Reflection

Bangganya Seorang Suami

“Mbak Ririn pamit sama saya. Seperti hari-hari sebelumnya, tapi hari itu rasanya ada yang beda. Berat hati saya saat beliau salim lalu pamitan”.

Begitu indahnya suami kakak saya menghormati almarhumah istrinya. Menyebut kata beliau, dalam setiap cerita yang ia gulirkan tentang sosok istrinya yang meninggal karena kecelakaan tank di Sungai Bogowonto Purworejo bulan Maret 2018 lalu.

Iswandari atau lebih dikenal dengan nama Ririn dalam kesehariannya, adalah IRT biasa dengan make up yang juga biasa, tidak pernah muluk-muluk semasa hidupnya, begitu sederhana dan bersahaja. Search saja di google tentang berita kecelakaan tank di Purworejo ini, ribuan artikel hampir semua menyebutkan nama kakak saya, dan juga menceritakan bagaimana detail kejadiannnya.

Foto: tribunnews.com

Kejadian yang cukup menghenyakkan kami sekeluarga, dan tentu saja suami kakak saya ini. Di hari kakak saya meninggal, entah belasan hingga puluhan media massa baik cetak, elektronik maupun online berbondong-bondong datang ke rumah Purworejo. Saya yang pernah kerja di dunia radio maupun televisi, nyatanya juga sempat geregetan juga, saat para wartawan tersebut mengejar cerita dari suami dan anak-anak kakak saya. “Apa gak bisa nanti gitu, kan sedang berduka!”. Yah tapi mana mungkin, namanya juga media massa, pasti mereka cari info untuk bahan berita yang akan ditayangkan segera.

Tapi entah mengapa, suami kakak saya ini, menghadapi awak media dengan tetap tenang. Iya, gaya khasnya selama ini, memang tenang dan menyejukkan. Memang, ia terlihat sangat sedih, tapi bukan meratapi berlebihan ketika istrinya tiada. Suami kakak saya juga sempat mengakui, mondar-mandir dari depan ke belakang rumah karena seperti bingung mau berbuat apa dan merasakan ada lubang kosong besar dalam dirinya.

“Saya memutuskan untuk pensiun lebih awal, supaya bisa dekat dengan istri dan keluarga. Baru setahun saya menikmati kebersamaan bersama Mbak Ririn, ternyata Allah punya keputusan lain”, ungkapan suami kakak saya almarhumah ketika ia mengumpulkan kami sekeluarga di rumah belakang, malam hari setelah pengajian selesai.

Kakak saya dan suaminya, memang sempat menjalani pasangan LDR yang cukup lama. Dan tentu saja, sebagai istri yang jauh dari suami, menuntutnya jadi pribadi yang mandiri dan tangguh. Bahkan suami kakak saya ini masih tidak habis pikir, gimana cara Mbak Ririn mengorganize semua hal di rumah dan juga lingkungan masyarakat di tempatnya berdedikasi selama ini.

“Saya juga taunya, Mbak Ririn itu hanya aktif di kegiatan PAUD, dan juga sama Ibu-ibu pengajian disini saja. Ternyata setelah beliau meninggal, banyak cerita berdatangan ke saya, tentang prestasi-prestasinya”, lanjut cerita suami kakak saya sambil sesekali mengusap air matanya yang tertahan.

Ya, manusia boleh berencana, tapi Allah pula lah yang punya segala ketentuan dan keputusannya. Inilah yang tampak jelas di raut suami kakak saya. Meski berat, tapi tetap berusaha ikhlas. Bahkan raut wajahnya senantiasa berbinar, ketika menceritakan betapa bangganya ia sebagai suami dari seorang perempuan yang aktif dalam kegiatan sosial, dan hingga ajal menjemput masih saja berusaha untuk menolong orang lain.

Dari suami kakak saya ini, saya juga melihat kecintaan luar biasa terhadap istrinya, membuat saya belajar, tentang bagaimana menghargai dan menghormati pasangannya dengan tulus dan apa adanya.

Pelajaran buat kita semua, apakah selama ini kita sudah memperlakukan pasangan kita dengan sebaik-baiknya?Β  Karena kita tidak tahu persis, siapa yang akan pergi mendahului menghadap Ilahi, kita atau pasangan kita? Wallahu a’lam. Lalu, sudahkah kita menghargai pasangan kita dengan baik, sekaligus mencintainya sepenuh jiwa raga?

Terimakasih sudah berkunjung dan komen di blog ini, komen akan dimoderasi terlebih dahulu sebelum tampil :)

26 Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *