Parenting

Belajar Cukup 15 Menit!

Musim PTS (Penilaian Tengah Semester) ya bu ibuuuuu. Yang belum tau apa itu PTS, ini adalah semacam THB atau ulangan tengah semester jaman dulu lahhh. Cuma beda istilah aja. Nama PTS juga baru aja ganti kok, sebelumnya UTS (Ujian Tengah Semester). Yaaa biasa deh, ganti menteri, lalu gantilah kurikulum bahkan sampe ke printilan istilah-istilah di dalamnya.

Wait wait, saya gak mau bahas dulu lah, seputar njlimetnya pendidikan di negara tercinta kita ini. Saya pengen lebih fokus menyoroti orang tua, terutama para Ibu yang cukup sewot ketika anak-anak mereka sedang menghadapi ulangan harian, tengah semester maupun ujian akhir. Why?

Nah itu juga pertanyaan saya, WHY? Kenapa mesti pada sewot? Selama ini saya gak pernah sewot perkara menghadapi ulangan ini ke anak-anak. Boleh tanya ke anak-anak, saya sewotnya itu pas apa? Pasti mereka bakal jawab, saya biasanya sewot ketika anak-anak naro handuk sembarangan, gak merapikan sesuatu kembali ke tempatnya, dan segala sesuatu yang berkaitan dengan tanggung jawab dan disiplin. Kalo perkara belajar pelajaran di sekolah? Saya mah terbilang gak sewot tapi juga gak santai. Terus gimana dong?

Selama ini, saya melatih anak-anak untuk belajar 15 menit perhari, misal di hari biasa uda terlalu padat, juga boleh diganti pas hari libur. Iya cukup 15 menit aja, gak usa banyak-banyak. Yang penting rutin, mengulang apa yang didapat di sekolah, atau untuk Ical, si Kakak yang kelas 6 SD, ditambah dengan belajar buku-buku khusus menghadapi USBN (atau EBTANAS nihhh istilah jadoelnya).

Lalu jam berapa belajarnya?

Boleh jam berapa aja kok, kalo Ical yang sudah terbiasa bangun pagi, biasanya bakda Subuh. Kalo Sasha yang masih kelas 1 SD, biasanya malam hari sebelum tidur.

Jadiiiii saya bukan termasuk pasukan ibu-ibu yang heboh dan sewot sendiri ketika anak-anak menghadapi ulangan atau ujian. Karena belajar itu sebenarnya bisa dijadikan habit tiap hari.

Lalu kenapa gak perlu lama-lama?

Duh plis, di sekolah aja mereka uda belajar minimal 5-7 jam dalam sehari, yo mosok di rumah masih harus terbebani dengan belajar terlalu lama? Coba kalo itu kita yang rasain sendiri, mau gak?

Buat saya dan suami, justru waktu di luar sekolah, adalah waktu untuk mengembangkan minat dan bakatnya. Seperti misalnya Ical, yang lebih fokus untuk belajar aransemen musik, dan Sasha yang seringkali menggambar atau mewarnai. Atau kita seru-seruan mengerjakan vlog project bersama.

Saya masih ingat, ketika saya masih kuliah dan sering ke rumah kakak saya di Bekasi, anaknya yang waktu itu SMP, pulang sekolah lanjut les pelajaran, sampe rumah kurang lebih diatas jam 4-5 sore. Jam 7 malamnya, dia masih aja disuruh belajar sampe jam 9 malam, dan sedikit nada protes ke Mamanya, “Kan aku capek Mah”. See? Anak-anak ini manusia yes, bukan robot. Belum lagi keponakan saya ini berangkat sekolah jam 5 subuh loh! Malah kadang jemputan uda dateng jam 4.30an. See? Anak-anak ini manusia yes, bukan robot.

So, kembali ke kita aja, mau membentuk generasi manusiawi, atau generasi robot?

 

 

Istantina atau lebih dikenal sebagai innaistantina, A Lifestyle Blogger asal Jogjakarta. Selain menulis, motret & yoga adalah hobby yang digelutinya. Kenali lebih dekat melalui IG: @innaistantina

2 Comments

  • Fanny F Nila

    Setujuuu. Bljr dr pengalaman sendiri aja, aku yg dulu selalu dipaksa belajar, ujung2 malah ga ngerti sbnrnya yg dipelajari apa. Yg ptf bisa diapal mnjelang ujian, trus lgs lupa setelahnya. Trus fungsinya belajar apaan.. Aku ga pgn anak2ku kayak gt juga. Belajar secara apalan, mendadak megang buku hanya saat deket ujian. Ga bakal bisa sih.. Aku jg lbh milih belajar sebentar, tp rutin dan tiap hr 🙂

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *