Parenting

Bapil? Bye Bye Antibiotik

DSC07626-768x1024Inget banget, jaman saya kecil dulu, tiap flu langsung dibawa ke dokter. Dannn flu lagi, lagi dan lagiii.. Batuk lagiii dan lagiiii….

Pola ini berulang ke Ical, anak pertama saya. Dari usia dibawah 1 taun, kalo flu, batuk, pasti saya langsung bawa ke dokter. Alasan apa lagi kalo bukan karena gak tega liat Ical yang lemes, hidungnya bumpet & batuknya ngukluk menjadi-jadi.

Hingga saya membaca artikel tentang flu + batuk yang harusnya tanpa antibiotikpun bisa sembuh dengan sendirinya. Pikir saya waktu itu, apa iya? Toh bukannya lebih bagus ya kalo misal bisa lebih cepet sembuh, si anak bisa ceria lagi, maen lagi. Dengggggg! Ternyata saya salah saudara-saudara.

Waktu itu saya punya prinsip, misal 3 hari gak sembuh batukpileknya, langsung saya bawa ke dokter. Ya alhasil, sebulan sekali atau malah pernah 2x, ke dokter untuk nyembuhin bapilnya.

Saya sendiri juga punya kebiasaan sama, tiap bapil dateng langsung minum obat batuk + antibiotik. Dan jeng jeng! Ketika hamil + menyusui, gak mungkin kan saya sembarangan konsumsi obat.

Alhamdulillah, dari masa hamil + menyusui itulah yang terus saya inget-inget lagi, saya terapkan juga ketika bapil atau gejalanya mulai datang. Saya belajar untuk menjauhkan diri saya dan anak-anak saya dari antibiotik. Saya belajar untuk meyakinkan suami saya dan eyangnya anak-anak, “gak perlu ke dokter dulu kok”, “gak perlu kasih antibiotik diulu kok”.

Dannnn…

Subhanallah, pola yang saya perjuangkan setahun belakangan ini mulai terasa hasilnya. Ical yang dulu dikit-dikit saya ajak ke dokter, awalnya memang gak tega banget ya liat batuk ngukluk, apalagi saat Ical bapil otomatis Sasha adiknya juga kena. Sayapun hanya makan kencur, minum perasan jeruk nipis, intinya sebisa mungkin saya menghindari dan menjauhkan anak-anak saya dari “terburu-buru” minum antibiotik.

Hasil dari proses saya dan keluarga belajar melepaskan ketergantungan dari obat & antibiotik ini adalah, Ical 6 bulan ini tidak pernah ke dokter, kecuali untuk imunisasi 5 tahunnya. Sasha pun demikian, pernah di usianya 3 bulan ketularan kakaknya yang Bapil. Waktu itu saya yang masih antara ragu + yakin, saya memutuskan untuk tidak membawa Sasha ke dokter. Alhamdulillah seiring Ical juga makin bagus daya tahan tubuhnya, jadi lebih tahan terhadap virus yang ada di sekelilingnya, terutama lingkungan sekolah, Sasha pun sejak lahir, Alhamdulillllahhhhhhh belum pernah bersentuhan dengan obat (kecuali penurun demam) + antibiotik.

Berjuang memang iya, selama setaun terakhir, 6 bulan pertama memang masa cukup berat, karena melihat kakak-adik ganti-gantian Bapilnya. Akan tetapi, ternyata rumusan bahwa antibodi/ daya kekebalan tubuh akan semakin bagus jika kita ijinkan “virus” untuk berada secara alamiah dalam tubuh, yang kemudian akan pergi dengan sendirinya, dalam kisaran 7-14 hari, ternyata saya buktikan sendiri ke diri saya + anak-anak saya, BENAR adanya!

Nah, Jika gejala bapil atau bapilnya sudah datang ke anak-anak kita, apa yang sebaiknya kita lakukan?

1. Untuk yang masih asi, tentu neneninnnnnn terusssss, frekuensinya justru lebih sering.Yang sudah tidak ASI, intinya minum yang banyak, apapun itu, juice, air putih, susu, dll. Makan buah-buahan yang mengandung banyak air. Makan sup hangat-hangat.

2. Kepala (ubun-ubun)nya bisa kita kasi pala yang ditumbuk, ini selain memberikan efek melegakan hidung, bisa memberi efek kantuk, sehingga si kecil bisa beristirahat

3. Tetep tenang. Usahakan kita tetap tenang, tidak panik. Jangan terburu-buru membawa ke dokter. Yakin Yakin Yakin! Si kecil pasti sembuh dengan sendirinya kok. Justru tubuhnya bakal makin sehat + kuat dengan belajar mengakomodasi “virus” dengan antibodinya sendiri.

Last but not least, saya jadi inget seorang saudara yang kebetulan rumahnya di desa tempat ibu saya dilahirkan. Dia bilang: “Aku gak pernah mbak bawa anakku ke dokter. Ya berapa biayanya kalo dikit-dikit ke dokter. Paling cuma kuajarin biar ingusnya bisa keluar. Kukasih tumbukan pala, udah terus cepet sembuh”.

Wiiiiiii, kita yang termasuk ibu-ibu modern, tinggal di kota, harusnya lebih punya akses informasi kesehatan dan bisa lebih pandai-pandai memilih yang terbaik untuk kesehatan anak-anak dan keluarga kita kan ya?

Yuk, makan cukup, tidur cukup dan minum yang buanyakkkkkkkkkkkkk! Bismillahh! Sehat Sehat Sehat!

Terimakasih sudah berkunjung dan komen di blog ini, komen akan dimoderasi terlebih dahulu sebelum tampil :)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *