disini pun saya sudah kaget, karena melihat si anak merebut dengan paksa, yang menurut ukuran saya, caranya cukup kasar. Tidak butuh waktu lama dari kejadian tersebut, ibunya langsung menampar anaknya, dan berbalik segera anaknya yang menampar ibunya dengan tamparan yang lebih keras.

Sasha yang juga melihat kejadian super kilat tersebut, ikut terhenyak sesaat. Jangankan Sasha, saya malah shock! Semestinya saya tidak perlu kaget, karena paham benar efek dari per-sinetron-an masa kini yang juga menyuguhkan adegan-adegan serupa. Game online yang juga tidak sedikit mengandung kekerasan. Tapi apakah harus menyalahkan kedua hal ini saja?

Lalu bagaimana dengan pola asuh di rumah? Ketika asupan harian anak adalah serba bentakan dan beragam kekerasan baik itu verbal maupun fisik, maka karakter anak juga akan terbentuk sedemikian rupa seperti apa yang didapatnya.

Seperti kejadian di kelas Sasha 2-3 minggu lalu, beberapa orang tua murid melapor ke pihak sekolah, karena ada satu anak yang menendang, mencakar hingga mencekik teman sekelasnya. Lantas orangtua si anak ini protes ke sekolah, menyalahkan ke guru di kelas dan berpendapat bahwa anaknya tidak seperti yang dituduhkan orangtua lainnya.

Miris. Itu saja, kata yang langsung terbersit di benak saya. 5 tahun di awal kehidupannya, otak anak bagaikan spons yang menyerap apapun yang dilihat, didengar dan dirasanya. Otomatis ketika anak ditampar, ia akan belajar menampar, Ketika ia ditendang, maka ia belajar menendang. Ketika ia dicubit, maka ia pun belajar apa dan bagaimana itu  mencubit

Saya juga belum sepenuhya menjadi 100% ibu yang sempurna. Terus belajar untuk memperbaiki diri. Mendidik anak adalah sebuah investasi masa depan. Investasi moral dan karakter. Karena dari investasi ini, anak juga akan menularkan apa yang dipelajarinya ke generasi berikutnya.

Sederhana saja, kita rutin makan sayur dan buah, maka anak-anak juga lambat laun akan mengikuti. Kita makan amburadul, anak-anak juga mengikuti. Kebayang kan, kalo tiap hari kita menghujani anak-anak dengan kata kasar bahkan disertai dengan tindakan, maka itulah yang anak-anak pakai dalam hidupnya.

Jadi kembali pada keputusan kita, mau menerapkan pola asuh seperti apa? Apakah kita tetap dengan cara sekarang? Jika sudah baik, maka lanjutkan! Jika masih kurang, yuk ah mari kita evaluasi.

#komunitasonedayonepost #ODOP_batch6 #Day10




coded by nessus

4 Comments

  1. Bener banget kak.
    Apa yang orang tua lakuin, pasti deh bakal diikutin anak2, entah itu baik apa buruk mereka bakal ikuti.
    Ah harus jadi orang tua yang bijak ya, terlebih lagi untuk anak2 jaman sekarang yang menyerap informasi dari manapun kayaknya mudah banget.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *