Gadget & Techno

Stop Status Provokatif, Boleh?

Musim-musim mendekati Pemilu seperti sekarang ini, kadang bikin saya jengah sendiri liat timeline di sosmed. Tapi mau gimana lagi? Buat blogger yang juga cari duit dari klien yang pasang iklan melalui blog ataupun sosmed, aktif di sosmed dan berinteraksi dengan sesama pemakai sosmed lainnya tetaplah diperlukan.

Kalo di blog sendiri, Insya Allah aman, karena saya juga jarang menulis hal-hal provokatif tentang pemilihan presiden. Saya diam, bukan berarti saya gak peduli dengan capres cawapres mana yang mau saya pilih. Saya anteng aja, bukan berarti saya tutup mata tentang hasil kerja ataupun prestasi masing-masing calon.

Alhasil demi kenyamanan sebagai blogger yang juga aktif bersosmed, saya unfollow di facebook, beberapa orang yang demikian hebohnya membela mati-matian capresnya. Kalo mau unfriend, kok gak enak ya? Yaaaa secara juga masih sering ketemu dan berinteraksi. Tapi kok anyel rasanya, tiap buka timeline ada status-status provokatif yang bersliweran.

Sejak Indonesia mengalami transisi proses reformasi, dan maraknya sosial media, lalu muncullah pakar-pakar politik dadakan dari berbagai kalangan, bahkan emak-emak berdaster yang hobbynya ngerumpi di sekolah pun tiba-tiba alih profesi menjadi komentator di bidang politik.

Saya ini lulusan jurusan Hubungan Internasional, gelar sarjananya SIP, Sarjana Ilmu Politik, tapi maaf saya tidak suka posting status-status provokatif tentang politik. Sedih juga ketika liat beberapa teman yang sampe gontok-gontokan lempar komen dan status demi sebuah pembenaran calon presiden pilihannya. Miris, ketika hubungan silahturahmi putus gara-gara beda angka 1 dan 2 dalam memilih idolanya.

Foto: kumparan.com

Kadang saya suka bertanya-tanya, semboyan Bhinneka Tunggal Ika, Berbeda-Beda Tetapi Tetap Satu Jua, itu kemana ya sekarang implementasinya? Saya lebih sering melihatnya dalam konser musik atau pagelaran yang melibatkan beragam suku, ras dan agama berbeda-beda, baik itu seniman ataupun penyelenggara acara bersatu padu demi jalannya sebuah event. Atau bisa juga terlihat dalam sebuah organisasi masyarakat yang saling bahu membahu membangun sebuah desa tanpa melihat apa latar belakangnya. Kalo di dunia politik atau para pakar politik dadakan ini, saya kok gak pernah temui ya?

Doa saya cuma satu, Damailah Bangsaku, Damailah Indonesiaku πŸ™‚

Istantina atau lebih dikenal sebagai innaistantina, A Lifestyle Blogger asal Jogjakarta. Selain menulis, motret & yoga adalah hobby yang digelutinya. Kenali lebih dekat melalui IG: @innaistantina

10 Comments

  • Ewafebri

    Hahahaha.. I feel You Mbak.. 4 tahun lalu saya menjadi salah satu dari mereka… Vokal dan gak mikir (gitulah kira2.. ).. hahaha.. tapi suatu peristiwa memberi saya pelajaran berharga. Dan saya anggap sebagai petunjuk Tuhan untuk mengingatkan saya bahwa yang lebih penting saya urusi adalah bagaimana saya bertaqwa dengan cara yang lebih baik. Hihi.. Alhamdulilah.. saya masih diberi petunjuk.. kalo gak.. lak tambah puyeeeeng.. 😁😁😁

  • Nanik Nara

    Saya juga mulai unfollow beberapa akun teman, bahkan ada yang saya unfriend mbak. Nyetatus politik juga saya nggak pernah, simpan dalam hati aja kalau yang berhubungan dengan politik. Kadang juga ngobrol sama suami urusan politik, tapi nggak sampai jadi postingan di blog maupun jadi bahan update status

  • Akarui Cha

    Kalau saya lebih memilih diam sih mba. Nggak terlalu banyak mikirin aja.

    Tujuannya biar silaturrahmi nggak terganggu.

    Kecuali kalo udah nyenggol saya dan bikin sensi. Unfriend pun akan segera terjadi.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *