Parenting

BERSAHABAT DENGAN GADGET DALAM RANGKA MENGHADAPI TANTANGAN PENDIDIKAN ANAK USIA DINI DI ERA DIGITAL

Setiap orang adalah guru, setiap rumah adalah sekolah

~ Ki Hajar Dewantara

Anak-anak jadi versi yang lebih baik dari orang tuanya? Ini adalah cita-cita saya sebagai ibu dari 2 orang anak, dan saya yakin juga cita-cita banyak orang tua lainnya yang ingin anak-anaknya menjadi generasi dengan kematangan karakter dan keilmuan yang lebih kuat.

Orang tua dan rumah, adalah tempat pertama dimana seorang anak belajar, sebelum akhirnya anak makin bertumbuh dan berkembang dengan sentuhan banyak elemen dan kegiatan di luar rumah. Tiap anak yang terlahir ke dunia ibaratnya seperti kertas putih. Warna apapun yang membentuk karakter dan kemampuan anak, ini kembali pada bagaimana anak menyerap apa yang ada di sekelilingnya, baik itu dari orang tua, gurunya, orang-orang yang terdekat dengan si anak, hingga lingkungan luas di sekolah dan masyarakat. Bahkan riset terbaru juga banyak yang menyebutkan, bahwa kemampuan anak sudah bisa kita stimulasi sejak masih berupa janin di dalam kandungan.

Psikolog sekaligus pakar stimulasi anak, Dra Mayke S. Tedjasaputra memberikan contoh tentang kemampuan motorik dan kemampuan kognitif anak akan makin terasah ketika stimulasinya juga sedini mungkin, bahkan sejak masih di rahim Ibunya. Misal dengan mendengarkan musik atau rutin mengajak bicara bayi di dalam kandungan.

 

Stimulasi Kecerdasan Anak Pada Masa Golden Age

Tidak bisa kita pungkiri, bahwa masa emas anak nyatanya berada di 5 tahun pertamanya. Istilah golden age ini mengarah pada usia dimana otak anak ibaratnya seperti spons, yang bisa menyerap dengan mudah dan cepat apapun yang ada di sekitarnya. Ini menjadi momentum terbaik bagi orang tua, untuk menanamkan segala hal yang nantinya akan berkembang menjadi kecerdasan dan juga karakter anak.

Seorang pakar pendidikan anak yang cukup terkenal, Montessori, menyebutkan tentang adanya proses penyerapan pada anak, yakni adanya jiwa penyerap (absorbent mind). Anak memiliki dorongan yang kuat ke arah pembentukan jiwanya sendiri (self construction) yang tanpa sadar secara psikis anak menyerap kejadian-kejadian yang ada disekitarnya. 

Stimulasi kecerdasan anak pada 5 tahun pertama usianya ini memang sangatlah efektif. Peran orang tua tentu penting untuk terlibat dan memantau langsung tumbuh kembang putra-putrinya. Menjadikan anak sehat secara lahiriah, bukan berarti tugas orang tua sudah selesai. Menyerahkan wewenang pada baby sitter terbaik dan termahal, bukan berarti tugas orang tua untuk mendidik anak lalu terlepas begitu saja.

Secara naluriah, anak punya kemampuan unik, inilah yang membuatnya spesial. Terbayangkah jika semua anak di dunia ini punya kemampuan sama? Misal hanya pada 1 bidang saja, maka tidak mungkin dunia ini menjadi berwarna dengan beragam profesi. Lahirnya dokter hebat, arsitek mumpuni, penyanyi luar biasa, chef handal hingga atlet yang mencetak banyak prestasi, ini adalah suatu bukti bahwa tiap anak punya kemampuan yang berbeda-beda.

Setiap Anak Unik & Spesial

Dalam bukunya Frames of Mind: Teori Multiple Intelegences, Howard Gardner mendefinisikan kecerdasan sebagai kemampuan untuk memecahkan suatu masalah serta menciptakan suatu (produk) yang bernilai dalam suatu budaya. Gardner membagi kecerdasan menjadi 8, yaitu: kecerdasan bahasa/ linguistik, logika matematika, intrapersonal, interpersonal, musik, visual/ spasial, kinestetik, dan kecerdasan alam/ naturalis.

 

Dengan perbedaan kecerdasan ini, bisa menjadi panduan buat kita dalam stimulasinya. Maka tidak heran, ketika misal orang tua punya kegemaran mendengarkan musik, meski tidak bisa bermain alat musik, bisa jadi dengan stimulasi yang tepat, maka anak akan mahir bermain musik. Atau kenapa para pedagang dan pengusaha hebat juga kadang punya anak-anak yang akhirnya mengikuti jejaknya? Karena sejak kecil,si anak tanpa sadar belajar tentang pola bagaimana berwirausaha, pada titik ini sebenarnya anak secara tidak langsung mendapatkan stimulasi. Faktor-faktor inilah yang membuat anak membutuhkan pendidikan yang tepat di usia dininya. Peran orang tua penting, peran lingkungan termasuk sekolah pun juga sangat penting untuk membantu mendorong serta menstimulasi kemampuan anak secara maksimal.

Pentingnya Pendidikan Anak Usia Dini

Kathleen McCartney, PhD, seorang pakar pendidikan dari Universitas Harvard di Cambridge, Massachusetts, Amerika Serikat menjelaskan tentang perbedaan hasil yang dicapai dari anak yang bersekolah sejak dini di tingkat PAUD. Selain belajar mengenal angka, huruf dan bentuk, anak juga belajar bagaimana bersosialisasi dengan anak lainnya dengan belajar berbagi dan menghormati orang lain. Ia juga menambahkan bahwa anak yang mendapatkan pendidikan di tingkat lebih dini ini akan ternyata lebih siap ketika memasuki jenjang berikutnya. McCartney juga menegaskan bahwa pendidikan usia dini tentunya lebih banyak unsur bermain dan bernyanyi, sesuai dengan kebutuhan mental & psikologis anak.

Dalam Permendikbud 137 tahun 2014 tentang Standar Nasional PAUD, pendidikan anak usia dini merupakan bagian dari pendidikan nasional dan termasuk salah satu bentuk penyelenggaraan pendidikan yang menitikberatkan pada peletakan dasar ke arah pertumbuhan dan 6 perkembangan yaitu agama dan moral, fisik motorik, kognitif, bahasa, sosial-emosional, dan seni. Pendidikan usia dini ini pun sesuai dengan keunikan dan tahap-tahap pertumbuhan serta perkembangan sesuai kelompok usia yang dilalui oleh anak dimana rentangan anak usia dini menurut Pasal 28 UU Sisdiknas No.20/2003 ayat 1 adalah usia 0-6 tahun.

Tujuan Pendidikan Anak Usia Dini

Berdasarkan UU Sisdiknas No.20/2003 pasal 1 ayat (14), dengan bunyi: “Pendidikan anak usia dini adalah suatu upaya pembinaan yang ditujukan kepada anak sejak lahir sampai dengan usia enam tahun yang dilakukan melalui pemberian rangsangan pendidikan untuk membantu pertumbuhan dan perkembangan jasmani dan rohani agar anak memiliki kesiapan dalam memasuki pendidikan lebih lanjut”.

Sementara menurut UNESCO, pendidikan anak usia dini punya tujuan dengan beberapa alasan, yaitu:

  1. Alasan Pendidikan: pondasi awal dalam meningkatkan kemampuan anak untuk menyelesaikan pendidikan lebih tinggi, menurunkan angka mengulang kelas dan angka putus sekolah.
  2. Alasan Ekonomi: investasi yang menguntungkan baik bagi keluarga maupun pemerintah
  3. Alasan Sosial: salah satu upaya untuk menghentikan roda kemiskinan
  4. Alasan Hak/Hukum: hak setiap anak untuk memperoleh pendidikan yang dijamin oleh undang-undang.

Dengan panduan tujuan dari undang-undang & UNESCO, maka sebenarnya pendidikan anak usia dini, mempersiapkan anak untuk melatih hal-hal sebagai berikut:

Melatih Minat & Bakat Lebih Awal
Dengan memasukkan anak sekolah lebih dini, tentu saja orang tua bisa lebih terbantu oleh guru dan pihak sekolah dalam hal pendeteksian minat dan bakat anak. Dengan deteksi lebih awal, tentu saja memolesnya bisa lebih mudah dan terarah, dan mampu mencetak generasi yang cerdas, hebat dan siap berprestasi di kemudian hari.

Melatih Kedisiplinan
Sekolah artinya ada aturan yang cukup berbeda dengan di rumah. Mulai dari jam bangun tidur untuk beradaptasi dengan jam masuk sekolah, hingga aturan tertulis maupun tidak tertulis di dalam lingkungan sekolah, membuat anak belajar tentang kedisiplinan, seperti harus memakai seragam apa di hari tertentu, dan beragam aturan lainnya.

Melatih Kemandirian 
Pada awal masuk sekolah, biasanya memang beberapa orang tua atau pendamping masih diijinkan untuk menunggu anak, tapi setelah beberapa hari pihak sekolah akan meminta pendamping untuk tidak berada di kelas ataupun di area sekolah. Bisa saja si kecil menangis, tapi disinilah anak-anak mulai belajar tentang kemandirian. Belajar bagaimana menghadapi segala sesuatu tanpa bantuan orang tua ataupun yang biasa membantunya di dalam rumah.

Melatih Sosialiasi & Komunikasi
Bagi sebagian anak, berinteraksi dengan anak-anak lainnya itu tidak mudah, melalui sekolah di usia dini maka anak lambat laun akan belajar bagaimana berinteraksi dan bersosialisasi dengan orang lain yang ada di luar lingkungan rumahnya.

Melatih Cara Bekerjasama
Kecerdasan yang luar biasa tidak akan bekerja dengan baik untuk kehidupan seseorang ketika ia tidak mampu bekerjasama dengan orang lain. Inilah yang membuat faktor anak bersekolah di usia ini juga menjadi penting. Dengan bersekolah, maka anak-anak belajar untuk saling bekerjasama dengan teman-temannya sampai dengan belajar bagaimana menghargai perbedaan pendapat yang ada.

Tercapainya tujuan pendidikan anak usia dini ini tentu saja membutuhkan fokus orang tua dan kerjasama dengan pihak terkait seperti sekolah, mengingat di zaman sekarang tantangan di era digital dalam mendidik anak ternyata tidak mudah.

 

Tantangan Pendidikan Anak Usia Dini Di Era Digital

Zaman televisi mendunia, ternyata tidak sedikit orang tua yang merasa kelimpungan untuk mengatur jam belajar karena anak terlalu asyik dengan tontonan yang tersedia. Sementara saat ini, ketika era digital makin merebak, tantangan makin bertambah dengan hadirnya kemudahan akses untuk online dan menerobos ke segala penjuru informasi. Bahkan anak-anak usia balita pun sekarang sudah mulai terpapar dengan gadget. Inilah tantangan sesungguhnya di era digital saat ini.

Beberapa kali saya bertemu dan berdiskusi dengan orang tua murid yang mengeluhkan anak-anaknya terlalu asyik dengan smartphone, sampai malas untuk mengerjakan hal lainnya. Ya wajar saja, karena bermain dengan gadget itu memang menyenangkan, baik itu warna maupun suara yang bisa memikat siapa saja. Jangankan anak, kita sebagai manusia dewasa pun tertarik kan?

 

Lalu apa yang seharusnya bisa kita lakukan untuk menghadapi tantangan yang tampaknya makin hari makin membuat orang tua khawatir dengan tumbuh kembang anak-anak di era digital ini?

1. Jam Gadget

Pada tahun 2017, American Academy of Pediatric atau AAP membuat aturan terbaru mengenai screen time gadget pada anak. AAP merekomendasikan agar anak usia di bawah 18 bulan tidak boleh terpapar oleh gadget. Sementara  anak usia di atas 18 bulan hingga 2 tahun, jika memang ingin mengenalkan media digital lewat permainan atau video maka orang tua harus tetap memperhatikan konten & kualitasnya. Anak usia di atas 2 hingga 5 tahun juga perlu dibatasi, maksimal hanya satu jam sehari, sedangkan untuk anak-anak usia 6 tahun ke atas pembatasannya maksimal 2 jam sehari.

Aturan dari AAP ini bisa kita jadikan patokan untuk mengatur jam gadget pada anak, supaya anak juga mengenal bahwa segala sesuatu termasuk bermain  itu ada batas dan waktunya. Tanpa kita sadari, dengan mengenalkan batasan ini anak sekaligus belajar disiplin dan menghargai waktu.

Pemberlakuan jam gadget ini juga butuh peran orang tua sebagai contoh ke anak, kapan harus berhenti memegang handphone, misal 1 jam sebelum tidur sudah masuk clear gadget hour atau aturan-aturan lain yang bisa kita komunikasikan dengan anak secara langsung.

2. Please, Jadi Orang Tua Jangan Gaptek!

Sempatkan waktu untuk mempelajari tentang parental control di gadget masing-masing, supaya anak juga lebih terlindungi saat bermain. Sesekali pelajari salah satu game online yang anak-anak sukai, ikut main bersama dan menikmati permainannya. Supaya apa? Meski tampak sederhana, tapi ternyata ini juga salah satu cara untuk membangun kedekatan dengan anak. Di sela-sela bermain game bersama ini, kita bisa ngobrol banyak dengan anak, baik itu tentang gamenya atau hal-hal yang menarik buatnya baik di rumah maupun sekolah. Intinya, kita sebagai orang tua hindari dengan yang namanya gagap atau tidak paham dengan teknologi. Karena saat ini, teknologi bisa jadi salah satu jembatan untuk membangun kedekatan kita dengan anak.

3. Aktivitas Non-Gadget

Sesibuk-sibuknya aktivitas kita sebagai orang tua, sebaiknya tetap memberikan kesempatan anak untuk beraktivitas yang tidak berhubungan dengan televisi, laptop atau smartphone sama sekali. Misalnya saja mengajak anak mewarnai dengan pensil warna, bermain permainan tradisional seperti dakon yang bisa melatih ketelitian anak, atau ajak main sepedahan di luar rumah supaya bisa bermain sekaligus olahraga. Banyak media yang bisa kita pakai supaya anak terpapar gadget terus menerus setiap hari. Disinilah dituntut orang tua ikut belajar kreatif!

4. Gadget Bukan Pengalihan

“Udah sana main hape aja“, ujar seorang Ibu. Eh, sebagian ibu atau orang tua sepertinya yang melakukan hal ini. Apakah itu Anda, Moms? Salah seorang teman pernah curhat melalui tulisan di blognya, bahwa anaknya mengalami speech delay karena ternyata setelah diselidiki lebih lanjut, stimulasi untuk mengajaknya bicara sangat kurang. Maklum, karena pekerjaan seorang ibu yang mungkin hanya ibu rumah tangga apalagi tanpa asisten itu memang sama sekali tidak mudah. Harus bisa membagi waktu kapan mengurus rumah hingga memfasilitasi kebutuhan anak. Maka ketika sibuk, gadget adalah cara paling mudah supaya anak menjadi lebih anteng.

Nah padahal fungsi gadget ini bukan untuk mengalihkan anak dari rewel menjadi tidak rewel. Jika kita biasakan, maka anak memahaminya bahwa kalau rewel maka hadiahnya adalah gadget. Sebaiknya kita segera rubah pola ini sebelum anak benar-benar kecanduan. Misal dengan mendampingi anak seutuhnya ketika sedang rewel, mungkin si anak ingin ke kamar mandi, lapar atau hanya sekedar bermain sebentar dengan kita.

5. Role Model

Children see, children do. Bagaimanapun orang tua adalah contoh pertama dan utama untuk anak. Ketika segala aturan sudah kita terapkan untuk membatasi ruang gerak anak memakai gadget, tapi kita sendiri melanggar, maka anak pun akan ikut melakukan hal yang sama. Kalau melihat anak makan kok sambil main handphone? Anak saat di mobil kok main gadget? Bisa jadi ini karena 2 hal, pertama faktor “pembiaran” atau justru orang tuanya yang memberikan contoh sedemikian rupa. Nah sekarang kembali ke pribadi masing-masing berarti, kualitas anak sejatinya orang tualah yang menjadi faktor penentu terbesar dalam perkembangan hidupnya.

 

Gadget Produktif

Daripada hanya sekedar ngomel ke anak yang keranjingan main gadget, hal ini sudah membuat kita lelah secara fisik & psikis, alangkah lebih baik kita alihkan secara bertahap pemakaian gadget yang hanya sekedar buat ngegame menjadi aktivitas yang lebih produktif dan bermanfaat untuk anak. Caranya adalah mengajak anak untuk berkarya melalui gadget, seperti hal-hal berikut ini:

1. NgeVlog

Aktivitas yang sudah cukup rutin saya lakukan bersama anak-anak ini, ternyata bukan sekedar untuk mengisi konten di youtube channel yang kami bangun. Ternyata sejak adanya kegiatan ngevlog ini, skill anak-anak pun bertambah, terutama kemampuan untuk bicara di depan umum dan bagaimana mempresentasikan sesuatu secara lebih menarik. Bahkan secara kepercayaan diri pun lebih baik dibanding sebelumnya.

2. Video Editing

Baik si kakak maupun adik, sejak aktif ngevlog dan memperhatikan proses saya mengedit video, rupa-rupanya mereka juga tertarik untuk belajar. Jadilah sekarang si kakak yang berusia 12 tahun sudah bisa edit video sendiri bahkan seringkali lebih canggih daripada saya sebagai Bundanya yang mengajari di awal 😀

3. Animasi

Melalui gadget, anak-anak juga bisa belajar membuat animasi secara sederhana, atau minimal membuat editing gambar dengan aplikasi gratis yang kita install di dalam perangkat.

Di era digital ini memang makin hari makin canggih, segala upaya kita untuk menghindarkan anak dari gadget 100% juga tampaknya sesuatu hal yang mustahil, kecuali kita tinggal di hutan yang jauh dari segala hingar bingar internet. Nah, mengingat saya dan banyak keluarga tinggal di lokasi dengan akses gadget maupun internetnya cukup deras, maka menjadikan teknologi sebagai sahabat sepertinya tampak lebih rasional dan memungkinkan, dibandingkan kita melarang gadget ke anak-anak secara frontal. Teknologi beserta gadget yang beredar hanya akan menjadi musuh besar kita dan generasi keturunan kita kelak, ketika kita tidak bisa mengendalikan dan mengaturnya dengan cara yang bijak. Membatasi gadget secukupnya sesuai dengan usia anak bisa menjadi salah satu langkah terbaik yang bisa kita lakukan saat ini, supaya anak bertumbuh dan berkembang sesuai dengan zamannya di era digital ini. Yang perlu kita ingat adalah anak makin dilarang, maka anak makin penasaran 🙂

 

Memilih Lingkungan Sekolah Yang Tepat di Era Digital

Peran orang tua penting, peran sekolah juga penting. Apalagi ketika anak masih berada di usia dini, memilih sekolah tidak boleh sembarangan. Sekolah yang tepat di era digital artinya kita mencari sekolah yang benar-benar bisa memfasilitasi kegiatan anak di sekolah supaya nantinya tidak canggung mengenal beragam teknologi. Mengingat di zaman sekarang, anak-anak usia dini bisa menghabiskan waktu minimal 3-5 jam di sekolah, hal ini menjadi acuan kita sebagai orang tua untuk memilih sekolah dengan penuh analisa dan pertimbangan mendalam.

Kehadiran banyak sekolah yang menawarkan beragam kelas dan kurikulum, wajib membuat kita sebagai orang tua untuk mempelajarinya secara lebih teliti lagi. Mencari sekolah yang siap menghadapi pesatnya laju era digital tentu saja menjadi salah satu pilihan utama saat ini.

kelas-kelas yang ada di apple tree pre-school BSD

Apple Tree Pre-School BSD adalah sekolah yang berada di BSD City, Tangerang, dengan fasilitas lengkap yang bisa membangun minat belajar serta bakat anak dengan konsep pendidikan modern dan siap dengan aneka tantangan di era digital. Aneka kegiatan baik di dalam dan luar ruangan memberikan kesempatan pada anak untuk berkembang dan beradaptasi sesuai dengan kecerdasannya masing-masing. Kelas mulai dari anak usia 1.5 tahun hingga 6 tahun dengan kurikulum yang ramah anak serta pembelajaran yang menyenangkan.

Menggunakan kurikulum dari Singapura dan berdiri sejak tahun 2000, menjadikan sekolah ini sebagai sekolah yang teruji kualitasnya. Seperti yang tercantum di dalam visi misinya bahwa sekolah akan membantu dan mengembangkan anak berdasar pada kelebihannya, memberikan pendidikan yang bisa mencetak anak dengan kecerdasan majemuk, utamanya pada kecerdasan secara fisik, intelektual, sosial maupun emosional anak.

Apple Tree Pre-School BSD

Jika Ayah Bunda ingin mengetahui lebih banyak tentang informasi seputar pendidikan dan kurikulum Apple Tree Pre-School BSD, bisa cek di website resminya yaitu https://www.appletreebsd.com atau langsung kunjungi Open Housenya pada tanggal 7 September 2019 jam 8 hingga 11 siang. Misal tertinggal dari tanggal tersebut dan ingin melakukan appointment atau punya pertanyaan, boleh silahkan langsung menghubungi nomor kontak 021 30001 083.

Nah gimana, siap mencetak generasi berikutnya yang mandiri, cerdas dan bertalenta? Segera hubungi Apple Tree Pre-School BSD yuk!

******

Artikel ini diikutsertakan dalam Blog Competition dengan tema “Pentingnya Pendidikan Anak Usia Dini Dalam Era Digital” yang diadakan oleh Apple Tree Pre-School BSD.

#appletreeBSD

******

Sumber:

Informasi sekolah & foto-foto berasal dari website Apple Tree Pree-School BSD

https://www.academia.edu

https://www.kompasiana.com/pakcah/5b85c753aeebe11eba075015/8-pedoman-pendidikan-anak-di-era-digital

https://www.wikipedia.org

https://lifestyle.kompas.com/read/2015/10/03/174041923/8.Jenis.Kecerdasan.Anak.dan.Cara.Mengembangkannya

https://www.id.theasianparent.com/alasan-pentingnya-pendidikan-anak-usia-dini-bagi-perkembangan-anak

https://www.paud.id/

 

 

Istantina atau lebih dikenal sebagai innaistantina, A Lifestyle Blogger asal Jogjakarta. Selain menulis, motret & yoga adalah hobby yang digelutinya. Kenali lebih dekat melalui IG: @innaistantina

14 Comments

  • Mpo Ratne

    Benar mba gadget adalah Cara Kita untuk pengalihan biar anak diam ataupun biar anak makan lahap sambil main gadget. Di tangan Kita letak kesalahan dan Kita harus memperbaiki nya.

  • Fauziah azzahra

    Terperinci sekali penjelasannya mba. Sebenarnya gadget tidak selalu buruk ya asalkan kita mampu menyikapinya. Mempersiapkan anak untuk menghadapi era digital tidak dengan menjauhi anak pada gadget tapi memanfaatkan gadget untuk sesuatu yang positif.

  • Vicky Laurentina

    Mbak, itu penelitiannya Katherine McCartney yang menyatakan pencapaian anak yang bersekolah PAUD ternyata lebih baik itu dibandingkan dengan apa? Dibandingkan dengan anak yang homeschooling atau anak yang langsung bersekolah TK? Lalu itu sampel penelitiannya diambil pada anak-anak umur berapa? Kemudian penelitiannya diteliti sampai sampel penelitiannya berumur berapa? Bolehkah saya minta link untuk membaca keseluruhan laporan McCartney ini?

  • Arda Sitepu

    Setuju banget mbak kalau adanya batasan jam untuk anak memegang gadget serta mendapat pengarahan dan pengawasan. Dunia digital terus berkembang dan peran orang tua adalah untuk mengawasi dan membuat anak memilik daya kreatif dan imajinatif di dalamnya.

  • Okti Li

    Jam gadget ini yang sedang berusaha saya terapkan kepada anak. Di satu sisi gadget perlu buat ilmunya. Di sisi lain gadget bisa membunuh waktu serta kebiasaan lainnya. Karena itu saya terapkan kepada anak, semua ada waktunya. Termasuk menggunakan gadget. Dan ini saya terapkan kepada saya dan suami, sebagai orang tuanya

  • Ainhy Edelweiss

    Emang benar yah bund, kt gak perlu khawatir apalagi paranoid di era dogotal, awalnya sih aq sempat gmna nti klu udah punya anak trus main hape aja trus, alhamdulillah baca tlisan kayak gini menambah insight bgt

  • lendyagasshi

    Memang mendidik anak harus disesuaikan dengan zamannya yaa…
    Kalau dilarang juga gak mungkin karena lingkungan semua sudah berbeda.

    Semoga tips di atas di kembangkan ibu-ibu sesuai dengan kebutuhan anak.
    Dan anak-anak tetap tumbuh cerdas dan kuat.

  • Nabila Haqi

    Wah, ilmunya bermanfaat banget nih buat aku yang masih newbie. Emang sih rencananya anak-anak akan aku berikan pendidikan sejak dini. Cuma mungkin bukan di paud, melainkan tempat-tempat belajar dan menghafal Al-Qur’an sejak dini. Apapun itu, semoga Allah senantiasa membimbing kita menjadi orang tua yang baik, Aamiiin.

  • Tika Samosir

    Sebisa mungkin sih anak bisa menghadapi dan terjun dunia digitalisasi ya mba.
    Tapi kita orangtua harus tetap memantau dan mengarahkannya ke hal posotof terutaman.
    Karena ini dunia digitalisasi inilah tantangan orangtua dalam mendidik anak.

Leave a Reply to Fauziah azzahra Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *