Arti ucapan ‘SELAMAT’

Beberapa waktu lalu, saya mendapat surprise dari Ical, putra pertama saya. Pasalnya, Ical memenangkan 2 lomba di beberapa kejuaraan yang diadakan di sekolahnya. Juara 1 Hafalan Surat & Juara III Mewarnai. Bagi saya & suami, meski ini hanya lomba di tingkat sekolah, tapi ini satu prestasi yang membanggakan & sekaligus bisa memberikan rasa ‘percaya diri’ pada putra kami.

Satu hal yang saya yakini, pengalaman di masa emasnya adalah masa dimana memori-memori tersebut akan terekam dalam otaknya yang selaksa spons yang menyerap apapun disekitarnya. Saya pun senantiasa belajar & berusaha agar pengalaman-pengalaman ‘positif’ & ‘memberdayakan’ menjadi acuan buatnya di masa depan.

Dalam ikut lomba sebenarnya bukan kali ini saja, ya meski saya bukan pemburu lomba, alias dimanapun ada lomba dikejar, hehe. Sebelum-sebelumnya Ical belum pernah menang dalam lomba apapun. Saya & suami juga tidak pernah memberinya hadiah saat sebenarnya Ical tidak menang, karena saya menjumpai ada beberapa orang tua yang sudah siap dengan hadiah, dimana hadiah tersebut akan diberikan ke putra/ putri mereka, saat tidak mendapat juara apapun. Hihihihiiiii, bagi saya & suami keliatannya hal itu kok lucu ya. Bukannya hal tersebut justru membuat anak tidak siap menghadapi the real situation suatu saat nanti ketika dewasa? Kita kan tidak bisa mendampingi atau memantaunya 24 jam penuh di luar sana?

Ketika si kecil mengikuti lomba, biasanya saya & suami mengkondisikan ia tetap dalam suasana bermain & memahamkannya supaya tetap ‘fun’ & ‘enjoy’, bukan target pada lomba itu sendiri. Saat kemenangan tidak di tangan, kami berdua tetap memberikan Selamat, karena hal tersebut telah menunjukkan keberanian & kespontanannya.

Berbicara tentang lomba, saya ajak kembali Anda ke lomba di sekolah anak saya tersebut. Ada cerita yang lebih menggelikan lagi nie, atau barangkali tepatnya lebih menggemaskan. Kejadiannya ya waktu saya & ibu-ibu orang tua murid lainnya melihat kertas yang berisi pemenang-pemenang lomba. Saat beberapa ibu memeperhatikan kertas yang tertempel di papan, tiba-tiba ada seorang ibu yang nyeletuk: “Anak saya kemaren janji mau juara. Ehhhh ternyata CUMAN JUARA 3.

Hah? Apa? Saya gak salah dengar ya? Tiba-tiba pula kok jadi saya yang ngerasa jadi anaknya & gak trima dengan ucapan Ibu itu ya? Langsung aja saya nimpalin: “Juara 3 kan juga SEBUAH PRESTASI“.

Untungnya tidak terjadi debat berkepanjangan, gara-gara celetukan saya tadi. Si Ibu tadi langsung terdiam & tidak komentar apapun. Padahal saya uda nyiapin jurus berikutnya kalo sewaktu-waktu dia ngeyel dengan tanggapan saya, xixixiiiii.

Sebagai orang tua, Sudahkah Anda & tentunya juga Saya menyadari bahwa ternyata ucapan ‘Selamat’ itu sangat bermakna untuk perkembangan psikologis putra/ putri kita? Seberapa sering kita memberi ucapan ‘Selamat’ untuk hal-hal yang terlihat kecil yang terjadi dalam kehidupan putra/ putri kita? Sejauh mana kita menelisik bahwa “Selamat” lebih artinya dari sekedar sebuah pemberian ucapan tapi juga penghargaan terhadap “sebuah keberadaan“? Seperti apa ucapan Selamat kita? -hanya sembari lalu atau benar-benar kita ucapkan dengan sungguh-sungguh dengan menatap lekat kedua matanya?

Nah, bagaimana dengan Anda? Share yukkk…




coded by nessus

7 Comments

  1. zee

    Buat saya apapun prestasi yang dicapai anak saya pasti saya kasih apresiasi. Biarpun tidak dapat juara apapun, atau sseperti sekarang dia belum bisa menggambar dan mewarnai seperti temannya yg sudah bisa, tetap saya kasih apresiasi.
    Kebahagiaan anak adalah kebahagiaan orang tua juga seharusnya.

  2. apapun hasilnya menang dan kalah, yang penting adalah usahanya. pujian ketika menang, terus memberi semangat ketika kalah, itu juga berarti buat anak 😉

    Hebat ya jadi juara, hmm kapan ya amira ikutan lomba

  3. bisa ikut lomba juga prestasi, apalagi bisa juara dan peringkat apapun tetap harus tetap mendapat selamat.
    Apalagi anak butuh penghargaan atas usahanya mencapai prestasi, berikan ia pujian yang pantas asal wajar 🙂

  4. Pingback: Miss Matching | Lihat, Dengar & Rasakan

  5. Pingback: Cerita Kehamilan (yang sempat tertunda) | Lihat, Dengar & Rasakan

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *