Parenting

Anak Suka Mukul, Salah Siapa?

Here’s the thing, di kelas anak saya yang kedua, Sasha, ada seorang anak yang rupanya cukup sering melakukan tindakan fisik ke teman-temannya. Seperti yang pernah saya kupas sedikit di tulisan sebelumnya, Children See Children Do, beberapa orang tua sempat melapor ke pihak wali kelas, karena anak-anaknya ada yang dipukul, ditendang, ada juga yang dicekik hingga dicakar. Astaghfirullah, gak sanggup saya membayangkan, anak kelas 1 SD sudah bisa berlaku sedemikian rupa.

Tentu saja, Sasha sebagai teman sekelasnya, menjadi salah satu yang terkena imbasnya. Hingga kemarin, saat pulang sekolah, Sasha cerita lagi, “Bunda, tadi aku dipukul lagi sama X”. Maaf nama saya samarkan aja ya, karena gimanapun saya tetap menghargai anak ini, dan berharap kelak ia tumbuh jadi anak yang lebih baik.

“Dipukul apanya? Masih sakit gak?”, tanya saya. “Di kepala, bagian atas sini”, tunjuk Sasha. “Ya masih agak sakit,”, tambahnya kemudian. Setelah itu, saya tunggu hingga malam, apakah ada reaksi muntah dan sebagainya dari efek pemukulan tersebut. Alhamdulillah tidak ada, dan semoga ke depannya pun tidak ada. Atau saya tetap harus ke dokter? Masya Allah. Ibu mana  yang tidak khawatir, ketika anak berada 1 kelas dengan anak yang punya perilaku membahayakan teman lainnya. 

Sebelumnya saya belum pernah lapor ke wali kelasnya, tentang tindakan pemukulan anak tersebut. Kalau cerita Ibu-Ibu yang lain, sudah cukup banyak yang langsung lapor ke wali kelas. Tapi kemarin, setelah saya antar Sasha pulang sekolah, saya kembali lagi ke sekolah dan menemui wali kelasnya.

Di kasus heboh sebelumnya, si Ibu gak terima, bilang anaknya gak mungkin melakukan tindakan kekerasan ke teman-temannya, keluar dari WA group kelas, serta menyebutkan bahwa anaknya keluar dari sekolah karena merasa guru-guru tidak bisa bertanggung jawab.

Sungguh, ketika si Ibu menyatakan info tersebut di WA group kelas, saya sempat lega. Mungkin dengan sekolah di tempat lain, itu akan lebih baik. Tapiiii ternyata, setelah beberapa hari, anak tersebut masuk sekolah lagi. Fiuhhh, deg-deg-an pun kembali terjadi.

Saat saya bertemu wali kelas kemarin sore, terkuak cerita, bahwa orang tua si anak ini, sempat tidak terima dan mengelak bahwa anaknya gak mungkin seperti itu. Bahkan meminta bukti berupa foto. Hingga dengan bersusah payah, wali kelas berhasil mendapatkan bukti tersebut, dan mengirimkan ke Ibunya.

Well, akhirnya si Ibu mengakui, meski di sisi lain juga tetap dengan pembelaan. Anak ini memang mencontoh kakaknya, begitu penjelasannya. Orang tua sibuk bekerja, anak di rumah dengan yang momong, dan asyik dengan youtube.

Come on, please, jangan cuma salahkan youtube! Apapun tingkah polah anak, mau gak mau, suka gak suka, ini karena mencontoh role model yang ada di rumah, entah siapa itu. Lalu ketika kakak si anak ini juga melakukan hal yang sama, pasti kan ada sumbernya, belajar dari siapa? Right? Meski Ibu si anak ini ternyata seorang lulusan S3 dengan karir luar biasa, tetaplah mendidik anak, mengajari akhlak dan moralnya, adalah hal utama dan pertama.

“Sasha bilang ke Miss gak setelah dipukul tadi?”, tanya saya kemudian. Sasha jawab ia takut untuk bilang ke Miss di kelas, karena seperti kejadian sebelumnya, si anak tersebut jadi makin MENJADI dan KASAR ke siapapun yang berani melaporkan tindakannya. Astaghfirullah.

Sejujurnya, saya gak pengen nyalahin siapapun dalam hal ini, karena saya yakin tiap anak punya kesempatan untuk berubah, ketika mendapatkan pendampingan yang tepat. Kerjasama yang harmonis antar sekolah dan orang tua, tentulah menjadi salah satu jalan penengah terbaik.

Saya menulis ini bakda Subuh, dengan segala rasa cemas yang ada, memandang kedua anak saya, dan senantiasa berdoa semoga Allah melindungi mereka berdua, dimanapun mereka berada.

Saya tentunya berharap, supaya pihak sekolah punya kebijakan tertentu untuk kasus seperti ini, dan juga ke depannya, lebih mengetatkan lagi proses penerimaan siswa baru. Mungkin ada tes khusus secara perilaku & emosinya? Supaya kami, para orang tua lebih tenang saat anak-anak berada di sekolah. Supaya para anak-anak yang sesungguhnya ingin sungguh-sungguh belajar, bisa menyerap pelajarang dengan lebih nyaman. Supaya para guru, para pahlawan tanda jasa ini, juga lebih semangat dalam mengajar.

Ya Allah, lindungilah anak-anakku, keluargaku.

 

 

Terimakasih sudah berkunjung dan komen di blog ini, komen akan dimoderasi terlebih dahulu sebelum tampil :)

15 Comments

  • Hanila

    Aamiin, YaRabb.
    Semoga Allah selalu lindungi anak-anak kita.
    Children see children do, biasanya kan kita denger monkey see monkey do.
    Memukul, bicara kasar, ga punya adab ini berkaitan dengan keseharian dan lingkungan.

    Jujur, saya juga punya ketakutan dengan hal ini karena Zafa kan di sekeliling ga banyak teman, teman main ya sepupunya yang udah kelas 4 plus di TPQ tempat ngaji yang tak lihat anak-anaknya rada berisik. Cuman dalam waktu tertentu saya harus sering ngajak ngobrol Zafa saja. Memberikan contoh dan nasehat yang bisa dia ngerti secara dia juga baru lancar bicara di usia menginjak 3 tahun ini.

    Jadi biasanya tak bilang saja “Zafa, teriak ke Bundanya kaya Kakak, itu no-no-no, its not good, its not nice, ga sopan! Mommy so sad” biasanya dia ngangguk, kalau ga focus saya minta dia tatap mata saya sampai saya yakin dia dengerin. Dan itu ga bisa sekali karena anak-anak.

    Untung Sasha mau cerita itu yang terpenting ya, Mbak.

  • Ezza Tania

    iya, kalo ketemu anak yg begini, bingung ngadepinnya. dipisahkan dari teman2nya malah kian jadi, tidak dipisahkan, khawatirnya anak2 lainnya terpengaruh. tapi biasanya anak ini kalo sudah luluh dengan orang yg dia segani, trus orang tersebut bijak, mungkin dia bisa berubah. dia hanya kurang figur menurut saya. semoga dia bisa mendapatkan figurnya segera. aamiin.

  • Erin Friyana

    Lingkungan dapat berpengaruh besar terhadap perkembangan anak. Dan ini terjadi dengan anakku yang baru 1 tahun. DIa suka diddorong, dipukul sama temannya, eh.. anakku suka mukul wajahku. Diomongin susah karena masih gak ngerti, tapi dijauhin dari temannya gak mungkin juga. Semoga saja setelah mengerti diajarin anakku gak ikut-ikutan hal jelek.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *