Belajar dari Kegagalan Usaha Fried Chicken (2007)

Refresh ke tahun 2007, pasca melahirkan anak pertama, waktu itu saya masih siaran di sebuah radio swasta di Jogja. Saya dan suami memutuskan untuk membuka sebuah usaha, yaitu fried chicken. Dengan membongkar deposito kami waktu itu, dan bantuan modal dari orang tua kami, terkumpullah sekitar 20 juta untuk mengikuti sebuah franchise fried chicken.  Bisa dibayangkan, saya yang gak terlalu jago-jago amat masak, kemudian memaksa diri saya untuk mau mengenal dunia usaha penuh permasakan ini.

Suami saya duluan yang ikutan training untuk cara membuat fried chickennya di Jakarta, setelah itu mengajarkan ke saya bagaimana cara-caranya, mulai dari membersihkan ayam, sebersih mungkin, mengaduk ayam di dalam adonan tepungnya, hingga menggoreng dengan nyala api tertentu sesuai standard. Mulailah kami menawarkan dari satu teman ke teman lainnya, masuk di beberapa acara, membuat 3 gerobak, dan membuka stand di Carrefour Jalan Solo dengan sewa sekitar 600 ribuan rupiah perbulan waktu itu.

Rutinitas malam hari sebelum tidur, membersihkan ayam, memberi bumbu, masukin freezer, dan paginya siap untuk jualan. Dengan dibantu 1 orang asisten untuk berjualan, yang sebelumnya saya dan suami ajari teknik-teknik menggorengnya.  

Sekitar 3 bulan lamanya, usaha kami akhirnya tutup. Pelanggan yg pesan ke rumah maupun ke stand kami, tidak bisa nutup untuk bisa memutar kembali modalnya. 3 gerobak yang dibikin, 2 nganggur di rumah. Rugi? Iya banget. Kecewa? Sangat? Mutung? Iya! Mutung untuk tidak mau jualan lagi! Kapokkkk setengah mati! Merasa gak bakat dagang, gak bakat marketing!

Buat Anda yang jago jualan & marketing pasti komentarnya sama, ya iyalah bangkruttttt, baru 3 bulan sudah menyerah! Iya benerrrr bangettt! Setelah kesini, dan saya paham, saya bukannya menyesali, justru saya SANGAT BERSYUKUR dengan pengalaman tersebut! Andai waktu itu saya lebih konsisten beberapa saat lagi, pasti bakal menuai. But hey! Mental saya & suami waktu itupun masih “lembek” barangkali ya. Kami terlalu cepat menyerah. Kami terlalu gampang menilai bahwa kami gak bakat di bidang tersebut.

Saat ini, Alhamdulillah saya menekuni sebuah Bisnis yang bisa saya kerjakan di rumah, di depan laptop, sambil kerja online bisa nenenin anak kedua saya, bisa tetap pantau si kakak yang baru belajar membaca ataupun menulis, ikut berkumpul bersama teman-teman jaringan melalui Facebook dan mainan sama kedua anak saya…. Subhanallah, tidak bisa saya ucapkan dengan kata-kata… Kalo inget lagi perjuangan bikin fried chicken di tahun 2007 itu, perjuangan saya sekarang sebenernya lebih enak pake bangettttttt! Ibaratnya tinggal online, saya bisa menjangkau semua jaringan saya di manapun. Bagaimanapun kenangan membuat usaha makanan cepat saji itu selalu dalam ingatan saya dan suami. Modal yang kami bongkar dari deposito kami berdua dan kami dapatkan dari orang tua, sudah menjadi NIAT kami untuk mengembalikannya dalam waktu secepat mungkin, bahkan lebih berlipat-lipat daripada sebelumnya, terutama ke orang tua kami.

Teman… Sahabat…. Apapun perjalanan bisnis yang temen-temen Bina & Bangun saat ini, percayalah itu semua memang tidak mudah, hanya saja KONSISTENSI akan selalu menjadi jawaban untuk bisnis apapun, baik itu konvensional maupun bisnis jaringan. Pernahkah kita membuat sebuah pengalaman yang begitu mahal harganya untuk menjadi pendongkrak lompatan kita ke tangga berikutnya?




coded by nessus
One comment

Add Comment

Required fields are marked *. Your email address will not be published.