Parenting

Anak Kok Bisa Kompak, Apa Rahasianya?

Sungguh, kalau dapet komen tentang betapa kompaknya Ical & Sasha, di satu sisi terharu dan bangga, di sisi lain merasa jadi beban tersendiri. Kenapa? Ya karena dalam realitanya, kedua bocah yang beda 5 tahun ini adalah anak-anak yang masih belajar membangun dan menguatkan karakternya. Ada kalanya berantem, ada kalanya heboh dan ngakak berdua, ada kalanya juga bisa kerja bareng dengan ide-ide mereka buat bikin konten di channel youtube Saddha Story.

Ya kadang juga saling ngadu, “Bun, tadi masa kakak gini Bun”. “Sasha tuh Bun, dia duluan tuh”. Ya ya ya, kadang gak ada yang mau ngalah, kadang bikin Bundanya ini keluar taring disertai lantunan nada dengan oktaf lebih tinggi dari punya Mariah Carey, wkwkwk.

Namanya juga bocah, kita aja yang dewasa terus belajar gimana mencerna pendapat dan karakter orang lain, meski itu adalah saudara kita sendiri. Apalagi anak-anak, pasti butuh proses untuk jadi kompak!

Kakak Adik Kompak Itu Seperti Apa?

Good question nih, saya pun ketika ada komen-komen di channel youtube tentang kekompakan anak-anak, saya jadi bertanya-tanya nih. Kompak itu apa sih? Karena mereka lihat Ical & Sasha bisa begitu antusias saat perform dengan ngevlog ataupun bikin cover lagu bareng? Atau kompak sendiri tuh sebenarnya ada definisinya gak sih?

Kalau dalam sebuah organisasi, tentu kompak ini mencerminkan bagaimana para anggota di perkumpulan tersebut bisa saling kerjasama dengan baik. Ibaratnya, ketika organisasi mencapai sebuah pencapaian besar dan hebat, tentu orang-orang memandangnya karena para anggotanya bisa kompak.

Sementara dalam dunia mungil bernama keluarga, dalam hal ini Kakak & Adik, kompak yang sesungguhnya itu seperti apa?

Apakah kompak itu artinya kakak adik gak ada yang namanya berantem-beranteman? Apakah kompak itu keduanya selalu happy ceria bersama sepanjang waktu tanpa perselisihan sama sekali?

Duh, saya kok ngeri kalau definisi kompaknya Kakak Adik itu artinya tanpa adanya masalah. Rasa-rasanya kok malah anak-anak gak belajar tentang dunia sesungguhnya. Yang penuh dengan aneka isi kepala, gimana mereka bisa belajar beradaptasi dengan apa yang ada di sekitarnya, kalau semua baik-baik aja.

Kompak kakak adik versi saya itu sederhana. Anak-anak happy melakukan aktivitas yang mereka suka bersama. Sekali waktu ada berantem, it’s okey aja. Karena disinilah titik mereka sedang belajar berinteraksi dan berkomunikasi dengan saudaranya, yang mana ini akan jadi bekal buat kegiatan sosial mereka dengan teman di sekolah dan lingkungan sekitarnya.

Ketika Kakak Adik Gak Selalu Kompak, Apa Yang Perlu Kita Lakukan?

Awalnya, ketika anak-anak mulai ribut, berantem, gak kompak karena sesuatu hal, saya suka turut campur alias nimbrung. Entah itu mendadak datang kayak peri kesiangan yang ngasih wejangan sampai ke tingkat geregetan ala ibu-ibu sewot pun kadang muncul, wkwkwk. Tapi sepertinya itu sia-sia, kitanya udah ngotot, eee beberapa menit kemudian udah lah tuh anak-anak ribut lagi.

Sampai suatu hari, saat saya baru nonton tivi sama suami, saya denger tuh Ical & Sasha meributkan sesuatu di kamar. Saya yang di ruang keluarga terus nyeletuk, “Ical… Sasha…”. Ya ya ya, it’s kinda warning, sebelum Bundanya nimbrung dengan petuah-petuah ala Mario Teguh. Setelah itu, suami bilang: “Bun, biarin aja, biar anak-anak belajar menyelesaikan masalah mereka sendiri tanpa kita ikut campur.”

