Ketika Si Kakak Semakin “Kritis” dan tidak lagi “Manis”
Sejak memasuki usia 4 tahun, Ical, putra pertama kami makin menunjukkan kekritisannya. Kalo bahasa awamnya mungkin lebih dikenal dengan “ngeyel”, hehe. Keliatan sekali dari cara bicaranya, penolakan-penolakannya, pertanyaannya yang serba detail, yang tidak jarang menguji kesabaran. Eksplorasi kosakata yang digunakan pun makin beragam, kadang ada kata-kata “ajaib” yang entah Ical dapatkan dari mana, mungkin saja dari tempat sekolah atau lesnya. Yang pasti kata-kata tersebut, bukan kata yang lazim kami gunakan di rumah, bahkan sama sekali gak pernah kami pakai.
“Oalahhhh tak kiro anakku thok sing koyo ngene”, begitu kata salah seorang sahabat yang punya anak seumuran dengan anak pertama saya. Barangkali itu juga yang Mom rasakan sekarang. Kenapa si kecil yang awalnya manis, kok pada usia tertentu jadi bikin tanduk pengen keluar dari ubun-ubun? Hehe.
Beberapa teman psikolog, memberi penjelasan jika usia-usia 4 tahunan ini masa anak makin kritis dengan sekitarnya. Yang biasanya bersikap manis dan menggemaskan, bisa jadi ketika usia tersebut menjadi sebaliknya, bikin orang tua kewalahan dan geregetan. “Harus lebih sabar memang”, begitu ucap salah satu teman saya yang aktif di dunia pendidikan & psikologi.



