Ketika Kecepatan memBUTUHkan Ketepatan
Suatu bulan di akhir tahun 2005, saat saya memutuskan untuk resign dari TransTV. Berpindah ke sebuah perusahaan dengan tawaran gaji lebih tinggi. Ingat sekali, ketika Bang Jun, Executive Producer saya bertanya: “Uda yakin Na mau resign?”. Entah apa yang ada dalam batin saya waktu itu. Saya hanya ingin pindah, itu saja. Sesegera mungkin, secepat mungkin, gak sabar pengen pindah ke perusahaan dengan gaji yang lebih baik.
Bekerja di sebuah stasiun TV, apakah memang impian saya sebelumny? Iya! Iya pake banget! Apapun kursus, pelatihan, training yang mendekatkan saya dengan dunia broadcasting, pasti saya ambil, saya tekuni. Apakah saya nyaman dengan pekerjaan saya waktu itu? Iya! Sangat! Saya sangat mencintai pekerjaan tersebut. Nyaman & sangat Bangga. Kesalahan saya adalah terlalu cepat memutuskan, terlalu cepat “mendua”, berpindah ke lain hati. Terlalu cepat memutuskan untuk pindah ke perusahaan lainnya.
Bahkan Mas Diput, AsProd saya waktu itu juga bilang: “Ntar loe kangen lho kerja ama kita semua lagi disini”. Aha! Saya sadari ketika saya mulai bekerja di tempat baru. Oke gaji memang lebih besar, but feeling so “empty”. Ruang-ruang hati ini terasa kosong dan kosong. Hal-hal “membahana” yang saya temukan di kantor sebelumnya tidak saya dapatkan sama sekali. Kangennya setengah mati dengan ritme kerja dunia TV. Bahkan waktu itu, hanya dengan nonton produksi acara-acaranya pun saya bisa “mrebes mili”, saking kangennya berada di situasi itu kembali, saking masih terasanya teamwork luar biasa saat mengerjakan suatu program televisi. (more…)