Hyak des, suami padahal ngomongnya lempeng aja sambil nonton tivi. Tapi dalemmm bok, serasa saya tuh ketiban es krim sekontainer, wkwkwk. Simple banget kan sebenernya, anak-anak ribut, terus kita menahan diri. Sepertinya gampang tapi ternyata enggak! Kadang saya juga masih yang ikut nimbrung di tengah Ical & Sasha heboh berantem akan sesuatu. Terus saya inget lagi deh, itu anak-anak kalau pas sama Ayahnya doang kenapa lebih alim-alim ya. Kalau ama saya, kenapa beberapa kali ada kejadian letusan macam gunung berapi? πŸ˜€

Berarti memang yang suami terapin, dengan berusaha tetap cool saat anak-anak baru gak akur, ada benarnya juga. Apalagi setelah saya terapkan beberapa kali, ya bener juga tuh. Tapi yaaaaa…. Masya Allah, mengendalikan dan menahan diri buat gak nyeletuk saat anak-anak berusaha menyelesaikan masalah dengan saling berdebat ituuuuu, butuh perjuangan ya buk ibuk!

 

At least, memang kunicnya ada di diri kita sebagai orang tua, anak-anak mau makin berantem, ini juga bisa jadi malah kita yang nyulut apinya makin besar. Padahal niat kayaknya baik ya, tapi caranya aja yang kadang kita kurang tepat. Nah, terus gimana dong biar anak-anak makin kompak? Kan tetep ya, Β meski ada kerikil-kerikil perbedaan pendapat, tetep aja namanya rumah bakal lebih adem kalo lihat anak-anak bisa kompak.

Tips Kakak Adik Kompak

Bapak saya almarhum, pernah bilang, sesama saudara itu rukun. Alias jangan saling berantem. Bisa jadi ini karena Bapak juga pernah mendapati beberapa sepupunya yang ribut dengan sepupu lainnya. Bahkan ini bertahun-tahun, sampai tua pun masih aja musuhan. Kalau kata orang, teman itu bisa melebihi saudara, bisa jadi penolong terhebat dibanding saudara kandung sendiri. Tapi ya, sedih aja gitu kan. Masa sama saudara sendiri harus saling berantem-beranteman?

Berbekal wejangan Bapak itulah, saya juga jadi terinpirasi, punya cita-cita Ical & Sasha jadi kakak adik yang saling support, menghargai dan menghormati satu dengan lainnya. Beda pendapat, gak masalah. Asal semua ada takarannya. Yang saya yakini, pasti ada porsinya. Lalu apa yang selama ini saya lakukan supaya anak-anak belajar bagaimana menjadi kompak? Ya, yang saya tekankan disini adalah bagaimana saudara sekandung belajar bersama untuk kompak. Karena gimanapun, sepanjang umur manusia dari lahir hingga ajal menjemput itu penuh dengan belajar kan?

 

Temukan Minat Yang Sama

Anak-anak yang hidup dalam 1 rumah, otomatis punya pola pengasuhan yang sama, yang mana ini akan membawa mereka punya kebiasaan hingga minat yang sama. Kalau ada yang bilang, ah beda nih adik sama kakaknya, gak ada sama-samanya kesukaannya. Saya kok bingung ya, karena secara psikologis dan naluriah, si kakak akan menginspirasi adiknya. Meski gak bisa juga 100% sama persis. Toh pasti ada benang merah yang bisa diambil.

Saya sendiri anak bontot dari 6 bersaudara. Benang merah di keluarga kami adalah kesukaan dengan bidang seni. Bapak yang dulu hobby menyanyi dan mendengarkan musik, membuat kami berlima (kakak ke-3 meninggal saat proses kelahirannya) juga memiliki interest yang sama. Lah gimana enggak? Tiap hari dengerin Bapak yang auto nyanyi saat mendengarkan piringan hitam atau radio jadulnya. Hanya saja minat kami anak-anaknya juga gak sama persis. Kakak-kakak saya semua bisa main gitar, saya sendiri yang enggak, eh tapi kalo nyanyi suaranya saya yang paling merdu, at least itu jika dibandingkan kakak-kakak saya yang fals, jangan dibandingin sama Raisa juga lah πŸ˜›

Dari seluruh anak Bapak, saya yang ikut suka nulis seperti beliau. Kakak saya yang pertama, mewarisi leadership dan gaya pidato Bapak yang memukau publik. Kakak saya yang keempat dan kelima, mewarisi kecerdasan Bapak yang diatas rata-rata. Sementara kakak saya kedua, punya ketekunan dan ketelatenan luar biasa ketika mengerjakan sesuatu. Ya intinya, anak-anak yang lahir dari rahim yang sama, pasti punya kesamaan, gak mungkin enggak.

Sama halnya seperti Ical & Sasha, meski dengan karakter Ical yang cenderung calm dan Sasha yang ekspresif, Ical yang lebih suka dan telaten dengan hal-hal detail seperti puzzle, lego, hingga memilih ekskul robotic karena ia memang suka dengan bidang tersebut. Sementara Sasha tipe yang lebih Β spontan dibanding kakaknya yang tipe pemikir dan pembuat rencana. Sasha lebih suka menggambar, bahkan tulisan tangan anak kelas 2 SD ini lebih rapi dibanding kakaknya yang kelas 1 SMP. Dari segambreng perbedaan yang ada, ada benang merah diantara kedua anak ini. Yaitu sama-sama suka musik dan suka tampil. Sepertinya nurun dari Bundanya ini yang “banci tampil” di masa mudanya, wkwkwk.

Disinilah, tugas saya sebagai Ibu untuk memfasilitasi minat mereka, salah satunya dengan ngevlog bareng. Disini mereka bisa berkarya sekaligus tukar ide dan belajar tentang kompromi. Gimanapun juga, kompromi adalah cikal bakal dari kompak. Gimana mau kompak, kalau kerja bareng sama orang lain aja udah gak mau? Gimana mau solid, kalau kompromi aja gak mau? Right?

Minat Ical & Sasha yang juga sama adalah sama-sama suka main dengan kucing. Jadilah tugas merawat kucing juga kami lakukan bersama, mulai dari memberi makan sampai ke membersihkan litter box, saya libatkan mereka berdua, kadang saya dampingi, kadang hanya mereka berdua yang lakukan. Membiarkan mereka belajar bekerjasama juga cara mereka mengerti dengan sekelilingnya.

 

Saling Bicara

Dari sejak Sasha masih di kandungan, saya suka ajak Ical untuk bicara ke adiknya. Hal-hal sederhana aja, seperti “Adikkk, kakak mau sekolah nih”, Β dst. Sebenarnya ini hanya membiasakan ketika nanti ketika adiknya lahir, Ical udah terbiasa berkomunikasi. Alhamdulillah, sekarang ketika Ical 11 tahun dan Sasha 7 tahun, keduanya termasuk yang suka saling ngobrol satu dengan lainnya. Pun termasuk ketika Bundanya ngomel, mereka bisik-bisik membahas strategi supaya Bundanya tenang gak sewot lagi πŸ˜›

Melatih anak-anak saling berkomunikasi satu dengan lainnya, ini membuat mereka paham tentang saudaranya. Kebiasaan ini saya dapatkan dari Ibu saya, yang sering jadi tempat curhat anak-anaknya termasuk saya. Jaman SD dulu, saya ingat waktu kakak-kakak saya yang kuliah di luar kota, pulang sebulan atau seminggu sekali ke rumah, tiap malam mereka masuk kamar, dan cerita segala ke Ibu. Saya nguping dong, meski gayanya seolah-olah tidur, wkwkwk.

Sampai kakak-kakak saya menikah dan punya anak pun, setiap ada apapun di pekerjaan misalnya, rutin cerita ke Ibu, minimal just say hi menanyakan kabar Ibu. Ahhh indahnya, saya melihat ini sebagai buah yang Ibu petik, karena membiasakan kami anak-anaknya untuk saling bicara. Kebiasaan inilah yang saya bawa ke keluarga saya, meski suami punya pola asuh berbeda, lambat laun suami bisa lebih terbuka juga dengan kebiasaan saling bicara ini.

Dengan saling bicara, ini adalah jembatan, supaya lebih saling mengenal dan memahami. Begitu pula untuk hubungan kakak & adik. Per hari ini pun, saya sering ngobrol dengan kakak-kakak ipar membahas banyak hal. Kuncinya adalah keterbukaan, yang bisa membuka kekakuan hubungan antar siapapun.

Jadi kalau ada yang tanya lagi, apa rahasianya bikin kakak adik kompak? Sebenarnya gak ada rahasia ajaib yang wow gimana-gimana, cukup saling bicara dan temukan mereka dalam aktivitas yang sama-sama disukai. Selebihnya memang masih ada PR pendampingan dari kita sebagai orang tuanya. Toh selama manusia hidup, disitulah kesempatan kita untuk terus belajar dan memperbaiki diri kan?Β Pastinya dari tips-tips ini, jangan langsung berharap kakak adik kompak terussss, manisss terusss, duh duh duh kalo ini mah adanya di negeri dongeng sisss πŸ˜€

Istantina atau lebih dikenal sebagai innaistantina, A Lifestyle Blogger asal Jogjakarta. Selain menulis, motret & yoga adalah hobby yang digelutinya. Kenali lebih dekat melalui IG: @innaistantina

19 Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *