Parenting

Cara Melatih Anak Mandiri Belajar, Gak Pake Uring-Uringan!

“Bun, aku boleh ikutan Ruang Guru gak?”, tanya Ical beberapa hari lalu.

“Iya boleh, Kak, download aja, nanti Bunda bayar”, jawab saya tanpa pikir panjang.

Beberapa bulan lalu, kami memang sudah mulai mengenal aplikasi baru yang fungsinya mirip seperti Bimbingan Belajar. Ada materinya, ada soal-soalnya, dan juga ada guru yang bisa diajak konsultasi mata pelajaran.

Ical sedang belajar dengan aplikasi Ruang Guru

Hari ini, saya bukan membahas tentang aplikasinya dulu ya, tapi lebih kepada gimana membuat anak-anak bisa sadar dengan sendirinya untuk belajar. Atau barangkali istilah tepatnya adalah mandiri dalam belajar.

Alhamdulillah, dengan Ical kelas 6 saat ini, menjelang UN dan utamanya menjelang tes masuk SMP yang Ical inginkan, ia sudah bisa belajar sendiri, tanpa perlu saya suruh-suruh lagi. Sesekali saja saya ingatkan, tidak perlu uring-uringan, tidak perlu pusing tujuh keliling, karena dari kelas 1 SD sudah saya biasakan untuk belajar secara mandiri. Minimal mengerti tentang tanggung jawabnya sebagai siswa sekolah itu apa.

Kalau saya baca status para Bunda yang masih kebingungan gimana caranya mendorong anak supaya mau belajar, dan jadi serba sewot ketika musim ujian tiba, sejujurnya saya prihatin, karena pola belajar itu bisa dilatih. Wong, kucing saja bisa kita latih supaya buang air pada tempatnya. Kucing yang hanya mengandalkan insting aja bisa loh. Apalagi manusia yang punya akal, pasti bisa berlatih banyak hal untuk meraih hasil yang lebih baik.

Oke balik lagi ke perkara gimana cara supaya anak bisa belajar secara mandiri. Tentu semakin dini kita latih, makin mudah buat anak maupun kita sendiri untuk beradaptasi dengan pola belajar mandiri ini. Nah, ini beberapa langkah yang saya lakukan hingga akhirnya terbentuk pola belajar pada Ical dan juga adiknya Sasha:

1. Kenalkan Aneka Profesi

Membuka pandangan ke anak, tentang apa pentingnya belajar, bukan untuk mengejar nilai, tapi lebih jauh ke depan, bahwa dengan belajar maka sebagai salah satu jalan untuk meraih apa cita-citanya dan apa yang ia inginkan. Komunikasi ini bisa kita bangun sedini mungkin, seperti mengenalkan aneka profesi ke anak, bahkan sampai ke orang-orang disekitarnya yang sukses dalam profesi tersebut. Dari sini anak belajar mengamati profesi demi profesi dan tanpa sadar alam bawah sadarnya juga sedang merekam proses demi proses yang ada untuk meraih sebuah profesi.

Dengan anak mengenal profesi, maka ia punya bayangan juga, pelajaran apa yang akan ia dalami nantinya. Otomatis, akan muncul ketertarikan alami terhadap pelajaran tertentu ataupun minat bakat sesuai dengan profesi yang ia bayangkan ke depannya.

Ketika negara-negara maju, anak-anak usia belasan sudah tahu tentang apa yang akan mereka lakukan ke depannya, itu juga karena dari kecil sudah dikenalkan beragam profesi dan mereka membuatnya sebagai patokan. Makin cepat anak mengenal apa yang diminatinya, profesi apa yang dibidiknya, maka makin spesifik ilmu yang digalinya.

Ajarkan anak punya mimpi, punya cita-cita, maka ia pun akan belajar bagaimana meraihnya, salah satu dengan ilmu yang ia dapatkan di sekolah maupun luar sekolah.

2. Belajar 15 Menit Sehari

Dari mulai Ical kelas 1 SD, saya mengenalkan pola belajar 15 menit perhari, kecuali hari libur. 15 menit ini terutama sekali setelah Subuh. Ketika ini rutin, maka anak akan terbiasa belajar dengan sendirinya tanpa diminta, tanpa disuruh. Bahkan atas permintaanya sendiri, sekarang Ical menambah jam belajarnya karena menjelang ujian masuk SMP dan juga kelulusan nanti.

3. Ajak Diskusi

Sesekali kita ajak diskusi, tentang apa pelajaran yang disukainya dan kurang disukainya di dalam kelas. Bahkan termasuk guru-guru yang mengajar, bagaimana ia bisa menyerap pelajaran tertentu, apakah ia suka dan tidak suka pelajaran karena gurunya atau karena faktor apa? Ketika Ical protes dengan guru A yang begini atau guru B yang begitu, saya tanyakan ulang ke Ical, apakah ada pengaruhnya ke pelajaran karena gurunya tersebut? So far, Alhamdulillah dengan pola belajar mandiri yang Ical biasa lakukan, meski sempat terjadi pergantian guru beberapa kali untuk subject yang sebenarnya ia suka, tidak berpengaruh. Karena saya juga bilang, ย “Tugas guru itu membantu Kak, diri kakak sendiri yang menentukan mau belajar atau tidak, mau sukses atau tidak di sekolah dan luar sekolah”.

Anak belajar, selayaknya ijinkan dan dampingi ia menemukan pola belajarnya. Hindari uring-uringan, hindari emosian. Malah ini yang bikin anak males belajar, karena merasa gak nyaman dan terkungkung harus belajar lagi dan lagi. Bayangkan di sekolah anak itu udah bejibun materi diserapnya, terus kita minta anak juga les pelajaran setelah pulang sekolah, sampai di rumah anak istirahat bentar, terus setelah Isya disuruh belajar lagi.

What? Plis deh! Anak itu manusia, bukan robot. Yang menjadikan anak males belajar, anak jadi robot, itu sebenarnya kita sendiri, ketika kita tidak sadar bahwa peran orang tua adalah mendampingi dan memantau, bukan nyuruh ataupun menggurui! Kita juga gak mau kan kalo disuruh-suruh dan digurui terus menerus?

Istantina atau lebih dikenal sebagai innaistantina, A Lifestyle Blogger asal Jogjakarta. Selain menulis, motret & yoga adalah hobby yang digelutinya. Kenali lebih dekat melalui IG: @innaistantina

12 Comments

  • Tuteh

    Belajar 15 menit per hari usai Shalat Subuh itu efektif sekali, Kak, saya pernah mengalaminya. Hehehe. Tapi kalau sore/malam juga diharuskan belajar lagi sama ortu dengan rentang waktu satu jam dududud …

  • Reyne Raea (Rey)

    Mauuuuu tanyaaa bu guyuuu….

    1. Profesi yang kita kenalkan itu yang kayak gimana mba? apa profesi yang anak inginkan, atau kita kenalkan profesi meskipun mereka belum ngeh sama sekali akan profesi tersebut ?

    2. Belajar 15 menit itu ngapain aja mba? membaca ulang atau gimana?
    Kalau anak saya belajar setiap hari. Minggu – kamis belajar sekitar 45 menit – 1 jam, setiap harinya belajar sekitar 15 menit karena PR kumon.

    Alhamdulillah, udah hampir 3 tahun ikut kumon, dia jadi lebih sadar sendiri dengan kerjain PR, meskipun belajar sekolah, mesti diingatkan dulu (seringnya)

    begitu pertanyaannya buguyuuu, dan saya mau instalin ruang guru deh, bisa kan ya buat anak kelas 2 ๐Ÿ˜€

    • innaistantina

      1. Profesi semua Rey yang bisa kejangkau sama kita. Seperti misal waktu aku sama Sasha main ke butik punya mama temennya Sasha. Nah, langsung tuh banyak diskusi disitu. Sasha jadi tau ada profesi namanya desainer, ada penjahit, dan semua yang terlibat di dalam butik. Sampe suatu hari dia bilang, “Bun, nanti kalau aku gede, mau kerjanya di rumah aja, punya butik, biar aku bisa jaga anak-anak juga kek Bunda”.

      Ical, sekarang 11 tahun, ini dia udah punya kecenderungan suka science & technology, beberapa diskusi juga terjadi setelah dia pelajari aneka profesi. Misal dia sempat tanya, “Aku mending nanti fokusin ke mana ya Bun? Aku suka science yang serba hewan dan tumbuhan tapi gak suka kalo tentang manusia. Tapi yang semacam komputer, IT gitu aku juga suka”.

      Jadi memang, kita dampingi aja Rey, sambil amati, ini anak kecenderungan kemana, baru kita bantu dengan diskusi dan olah bareng kemampuannya, biar lebih maksimal.

      2. 15 menit tiap hari Rey, sabtu-minggu itu boleh kalo anak merasa perlu, tapi biasanya Ical Sasha enggak sih, cukup di Senin-Jumat

  • CatatanRia

    tertarik deh mba dengan belajar 15 menit sehari, apakah bisa juga ini diterapkan untuk anak usia 5 tahun. Atau dikurangin ya kalau untuk anak 5 tahun ๐Ÿ˜€ selama ini saya mengajak belajar anak masih dibawah 10 menit kadang cuma 5 menit, karena belajarnya baru pengenalan-pengenalan aja ๐Ÿ˜€

    • innaistantina

      sebenernya bisa aja mb, tapi kalo 5 tahun masih main hepi-hepi aja kali yaaaa. dan sefokusnya anak aja, gak usah kita paksain harus 15 menit

  • Melina Sekarsari

    Halo, Mbak Inna. Ini pertama kalinya aku berkunjung ke ‘rumah’-mu. Terima kasih sudah dipersilakan masuk.

    Membahas anak belajar mandiri, ini masih jadi kesulitanku lho, Mbak. Sulung sudah mengerti tanggungjawabnya, misalnya ada PR atau tugas dari sekolah. Kalau bungsu, duh, ngeles aja bawannya. Dia sudah diarahkan ke profesinya. Cita-cita terbaru mau jadi guru Matematika.

    Daaan, satu-satunya pelajaran yang dia mau ulang di rumah cuma Matematika. Wadaw nggak, sih?

    • innaistantina

      gakpapa mb, siapa tau memang dia suka dengan mata pelajaran tersebut, dan bisa jadi ahli matematika atau bidang yang nantinya berhubungan dengan matematika. kita kuatkan yang anak sudah kuat, nanti dia bisa jadi expert

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *