Parenting

Anak Tanya Hal Seputar Reproduksi & Seksualitas, Bunda Siap Jawab?

“Mbakkkk, ini apaaaa?”, teriak saya dari dalam kamar mandi.

“Mbak” yang saya panggil ini adalah Mbak Nik, ART yang sudah ikut di rumah Mamah sejak saya masih bayi, jadi memang sudah  kami anggap seperti keluarga sendiri.

Yang saya ingat betul, Mbak Nik komen dengan komentar khasnya yang serba ceplas-ceplos, “Waaa iki”(wah ini).

Gak berapa lama, saya diberi pembalut untuk dipakai, dan segera setelah saya keluar kamar mandi, Mbak Nik bilang kalau saya dicari Mamah.

Mamah pun waktu itu kasih info singkat, padat, jelas, “Itu tadi namanya menstruasi, berarti kamu udah mulai gede. Harus hati-hati”.

Yap, itu aja informasinya. Saya pun yang masa kecil dulu gak *sekritis & sengeyel* sekarang, cuman bisa manggut-manggut, berani tanya pun engggak, padahal mudeng pun kagak, wkwkwkwk.

Itulah sekelumit cerita saat saya mendapatkan tamu bulanan pertama kali di usia belasan tahun, saat akhir kelas 6 SD.

Mewakili sosok Inna saat itu, jujur ya, saya gak paham, maksudnya menstruasi itu apa, selain fakta fisik bahwa mestruasi itu artinya keluar darah tiap sebulan sekali. Terus maksudnya udah gede itu apa? Apalagi bagian *harus hati-hati”, makin lah gak paham.

Seiring waktu berjalan, seingat saya, Mamah juga gak pernah kasih penjelasan lagi seputar menstruasi. Sampai ketika masa masuk SMP dan mendapatkan pelajaran tentang reproduksi, barulah disini mulai ngerti dikit demi dikit.

Belum jaman google ya waktu itu, kalo mau cari info apapun, pastinya lewat buku atau artikel di majalah/ koran. Sampai suatu hari paham, lupa saya dari mana infonya, kalau maksud dari *harus hati-hati* itu adalah *kalo udah menstruasi artinya bisa hamil loh*.

Yap, itu aja pengetahuan saya saat itu. Kolerasi kalau perempuan udah mens, artinya bisa hamil. Titik.

Lebih kocak lagi, pengalaman teman saya, waktu mens pertama kali sedang berada di sekolahan. Lalu ngacirlah dia ke puskesmas dekat sekolah, dengan niatan pengen periksa ke dokter. Takut ada yang salah dengan dirinya. Kenapa berdarah? Kan gak luka, jatuh atau tergores apapun? Dannnn si dokter pun cuma tersenyum dan menjelaskan kalo itu namanya menstruasi.

Ya ya yaaa, generasi tanpa google saat itu, mencari informasi itu ya kalo enggak dari buku, berita di tivi, artikel majalah, atau nyari ahli di bidang tersebut. Cocok lah, kalo temen saya waktu itu, asumsi terdekat karena berdarah, ya ke dokter.

Kalo jaman sekarang, bingung gak tau jawabannya, google aja dah. Pertanyaannya, kita sebagai Ibu buat anak-anak kita, udah siap jadi *google pertama*nya anak-anak, terutama seputar reproduksi & seksualitas?

Anak Bertanya Tentang Reproduksi & Seksualitas?

Kebayang gak, ketika anak pulang sekolah/ les, tiba-tiba tanya, “Bun, kondom itu apa?”. “Kalo mimpi basah itu gimana?”

Misal nih anak-anak Bunda tanya hal tersebut, jawabnya gimana? Atau memilih menghindar dan menganggap si anak sok tau, dan menahan anak supaya gak usah tau menau hal tersebut? “Apa sih, masih kecil ini, nanti aja taunya kalo udah gede”.

Udah gede? Buk bukkk, help, plis, anak-anak jaman sekarang cepet gede. Kita gak kasih, tapi di luaran juga banyak informasinya.

Pertanyaan-pertanyaan yang saya sampaikan di atas, pernah loh ditanyakan Ical, anak bujang yang masuk usia 12 tahun. Pertanyaan atau lebih tepatnya pernyataan ini Ical sampaikan saat perjalanan menuju les, setelah ia dapatkan pengetahuan tersebut dari pelajaran sekolah yang membahas tentang reproduksi.

Begini kurang lebih penjelasan Ical sesuai pemahaman yang didapatkannya dari gurunya di sekolah. “Bun, mimpi basah itu kata guruku, kita mimpi seperti biasa gitu ya, terus ngompol, tapi bukan pipis kayak biasa”. “Ngompolnya itu sperma ya Bun, katanya sih lengket-lengket gitu”. Terus Ical tanya ke saya, “Memang bentuknya sperma lengket-lengket gitu ya Bun? Kayak jelly?”

Bahkan suatu hari, Ical tanya, “Bun, kondom itu apa sih?”. Setelah kami berbincang, ternyata saat Ical dan teman-temannya pulang Jumatan menuju ke sekolahan, beberapa temannya menemukan alat kontrasepsi tersebut di jalanan. Yes, itu artinya memang sengaja dibuang sembarangan atau mungkin tertinggal sama tukang sampah yang mengangkut sampah-sampah di perumahan tersebut.

Disini pun, saya menjelaskan, kondom itu alat kontrasepsi, artinya untuk mencegah kehamilan. Tentu dengan menyelipkan hal-hal yang berkaitan dengan moralitas. Justru buat saya, saat-saat anak penasaran tentang hal-hal reproduksi & seksualitas, disinilah saya juga lebih mudah untuk mengaitkan dengan pengetahuan agama yang kami yakini.

Suatu hari, adiknya Ical, Sasha 7 tahun, juga pernah bertanya, “Bun, nanti kalo aku mens itu sakit gak? Kalo melahirkan gimana?”. Kenapa Sasha bisa bertanya seperti ini, kan di sekolah juga belum dapet pelajarannya?

Karena saat saya menstruasi atau belanja pembalut, Sasha perlahan juga mulai ngerti, kalo perempuan sehat itu mengalami menstruasi. Disini pun, saya bisa masuk ke informasi tentang kaitan menstruasi dan kehamilan dengan bahasa sederhana, misal: “Bunda kalo gak mens, artinya bunda hamil’. Sekarang pun, Sasha juga ngerti, kalo perempuan baru mens itu, tidak boleh puasa.

Open Minded

Saya berprinsip, atau lebih tepatnya belajar open minded tentang hal-hal yang mungkin masih dianggap tabu untuk diperbincangkan bersama anak-anak, tapi ternyata memang, makin kita anggap tabu, makin lah bikin penasaran. Begitu pula dengan anak, makin dia gak ngerti, makin dia cari tau. Kita larang atau kita gak mau jawab pun, anak bisa cari di google atau lebih parahnya, tanya ke orang lain, yang belum tentu orang tersebut bisa kita percayai informasinya.

Di rumah gak boleh main gadget, emang di sekolah atau tempat les atau di luaran sana, dia gak bisa?

Meski saya pribadi belum bisa segamblang memakai istilah-istilah reproduksi yang *konon* disarankan beberapa pakar untuk disampaikan, tapi saya berusaha menjadi teman terbaik mereka, pendengar pertama mereka, saat anak-anak membahas tentang reproduksi & seksualitas, tapi saya berusaha untuk menjadi pendengar pertama sekaligus teman terbaik saat anak-anak pengen diskusi seputar reproduksi & seksualitas.

Intinya, informasi apapun, makin kita tutup-tutupi, makinlah menarik di mata anak-anak. Sama seperti kita taro ikan asin di panci, pasti kucing penasaran cari cara untuk buka tutupnya. Artinya, saat ini tutupnya di tangan kita nih, yang secara bijak pun, kita buka sesuai dengan usia dan tumbuh kembang anak-anak.

So, Moms, udah siap jawab ketika anak tanya tentang reproduksi & seksualitas?

Istantina atau lebih dikenal sebagai innaistantina, A Lifestyle Blogger asal Jogjakarta. Selain menulis, motret & yoga adalah hobby yang digelutinya. Kenali lebih dekat melalui IG: @innaistantina

14 Comments

  • Ardiba

    Jadi inget kl aku gak solat, Ais pasti sewot. Enak banget cewek bisa nggak solat. Katanya sih kl anak cowok mulai akil baligh, sebaiknya lebih byk dekat ke ayah, krn yg bisa mendesktipsikan gimana mimpi basah, dll ya dari ayahnya..semoga saat itu tiba aku wis gak LDR #lha malah curhat

  • Ari Santosa Pamungkas

    Halo kak.. Iya.. siap gk siap tapi kudu siap dan sigap ngejelasin ttg reproduksi ke anak.

    Anak aku yg sulung, Aria, udah hampir 8 tahun juga udah ribut kritis2 gitu. hahaha. Kalau adiknya, Arka, masih 9 bulan jd masih aman. hahaha.

  • Sapti nurul hidayati

    Intinya keterbukaan ya mb, daripada mereka dapat di luaran dengan informasi yang mungkib belum tentu benar, memang sebaiknya mereka tahu dari ortunya. Dan kita pun bisa sesuaikan dengan tahapan usia mereka. .

  • Lia Yuliani

    Setuju banget zaman now beda sama dulu. Anak zaman sekarang udah kenal gawai. Mereka enggak merasakan nikmatnya dulu main di luar bareng temen-temen. Nah, iya, memang adanya teknologi ini membuat mereka dewasa lebih awal. Tahu dari macem-macem. Memang sebaiknya ortu tetbuka, jangan menganggap tabu soal seksualitas ini. Mending Kita sebagai ortu yang kasih tahu mereka daripada dapat informasi yang kurang tepat. Pe er ortu zaman sekarang lebih berat memang karena zamannya beda kayak dulu

  • Meykke Santoso

    Wah, aku jga harus gali gali info biar saat masanya datang kelak Julio tanya tanya seputar reproduksi dan seksualitas ku bisa jelasin sesuai dengan kemampuan berpikir dia gitu, biar nggak terlalu vulgar jga ga terlalu sempit. Yg pas dan mudah dimengerti.

  • Antung apriana

    Iya nih zaman sekarang anak-anak semakin mudah mendapat berbagai informasi tentang berbagai hal termasuk soal reproduksi dan seksualitas ini. Sebagai orang tua kayaknya kita harus mengecek juga nanti sejauh apa pengetahuan anak kita soal itu.

  • Ludyah Annisah

    Setuju banget mbaa, ortu masa kini butuh banget yang namanya open minded. Selalu terbuka dengan pengetahuan baru yang dapat mendukung kematangan fisik dan psikis anak. Terlebih, supaya si anak langsung dapat edukasi dari ortunya tentang seks sejak dini, jadi bukan melalui media lain yang nyatanya malah dapat membingungkan si anak. Plusnya lagi, komunikasi dengan buah hati pun jadi lebih nyaman dan terbuka. suka deh kalau kayak gini.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *