Lifestyle

Berhijab Syar’i, Sekarang atau Nanti?

SMA kelas 1, ini adalah awal saya mulai berhijab. Berbekal pengetahuan yang cukup dari salah satu mahasiswi yang kos di rumah ibu, maka saya memantapkan diri untuk berhijab. Bahkan sampai saya punya 1 anak, mahasiswi yang memberikan banyak informasi tentang hijab tersebut, malah belum berhijab hingga saat itu. Sekarang saya kurang begitu tahu persis seperti apa, apakah ia sudah berhijab ataukah belum. Wallahu a’lam.

Apa yang menggerakkan saya untuk berhijab waktu itu? Seingat saya, saya tidak mendapatkan mimpi atau firasat apa-apa. Ya bergulir begitu saja. Apalagi setelah Bapak meninggal saat pengumuman kelulusan saya SMP, lalu beberapa kejadian di rumah yang membuat saya resah, maka hanya Allah-lah jawaban dari semua kemelut yang ada.

Seperti halnya, seperti saat saya mendadak mendapat telpon dari sepupu saya, “Nok, siapin pas foto ya, kamu berangkat Haji”. Hati saya berdegup dengan kencang. Saya tidak ada planning berangkat haji sebelumnya, karena tentu saja berpikir, uang dari mana coba? Padahal saat itu saya baru saja lulus kuliah dan sedang getol-getolnya melamar pekerjaan kesana kemari.

Subhanallah, kalau Allah sudah berkehendak, maka jadilah! Maka berangkatlah saya, dengan bekal ilmu seadanya, tapi dengan keyakinan kuat, bahwa perjalanan haji itu indah. Dan benar adanya, indah sekali saya rasakan, baik secara jiwa maupun raga. Benar-benar apa yang kita pikirkan, maka itulah yang kita dapatkan seketika.

Seperti ketika saya mendadak pengen banget makan pear, lah kok gak sampe hitungan jam, ada seseorang yang menghampiri saya, dan meletakkan pear di piring makan saya. Bukan hanya kejadian baik yang langsung diijabah, begitu pula sebaliknya, ketika saya berpikir dengan sombongnya, “Ah sandalku gak ilang-ilang gini kok, kenapa Ibu nyuruh aku bawa sandal jepit lebih dari satu”. Dann benarlah, gak sampe hitungan jam pula, sandal jepit yang tadi di depan mata saya, lah kok lenyap!

Itulah, ketika Allah berkehendak, yang harus terjadi, ya maka terjadilah! Seperti saat Allah memanggil kedua kakak saya di usia yang masih produktif. Kakak pertama, laki-laki, Bapak untuk kedua anaknya, masuk ICU dan langsung meninggal keesokan harinya, padahal kami sempat telponan pagi harinya, dan sepertinya masih baik-baik saja. Kakak kedua, Ibu bagi kedua anaknya, meninggal karena kecelakaan tank di Purworejo, dan sempat ramai dibahas di media massa nasional.

Sedemikian dekatnya orang-orang terkasih saya meninggal begitu cepat, membuat saya sering bertanya-tanya. Kenapa Allah memilih mereka? Mereka orang-orang yang sangat baik. Terlalu baik bahkan. Benarkah ujaran orang-orang bahwa orang baik itu meninggalnya lebih cepat?

Kepergian Bapak dan kedua kakak saya, juga membuat saya merenung, jika berikutnya saya, apa saja memangnya yang sudah saya persiapkan? Puasa sunah saja masih blang bentong, Sholat Tahajud saja masih banyak bolongnya. Masya Allah. Betapa malunya saya, betapa berasa hina di hadapan Allah.

Cara berhijab saya pun masih dibilang jauh dari syar’i. Baru kadang kala saja saya memakai yang khusus syar’i, tapi belum untuk sehari-hari. Duh namanya manusia, masih banyak sekali dihinggapi alasan. Yang ribet nyucinya, yang males nyiapinnya, yang mahal harga satu paket baju syar’inya. Astaghfirullah. Lagi-lagi, malu saya sama Allah. Padahal nikmat Allah sudah begitu banyaknya hadir dalam hidup saya. Kenapa saya masih saja terus menunda-nunda?

Secara stok pakaian muslim yang syar’i, punya saya masih itu lagi dan itu lagi. Paling seneng dengan gamis. Kenapa gamis? Sebenarnya karena alasan praktis! Mau dipakai sambil beraktivitas apapun juga bisa, jalan-jalan bareng teman ataupun keluarga, menghadiri event kondangan, main sama si kecil yang aktif banget pun gak ada masalah! Apalagi saat bepergian jauh, palinggg wenak itu pakai gamis, karena pasti butuh mampir di toilet umum. Nah kalau pakai gamis, itu bisa set setttt cepet rampung acara pertoiletannya 😀

Kalau boleh memilih, saya lebih senang dengan pakaian syar’i berupa gamis simple saja. Seperti yang ada di butik baju muslim @ava.lable.  Cyakepppppp model gamisnya  & warna-warnanya saya suka banget! Teman-teman bisa meluncur melihat koleksinya di akun instagramnya atau kalau mau belanja bisa klik link ini https://quicksell.co/s/avalable/avalable/njn

Yaaa tentunya, berhijab syar’i itu gak perlu nunggu ada baju baru ya. Kalau ada, alhamdulillah. Kalau belum ada, kita bisa padu-padankan dulu baju yang kita punya. Sekarang atau nanti? Lebih cepat, lebih baik pastinya. Karena kita tidak tahu berapa sisa umur kita.

Doakan ya teman-teman, #journeytosyari ini memang tidak mudah, tapi saya yakin, hati bakal berasa makin tenang ketika kita terus upayakan yang terbaik! Bismillah 🙂

Istantina atau lebih dikenal sebagai innaistantina, A Lifestyle Blogger asal Jogjakarta. Selain menulis, motret & yoga adalah hobby yang digelutinya. Kenali lebih dekat melalui IG: @innaistantina

4 Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *