Reflection

2019, Bismillah Stop LDR!

Bakda Tahajud, sambil menunggu Subuh, menuliskan tentang apa yang ada di pikiran beberapa bulan bahkan 2 tahun terakhir ini, menjadi merinding sendiri. Karena ini adalah harapan, yang sebagian besar bukan hanya harapan saya, tapi juga suami serta anak-anak. Berbekal dengan tekad kuat dan memohon supaya Allah memberikan kemudahan.

Sejak menikah, saya dan suami belum pernah lama menjalani rumah tangga dalam satu atap. Paling lama ketika suami dinas di Kalimantan Selatan, baru ada Ical, anak pertama kami yang waktu itu masih berusia 2 tahunan. Berada di rantau, jauh dengan keluarga, membuat saya dan suami belajar tentang kemandirian. Saat sedang menikmati hari-hari di pulau Borneo, sambil belajar membangun blog TLD pertama kali, mendadak saya sakit, demam cukup tinggi berhari-hari.

Di hari saya sedang tepar-teparnya, akhirnya saya menyerah dengen telpon Ibu, karena kebetulan suami sedang tugas di luar kota dan butuh beberapa hari perjalanan darat untuk pulang ke rumah.

Sementara saya demam tinggi, dan pikiran saya cuma 1. Ical, gimana nanti makannya kalau sampai terjadi apa-apa sama saya? Maka dengan berat hati, saya telpon Ibu untuk meminta beliau datang. Malu sebenarnya, kenapa masih ngrepotin aja meski sudah menikah. Tentulah Ibu bisa datang lebih cepat dengan pesawat dari Jogja, dibanding suami yang harus menempuh perjalanan darat.

Sore harinya, Ibu langsung membawa saya ke klinik terdekat, dan ternyata saya sakit tipus. Saya kira saya hanya demam biasa, tapi memang pusing begitu luar biasa dan perut sakit melilit bukan kepalang. Ketika di termometer sudah 40 derajat celcius, dan saya sudah tidak bisa konsen lagi dengan apa yang dokter ataupun suster sampaikan ke Ibu.

Intinya saya harus opname saat itu juga. Dirawat di rumah sakit beberapa hari, lalu pulang lagi ke rumah, Ibu dan suami sepertinya tidak tega dengan apa yang sudah saya alami. Sering sendirian di kontrakan karena suami juga banyak dinas di luar kota, ada Ical yang juga butuh perhatian karena belum bisa mandiri. Keputusan pun terjadi, yaitu saya kembali ke Jogjakarta, dan suami tetap di Kalimantan sambil berusaha untuk bisa kerja di Pulau Jawa supaya bisa dekat dengan keluarga.

Kejadian tersebut adalah di tahun 2010, dan setelah berjuang selama beberapa tahun, suami akhirnya bisa kembali bekerja di Jakarta. Tapi dengan serentetan peristiwa yang terjadi di keluarga besar saya, maka kami memutuskan untuk menahan dulu keinginan berkumpul kembali dalam satu atap. 

Tahun ini, di bulan Maret, adalah sebuah momentum, kakak perempuan saya meninggal dunia karena kecelakaan tank di Purworejo saat acara outbound sekolah. Kakak saya dan suaminya, juga pasangan LDR dengan durasi cukup lama. Suami kakak saya, sampai bela-belain untuk resign dini, supaya bisa dekat dengan istri dan anak-anaknya. Ternyata Allah berkehendak lain, ternyata kakak saya meninggal dunia, di saat baru sekitar 1 tahunan berkumpul kembali bersama suaminya.

Hal inilah, seperti pemecut besar saya dan suami. Come on, stop this LDR

Sejak beberapa bulan terakhir ini, kami sedang mengupayakan untuk bisa berkumpul kembali dalam satu atap. Di kota manapun yang Allah ridho. Maka berkaitan dengan hal tersebut ada 5 hal mendasar yang perlu dipersiapkan dan menjadi harapan terbesar di tahun 2019:

1. Punya Rumah (Lagi)

Sebenarnya sebelum kejadian meninggalnya kakak saya, saya dan suami sedang membangun rumah di Jogja, karena semacam sudah tidak kepikiran untuk STOP LDR as a marriage couple. Ketika akhirnya kami punya keputusan baru, maka orientasi pun berubah, yaitu punya rumah di luar jogjakarta. Apakah itu di Jakarta? Ataukah di kota lain tempat suami nanti bertugas selanjutnya? Apakah rumah di Jogja ini baiknya kami jual, kontrakan atau jadikan guest house? Hal-hal inilah yang sedang kami tata saat ini, supaya menghasilkan keputusan yang terbaik

2. Lunas Segala Kewajiban

Yes, rumah di Jogja juga sebenarnya masih ada cicilan yang belum selesai. Di tengah ramainya pembicaraan tentang riba tentang KPR, wallahu alam, kami pasrah lillahi ta’alaa ingin segera melunasi KPR tersebut. Meski melalui Bank Syariah dan dengan cara-cara yang diyakini sebagian pihak itu sudah Islami dan sesuai syariat, tapi tetap saja, punya hutang itu rasanya tidak nyaman.

3. Sekolah Anak-Anak

Ical saat ini berada di kelas 6 SD, jadi memang sebenarnya secara hitungan manusia, ini waktu sangat tepat untuk saya dan anak-anak hijrah mengikuti suami, supaya ketika Ical masuk SMP sudah berada di lingkungan baru. Sasha kelas 1 SD saat ini, meski nantinya kami pindah, artinya mencari sekolah baru.

4.  Karir 

Suami saat ini, sedang berjuang untuk masuk di lini karir barunya, alasannya tentu rasional, supaya mendapatkan penghasilan yang lebih baik, mengingat kebutuhan juga dari hari ke hari tidaklah makin sedikit. Begitu pula dengan saya, mulai merintis kembali aktivitas literasi khususnya di dunia blogger dan penulis online, serta berusaha menembus dunia Voice Over & Dubbing. Saya pribadi, ingin membantu suami lebih banyak secara finansial, tapi tetap dengan fokus mendampingi anak-anak seperti biasa. Itulah kenapa, saya tidak memilih kerja kantoran, tapi melakukan sesuatu sesuai passion.

5. 10K Subscribers

Setelah ikut program untuk update blog dalam one day one post, saya jadi terpikir untuk melakukan hal serupa di channel youtube SADDHA STORY yang sedang saya bangun bersama anak-anak. Menjemput 1K subsriber, yang artinya channel mulai bisa dimonetize, lalu menjemput 10K subsribers di tahun 2019. Tujuannya sederhana, membangun vlog ini artinya membangun masa depan di era digital sekaligus membangun financial freedom bersama keluarga. 

Foto saat di Ketep 2013

Satu hal yang saya yakini, gak ada yang gak mungkin di dunia ini. Gak ada yang kebetulan di muka bumi ini. Setiap hal pasti berjalan sesuai dengan apa yang Allah sudah ridho dalam hidup kita. Harapan demi harapan boleh saja terus bergulir, ditambah dengan usaha dan doa ekstra, maka satu persatu pun bisa kita jemput. Bahkan tiap sholat, anak-anak juga berdoa hal yang sama, yaitu supaya bisa berkumpul bersama. Ridhoilah kami, Ya Allah.

Bismillah!

Istantina atau lebih dikenal sebagai innaistantina, A Lifestyle Blogger asal Jogjakarta. Selain menulis, motret & yoga adalah hobby yang digelutinya. Kenali lebih dekat melalui IG: @innaistantina

2 Comments

  • Sumayyah Tsabitah

    Sama mbak, aku juga pengen cepat-cepat lunasin KPR. Saya akhirnya resign dari pekerjaan supaya ga LDR sama suami dan anak-anak bisa ketemu ayahnya. Banyak manfaat yang saya dapatkan untuk keluarga ketika kami tinggal bersama dibandingkan dulu, Semoa rencana-rencanaya terwujud ya mbak. Untuk 2019 yang lebih baik. Aamiin

  • Annisa krisridwany

    Hi mbak Inna,salam kenal saya Nisa yang ikutan event Azalea shampoo tempo kmrn. Ya Allah mbak semoga dimudahkan semuanya ya untuk bs kumpul bersama suami. Lebih nyaman dan tenang. InsyaAllah Allah berikan jalan keluar terbaik.
    Btw rumah jogjanya di daerah mana mbak? Blm tau ya jdnya dikontrakin apa engga hehee

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *